Pandemi Tak Pengaruhi UMKM Fesyen Celup Warna Alami di Buleleng

Sabtu, 09 Oktober 2021 : 09.57

Owner Pagi Motley, Dewa Ayu Agung Puspita Dewi.menunjukkan produk fesyen celup warna berbahan alami/Do
kabarnusa
Singaraja -  Jika sektor pariwisata umumnya di Bali terdampak pandemi Covid-19 tidak demikian halnya dengan usaha jasa celup warna alami di Kabupaten Buleleng yang relatif stabil bahkan meningkat omset penjualannya.

Salah satu usaha yang konsisten, tekun menggeluti celup berbahan pewarna alam atau organik adalah Pagi Motley berlokasi di Desa Sambiran Kecamatan Tejakula, Buleleng.

Mengembangkan pewarna alami pada kain menjadi karakteristik dari produk-produk fesyen Pagi Motley. UMKM yang berlokasi berdiri tahun 2019 konsisten mengolah warna yang terintegrasi dengan bahan baku alam. 

Pendiri Pagi Motley Made Andika Putra mengungkapkan, pangsa pasar produk fesyen dan bahan baku mulai beralih pada produksi ramah lingkungan atau yang berkelanjutan. 

"Kembali ke alam menjadi pilihan para desainer maupun pecinta fesyen di negara-negara maju," tuturnya kepada rombongan wartawan dalam Media Gathering, Capacity Building digelar Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali.

Ada pangsa pasar di 10 negara diantaranya Amerika maupun Eropa yang utama. Hanya saja, saat ini, negara-negara di Asia seperti Jepang dan Korea pasar yang menjanjikan," ungkapnya Andika di lokasi produksi, Jumat, 8 Oktober 2021.

Dijelaskan, bahan-bahan yang digunakan untuk mewarnai kain mudah ditemukan di sekitar Buleleng.

Sebut saja warna coklat yang diambil dari serabut kelapa yang diolah melalui proses pemasakan sebelum dijadikan bahan pewarna. 

Kemudian, pewarnaan dilakukan melalui beberapa tahapan diantaranya, membersihkan kain dengan pencucian selama satu jam. 

Setelah itu, masuk proses mordan guna membuka pori-pori kain agar mudah menyerap warna. 

"Biasanya kita dapat warnanya empat kali celup, itu bisa lebih efektif hanya 2 sampai 3 kali pencelupan saja. Ini untuk mengurangi proses produksi," jelas pria yang menggeluti usaha ini  bersama sang istri Dewa Ayu Agung Puspita Dewi.

Produksi fesyen celup warna berbahan dasar alami atau organik UMKM Pagi Motley di Tejakula, Kabupaten Buleleng Bali./Dok.Kabarnusa
Meski Pagi Motley memproduksi pakaian jadi dan bahan baku fesyen berupa kain, namun untuk saat ini justru jasa pencelupan menjadi andalannya karena disukai pasar asing.

Bahkan, Korea menjadi peminat terbesar dari pengolahan kain warna alami di Pagi Motley. 

Jika dirata-rata omzet usahanya bisa mencapai Rp 150 juta hingga Rp 200 juta per bulan.

Andika mengungkapkan, kebutuhan jasa pewarnaan alami di masa pandemi justru mengalami kenaikan yang signifikan. Orderan terbanyak berasal dari Korea disusui Amerika Serikat.

"80% penjualannya masih jasa celup, tapi saya juga bikin produk seperti kain tenun," sambung Andika. 

Pihaknya juga produksi untuk kebutuhan artisan di bidang seni. Kita bisa produksi massal tapi tak terlalu banyak, sekitar 100-200 meter per buyer.

Pagi Motley merupakan UMKM binaan Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali ini, mampu melebarkan sayap dengan menembus pasar ekspor. Pagi Motley juga dilibatkan dalam berbagai kegiatan pameran untuk promosi produk. 

Senada disampaikan owner Pagi Motley Dewa Ayu, Puspita Dewi, pihaknya bersyukur dengan pembinaan dilakukan BI Bali bisa lebih mengembangkan kegiatan usahanya.

Bantuan diberikan berupa peralatan produksi sangat menopang kegiatan usaha hingga merambah pasar asing.

"Kami banyak mengikuti event maupun pameran, seminar, bimtek sehingga pasar kami mulai terbuka, terutama ekspor," tuturnya.

Diakuinya pandemi Covid-19 tidak berdampak terhadap usahanya tetap stabil bahkan meningkat dari sisi omset penjualannya.

Pasar luar negeri diakuinya menyukai produk-produk yang unik dan menjaga atau ramah lingkungan dan  suistainable keberlanjutan. Hal itulah yang tetap dijaga dan menjadi komitmen Pagi Motley. 

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Rizki Ernadi Wimanda mengatakan, dukungan BI terhadap UMKM seperti mengikutsertakan dalam pameran hingga mendorong agar pemasaran tidak lagi offline tetapi online seperti melalui marketplace.

"Motley Pagi ini salah satu binaan kita, akan terus dimonitor perkembangannya," imbuh Rizki.

Setelah UMKM bisa mandiri, kegiatan usahanya berkembang maka akan dilepas untuk mencari UMKM lainnya sehingga bisa bergulir pembinaannya. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi