Sebut Perjodohan Pilpres 2024 Rumit, Ridwan Kamil Akui Baru Miliki Elektabilitas

Jumat, 17 September 2021 : 22.25
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan istri usai menghadiri launching Beli Bali di Rumah Sanur, Denpasar

Denpasar - Nama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil makin menghiasi media menyusul elektabilitas lembaga survei menempatkannya masuk lima besar tokoh yang layak maju sebagai calon Presiden tahun 2024. Namun, Ridwan Kamil mengakui perjodohan di Pemilihan Presiden 2024 cukup rumit.

Saat bincang santai dengan wartawan di Rumah Sanur, Denpasar, usai launching Beli Bali, Ridwan mengaku dirinya tidak terlalu serius saat ini dalam membicarakan Pilpres 2024.

"Saya santai, filosofi politik saya ada dua, pertama tahu diri dan kedua tetap menggunakan akal sehat," tukas Ridwan Kamil Jumat (17/9/2021).

Ia beralasan, dirinya bukan menjadi anggota partai politik sehingga belum pasti, ada yang mengusung namanya di Pilpres mendatang.

Alasan kedua, untuk maju pencapresan, seorang calon harus ditopang modal (finansial) yang kuat. Padahal, dirinya tidak memiliki modal untuk itu.

"Modal belum punya, jadi masih gelap, yang saya punya hanya elektabilitas, kadang ranking lima, empat pernah rangking tiga, naik turun, beda-beda survei" tuturnya. 

Meski demikian, jika nanti takdirnya terbuka, maka dengan mengucapkan bismillah (siap), kalaupun tidak bagi Ridwan Kamil juga tidak menjadi masalah.

"Karena perjodohan 2024 itu rumit, coba wartawan telaah, apakah Pak Ma'ruf Amin melakukan branding-branding untuk menjadi wapres," tanya Ridwan Kamil.

Ma'ruf Amin menjadi wapres pada detik-detik terakhir. Hal itu menunjukkan, perjodohan level nasional tidak sesederhana itu.

Ada yang melakukan branding, pasang macam-macam tahun 2019 ternyata, tidak ikut kontestasi.

Ridwan kembali menegaskan, dua filosofi politiknya itu yang dipegangnya yakni tahu diri dan akal sehat.

Kadang, jika ada hal yang kurang di pemerintahan pusat, dirinya bersuara. Namun, hidup harus begitu, jika akal sehat menyatakan tidak, ya sampaikan tidak, meskipun melawan arus, demikian juga sebaliknya. 

Seiring waktu, kata Ridwan, urusan politik juga masih bergerak dinamis, pasti belum terukur jika dibahas saat ini. (rhm) ***

Bagikan Artikel

Rekomendasi