Permintaan 34 Juta Ekor, BBI Tabanan Hanya Mampu Pasok Enam Jutaan Benih

Senin, 27 September 2021 : 22.15

Ilustrasi benih ikan/Dok.KKP
Tabanan - Permintaan benih ikan sebanyak 34 juta ekor per tahun hanya mampu dipenuhi Balai Benih Ikan (BBI) di Kabupaten Tabanan Bali sebanyak 6 juta benih sehingga masih kekurangan cukup banyak untuk memenuhinya.

Kepala Bidang Pemberdayaan Pembudidaya Ikan, Dinas Perikanan, Kabupaten Tabanan, Ir. I Kade Artina, menyatakan, permintaan pasokan atau penyediaan benih ikan di Kabupaten Tabanan mencapai 34.500.000 ekor benih per tahun.

Faktanya, Balai Benih Ikan yang ada hanya mampu menghasilkan 4 sampai 6 juta benih per tahun dan pembudidaya hanya mampu berproduksi 12 juta benih per tahun.

“Kita baru bisa menyediakan sekitar 15 jutaan. Sedangkan kita masih kekurangan ke sekitar setengahnya atau 50%. Itu pun banyak kita juga mengimpor dari luar Bali” jelas Artina saat pembukaan International Community Service kerjasama Prodi Manajemen Sumber Daya perairan (MSDP) FP Unwar dengan Institute Penyelidikan Marine Borneo Universitas Malaysia Sabah, yang digelar secara hybrid dan dipusatkan di Desa Baru, Marga-Tabanan Senin (27/9/2021).

Karenanya, untuk memenuhi kebutuhan benih ikan, terutama ikan nila, Dinas Perikanan Tabanan menargetkan pengembangan kampung nila.

Tiga desa di Kabupaten Tabanan Bali dikembangkan sebagai kampung ikan nila.

Tiga desa ditetapkan sebagai wilayah kampung nila, yakni Desa Babahan, Desa Tajen dan Desa Baru. Ketiga desa tersebut dipilih karena sudah terkenal sebagai lokasi pembenihan nila.

Selain itu, Desa Marga juga dikembangkan sebagai pusat pembenihan ikan nila di Bali. Berkaitan itu, Fakultas Pertanian (FP) Universitas Warmadewa (Unwar) diminta untuk membantu pengembangan dua desa tersebut.

Kepala Desa Baru Kecamatan Marga, I Made Suarjana berharap kedepannya Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa, bisa menjadi bapak angkat untuk mengembangkan potensi perikanan yang ada.

Menurut Suarjana, dengan adanya pendampingan dari FP-Unwar, khususnya Prodi MSDP para pembudidaya ikan mendapatkan solusi dari permasalahan yang dihadapi di lapangan. Beberapa permasalahan yang dihadapi para pembudidaya ikan nila selama ini diantaranya permasalahan penyakit pada ikan, ketersediaan indukan dan pemasaran.

“Dalam proses pemasaran mudah-mudahan kita punya pangsa pasar selain Batur lagi, yang diharapkan biar bisa keluar Bali. Kalau pemasaran itu belum jelas akan menjadi bumerang bagi petani ikan” ujar Suarjana ” kata Suarjana.

Sejak tahun 2000 pembudidaya  ikan di Desa Baru yang tergabung dalam kelompok Mina Ayu telah menjadi pemasok kebutuhan ikan di Kawasan Batur, Kintamani. Dalam satu bulan rata-rata permintaan benih ikan mencapai 5 juta ekor, tapi yang mampu terpenuhi hanya 2 juta ekor.

Pihaknya berharap FP Warmadewa berperan dalam pengembangan kampong nila. Perannya dapat dalam bentuk adaptasi teknologi sehingga mampu meningkatkan kemampuan produksi para pembudidaya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Rektor Unwar, Prof.dr. I Dewa Putu Widjana mengatakan pengabdian, khususnya pengabdian kepada masyarakat berskala internasional saat ini menjadi kebutuhan.

Bagi dosen di Indonesia, pengabdian masyarakat merupakan bagian integral yang harus dilakukan sebagai bagian integral dari Tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

“Bahkan sekarang ini pengabdian masyarakat wajib diintegrasikan ke sektor pendidikan yaitu makin hari kegiatan pengabdian kepada masyarakat di samping penelitian itu menjadi sangat penting sekali khususnya pengabdian yang bersifat internasional” papar Widjana.

Dekan Institute Penyelidikan Marine Borneo Universitas Malaysia Sabah-Prof Madya Ts Dr. Sitti Raehanah Muhd Shaleh mengungkapkan ide Fakultas Pertanian, Universitas Warmadewa untuk menggagas kegiatan pengabdian kepada masyarakat berskala internasional merupakan ide  yang brilian.

Mengingat selain dapat membangun kerjasama pendidikan dan penelitian juga menjadi bagian dalam mempererat persaudaraan dua negara antara Indonesia dan Malaysia.

Sitti Raehanah berharap kerja sama dalam bidang perikanan kedepan tidak hanya sebatas untuk pengelolaan air tawar, khususnya ikan nila.

Kerjasama kedepan juga diharapkan dapat terkait dengan bidang kelautan, karena kedua negara baik Indonesia dan Malaysia dikelilingi oleh laut. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi