Pascapenyerangan Puskesmas Kiwirok, IDI Ingin Jaminan Keamanan Nakes di Papua

Minggu, 19 September 2021 : 20.46

ilustrasi saat Satu SSK Brimobda Polda Bali dikirim BKO ke Papua tahun 2017/Dok.Polda Bali
Jayapura - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Papua mengharapkan jaminan keamanan bagi tenaga kesehatan pasca-penyerangan di Puskesmas Kiwirok Pegunungan Bintang Provinsi Papua.

Untuk itu, IDI telah bersurat pada Gubernur Papua untuk meminta jaminan keamanan dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusatm

Hanya saja, hingga saat ini belum mendapat tanggapan.

Diketahui, aksi penyerangan, pembakaran,  dan penembakan terhadap tenaga kesehatan di Puskesmas Kiwirok, Pegunungan Bintang, Provinsi Papua pada awal pekan ini terjadi pada 13 September 2021) yang mengakibatkan sejumlah tenaga kesehatan terluka dan bahkan ada yang meninggal dunia.

Ketua IDI Wilayah Papua, dr Donald Aronggear, SpB(K) menyampaikan,  sebanyak 9 tenaga kesehatan yang bertugas di distrik Kiwirok yaitu: dr. Restu Pamanggi, Marselinus Ola Attanila, Manuel Abi, Martinus Deni Satya, Lukas Luji, Patra, Siti Khodijah, Katrianti Tandila, dan Christina Sampetonapa sudah dievakuasi ke Jayapura.

 "Semuanya saat ini sedang dalam penanganan medis dan psikis untuk trauma yang dialami," tuturnya dalam keterangan tertulis Minggu (19/9/2021).

Disebutkan, kondisi dr Restu Pamanggi yang mengalami fraktur di bagian tangan sudah dioperasi dan sedang dalam proses pemulihan secara medis seraya menjalani pemeriksaan psikis untuk pemulihan secara mental.

Kemudian, jenazah Suster Gabriela Meilani yang meninggal akibat penyerangan tersebut sudah diangkat dari jurang dan ditempatkan di lokasi perlindungan terdekat di Kiwirok seraya menunggu evakuasi.

Pada bagian lain, Donald mengungkapkan, proses evakuasi jenazah oleh helikopter TNI terkendala oleh cuaca yang kurang baik serta penembakan.

Kata dia, seluruh pelayanan kesehatan di wilayah Kiwirok, Oksibil, dan Pegunungan Bintang saat ini dihentikan seraya menunggu jaminan keamanan dari pemerintah untuk para tenaga kesehatan yang bertugas.

“Kami meminta pada seluruh pihak untuk memberikan privasi bagi para tenaga kesehatan yang menjadi korban penyerangan tersebut karena masih mengalami trauma,” tegas dr Donald Aronggear, SpB(K).

IDI Papua juga menyampaikan terimakasih atas bantuan dan Kerjasama dari TNI dan Polri di Papua yang telah membantu mengevakuasi, menyediakan fasilitas transportasi, dan masih banyak lagi terhadap para korban.

Pihaknya berharap agar segera ada jawaban dari pemerintah provinsi dan pusat untuk penanganan masalah ini, supaya aktivitas melayani masyarakat terutama di wilayah pedalaman bisa segera dilanjutkan.

"Agar masyarakat yang membutuhkan penanganan kesehatan segera bisa ditangani,” harapnya.(*/rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi