BI Proyeksikan Inflasi di Bali Cenderung Rendah dan Stabil hingga Akhir 2021

Sabtu, 02 Oktober 2021 : 08.20

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho/Dok. Kabarnusa
Denpasar - Bank Indonesia memproyeksikan inflasi yang terjadi diBali sampai dengan akhir tahun cenderung rendah dan stabil.

Pada bulan September lalu, Provinsi Bali mencatat inflasi sebesar 0,10% (mtm), relatif stabil dibanding bulan sebelumnya yang juga mencatatkan inflasi sebesar 0,10% (mtm). 

Secara spasial, inflasi terjadi di Kota Denpasar sebesar 0,19% (mtm), sementara Kota Singaraja mengalami deflasi sebesar -0,45% (mtm). 

Peningkatan tekanan harga terjadi pada kelompok core inflation, sedangkan kelompok administered price dan volatile food tercatat menurun. 

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, scara tahunan, Bali mengalami inflasi sebesar 1,40% (yoy).

"Lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 1,19% (yoy) namun lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 1,60% (yoy)," ungkap Trisno dalam keterangan tertulis Jumat 1 Oktober 2021.

Kemudian, kelompok barang core inflation mencatat inflasi sebesar 0,35% (mtm), terutama disebabkan oleh naiknya harga canang sari. 

Peningkatan harga canang sari seiring dengan meningkatnya frekuensi upacara keagamaan sepanjang September 2021 yang dipercaya sebagai bulan baik bagi masyarakat Bali. 

Beberapa harga kebutuhan pokok lainnya (seperti pipa dan baju kaos berkerah) juga tercatat mengalami peningkatan harga. 

Secara tahunan, core inflation September 2021 tercatat sebesar 0,78% (yoy), meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,65% (yoy), terutama terjadi peningkatan komoditas canang sari.

"Kelompok barang administered price mencatat deflasi sebesar 0,10% (mtm)," sebut Trisno. 

Penurunan harga terutama terjadi pada harga angkutan udara seiring dengan minimnya aktivitas penerbangan ke Bali selama periode PPKM di bulan September 2021. 

Secara tahunan, kelompok administered prices mengalami inflasi sebesar 0,08% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat deflasi sebesar 0,12% (yoy), terutama terjadi peningkatan komoditas rokok kretek filter.

Ditambahkan Trisno, kelompok barang volatile food juga mengalami deflasi sebesar 0,78% (mtm). 

Penurunan harga terutama terjadi pada komoditas cabai rawit, bawang merah, tomat, dan beras seiring dengan terjaganya pasokan yang didukung oleh panen di berbagai daerah sentra produksi. 

Selanjutnya, scara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 5,87% (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 5,18% (yoy).

Terutama terjadi peningkatan komoditas daging ayam ras, minyak goreng, daging babi dan ikan tongkol diawetkan.

Meskipun demikian, program 4K (Ketersediaan pasokan, Keterjangkauan harga, Kelancaran distribusi dan Komunikasi yang efektif) oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tetap terus didorong, terutama melalui digitalisasi UMKM pangan, Kerjasama Antar Daerah, digital farming, dan e-commerce.  (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi