OJK Perpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit Perbankan hingga Akhir Maret 2023

Rabu, 08 September 2021 : 18.56
Ketua Dewan Komisomer OJK Wimboh Umboh menyampaikan perpanjangan POJK 11/POJK.03/2020 yang menjadi POJK 48 saat konferensi pers melalui webinar./Dok.Kabarnusa
Jakarta
- Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyampaikan relaksasi restrukturisasi kredit perbankan diperpanjang hingga 31 Maret 2023.

“OJK bersama Bank Indonesia dan pemangku kepentingan lainnya terus mencari cara lain agar kita bisa bertahan dalam kondisi apapun bahkan sudah mulai berkembang mempercepat proses pertumbuhan ,” katanya dalam konferensi pers melalui webinar, Rabu (8/9/2021).

Wimboh menyampaikan perpanjangan POJK 11/POJK.03/2020 yang menjadi POJK 48 diperlukan agar ada kepastian bagi para pengusaha untuk mengatur likuiditas dan kebijakannya dalam rangka tetap bisa bertahan dan mengalami pemulihan yang lebih cepat.

Hal ini sejalan dengan UU Nomor 2 Tahun 2020 yang mengharapkan kondisi perekonomian sudah pulih kembali pada 2023 termasuk terkait defisit anggaran yang harus kembali ke 3 persen.

“Kita harapkan pada 2023 sudah normal kembali semuanya dan untuk itu ini perpanjangan menjadi 2023 sangat relevan" ujarnya.

Perpanjangan relaksasi restrukturisasi kredit ini juga memberikan waktu kepada perbankan untuk membentuk cadangan yang cukup.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Heru Kristiyane menyampaikan  perpanjangan relaksasi restrukturisasi kredit harus dilakukan mengingat pandemi COVID 19 belum selesai, bahkan bermunculan varian baru Delta.

la menjelaskan, perpanjangan ini dilakukan untuk menjaga momentum perbaikan kinerja, menjaga stabilitas kinerja perbankan sekaligus menghindari potensi gejolak saat POJK 48 berakhir.

"POJK 48 perlu diteruskan supaya kita bisa menjaga momentum yang kemarin di kuartal pertumbuhan ekonomi kita sudah cukup baik di 7,07 persen dan stabilitas perbankan juga masih terjaga" katanya.

Selain itu, perpanjangan juga dilakukan sebagai bagian dari kebijakan Counter cyclical dan menjadi salah satu factor untuk menopang kinerja debitur, perbankan, serta perekonomian secara umum

Counter cyclical artinya mengambil pendekatan sebaliknya, yaitu mengurangi pengeluaran dan menaikkan pajak selama ekonomi sedang booming, serta meningkatkan pengeluaran dan memangkas pemungutan pajak ketika sedang dalam masa resesi. (Miftach Alifi)
Bagikan Artikel

Rekomendasi