Bertahan saat Pandemi, BI Harapkan UMKM Lokal Terus Berinovasi

Selasa, 05 Oktober 2021 : 10.29


Denpasar-  Bank Indonesia mendorong UMKM lokal agar  terus berinovasi sehingga bisa tetap bertahan pada masa pandemi.

Kepala Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia (BI) Yunita Resmi Sari menjelaskan BI emiliki tiga pilar kebijakan pengembangan UMKM yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan. 

Diakuinya, pandemi Covid-19 telah memberikan dampak negatif yang cukup besar bagi perekonomian UMKM industri kreatif. 

Karena itulah, pada  Senin4 Oktober 2021, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali menyelenggarakan talkshow dengan topik“Breaking Through The Japanese Fashion Industry” sebagai rangkaian acara “Bali Jagadhita Culture Week 2021” (BJCW 2021). 

Acara secara daring dan dihadiri  para peserta kompetisi desain batik, perwakilan Anggota Dharma Wanita se-Indonesia, serta UMKM dari wilayah Bali-Nusa Tenggara.

Talkshow ini selaras dengan event tahunan Bank Indonesia, yaitu Karya Kreatif Indonesia (KKI) yang mengangkat tema “Sinergi, Globalisasi, dan Digitalisasi UMKM dan Sektor Pariwisata.

"Kegiatan BJCW 2021 merupakan wujud nyata pilar kapasitas yang Bank Indonesia laksanakan melalui sinergi dalam upaya mendorong peningkatan akses pasar produk UMKM, baik di pasar domestik maupun luar negeri," tutur Sari dalam keterangan tertulisnya.

Ia melansir hasil penelitian SBM ITB (2020) menemukan bahwa 98% pelaku industri kreatif merasakan dampak negatif dan 67% diantaranya mengalami penurunan penjualan. 

Oleh karena itu, Sari berharap kegiatan ini dapat mendorong UMKM lokal untuk bisa berinovasi dan bertahan di masa pandemi.

Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Tokyo, Nuning Akhmadi menyatakan, industri fesyen di Jepang merupakan salah satu yang terbesar di dunia. 

Pasalnya Jepang merupakan rumah bagi merek fesyen global yang melayani beragam permintaan konsumen, mulai dari pakaian kasual hingga fesyen mewah kelas atas. 

Hal inilah yang menjadikan persaingan industri fesyen di Jepang sangat ketat sehingga produk yang dipasarkan harus unik, berkualitas tinggi, dan modis untuk menarik minat konsumen Jepang.

Karakteristik ini membuat pemasok asing beranggapan bahwa pasar Jepang sangat sulit untuk ditembus. 

Nuning juga menyampaikan bahwa Kimono yang merupakan pakaian tradisional Jepang juga terdampak oleh tren fashion mode barat. 

Hal inilah yang mengakibatkan kimono hanya dipakai di acara-acara khusus. Oleh karena itu, Lomba Desain Batik Indonesia–Jepang diadakan dengan memadukan ragam motif Indonesia dan unsur seni budaya Jepang sehingga warisan budaya fesyen Kimono dapat tetap lestari.

Juga, lanjutnya, masyarakat Jepang dapat mengenal fashion batik yang berasal dari Indonesia.

Beberapa pakar fesyen pada talkshow ini yaitu Naoko Abe (pemenang Desain Batik Indonesia-Jepang), Fusami Ito (perwakilan Cross Cultural Artisan Association), Ichikawa Nami (Owner Kecak Co. Ltd), dan Ririko Takano (Owner of Riri & Dot). 

Ichikawa Nami mengajak UMKM di Jepang maupun di Indonesia untuk melihat potensi keindahan dalam karya batik Indonesia dan memadukkannya dengan kimono. 

Kata Nami, batik kimono sudah banyak digemari oleh pecinta kimono dan biasa digunakan untuk berbagai macam kegiatan di Jepang.

Ririko Takano menambahkan bahwa untuk menembus pasar Jepang yang kompetitif, pengusaha harus mengutamakan sustainability dalam penjualan produknya dimana konsumen jepang gemar membeli produk yang berkelanjutan dalam penjualannya. 

Ririko berharap, dengan adanya talkshow ini, para pelaku usaha mendapatkan pengetahuan mengenai cara menembus pasar fashion di Jepang. (rhm)


 

Bagikan Artikel

Rekomendasi