Pengganti Colok Hidung, Metode Kumur BioSaliva Gargle VTM Diklaim Mampu Deteksi Covid-19

Sabtu, 11 September 2021 : 07.33
Sharlini Eriza Putri (Tengah) dan Vincent Kurniawa (Kiri) Founder Nusantara Genetics (Nusantics) menunjukkan alat pemeriksaan COVID-19 dengan metode kumur/Dok. KSP.

Jakarta- Metode Kumur yang diberi nama BioSaliva Gargle VTM diklaim memiliki tingkat akurasi hingga 90 persen dalam mendeteksi virus corona atau Covid-19.

Alat pendeteksi Covid-19  dengan metode kumur (Gargling) merupakan karya  Sharlini Eriza Putri dan Vincent Kurniawan, dua anak muda bertalenta di bidang bioteknologi.

Dua founder Nusantara Genetics (Nusantics), sebuah perusahaan rintisan lokal di bidang tehnologi genomika ini mengklaim metode kumur memiliki akurasi 90 persen. 

Kata Sharlini Eriza, metode Kumur yang kami beri nama BioSaliva Gargle VTM ini, bisa menjadi alternatif bagi masyarakat yang tidak nyaman dengan metode colok hidung. 

"Tes kumur ini tidak ada bedanya dengan PCR sebagai standar emas deteksi Covid-19 Tingkat akurasinya 90 persen,” jelas Sharlini saat audensi bersama Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, di gedung Bina Graha Jakarta, Jum’at (10/9/2021). 

Sharlini yang juga CEO Nusantics menguraikan cara pemeriksaan Covid-19 dengan metode kumur.  

Sebelum melakukan tes ini, tidak boleh makan minum dulu satu jam sebelumnya. 

"Kumurnya di tenggorokan bukan di mulut, jadi kepala harus mendongak ke atas dan harus ada suara,” terang Sharlini sambil mempraktikkan cara metode kumur.

Alumnus Imperial College London ini mengakui, metode kumur lebih efektif dan efisien, serta tidak membutuhkan banyak tenaga kesehatan (nakes) dalam pelaksanaannya. 

“Metode ini bisa dilakukan sendiri. Tinggal nanti hasil tesnya dibawa ke layanan kesehatan untuk diperiksa menggunakan mesin PCR,” Sharlini menguraikan. 

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengapresiasi iInovasi alat deteksi Covid-19 dengan metode kumur ini

Terobosan ini harus segera disosialisasikan dan dimanfaatkan untuk masyarakat. Inovasi masa depan seperti ini tidak boleh berhenti. Hanya saja, persoalannya belum banyak orang mengerti tentang metode ini.

Untuk itu, perlu ada sinergi dengan lembaga – lembaga negara terkait,  untuk bisa mengeksplorasi temuan ini. 

Diperlukan partner seperti BPPT atau LIPI, seehingga menjadi nasional dan dipahami dan dimanfaatkan oleh publik.

Kata Moeldoko, KSP siap memfasilitasi hasil cipta para anak-anak bangsa, terutama di bidang bioteknologi, seperti yang dilakukan Nusantics. (rhm)
Bagikan Artikel

Rekomendasi