Megawati Sebut Pemda Masih Tak Acuh dengan Pusat dalam Sinergi Penanggulangan Bencana

Rabu, 29 September 2021 : 07.46

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri/Dok. Kabarnusa
Jakarta-  Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyatakan pemerintah daerah masih tak acuh dengan pemerintah pusat dalam sinergi atau berbagai upaya koordinasi penanggulangan bencana.

Presiden RI ke-5 ini meminta agar peran pemerintah daerah lebih aktif dan bersinergi dengan Pemerintah Pusat. 

Sebab, penanggulangan bencana tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya bentuk sinergi tersebut.

“Pemda masih tak acuh atas apa yang disampaikan oleh pusat. Lanjutkan apa yang saya katakana ini”, ujar Megawati pada pembukaan pelatihan Dasar Manajemen Bencana dan Pengendalian Operasi Pencarian dan Pertolongan bagi para relawan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) tingkat provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia melalui metode 'hybrid learning' secara media daring, Selasa (28/9/2021)..

Megawati kemudian mengambil contoh bagaimana penanganan banjir Bengawan Solo kepada Wakil Walikota (hadir pada saat itu) agar Bengawan Solo ditata dengan rapi dengan system gotong royong.

Di samping itu, bagi masyarakat yang tinggal di daerah gempabumi, Megawati menyarankan perlunya menyiapkan tas siaga di pintu-pintu rumah, agar tidak ada korban jiwa apabila terjadi bencana atauzero victim.

Pada acara pembukaan ini Megawati menyambut baik kegiatan pelatihan penanggulangan bencana seperti yang akan dilaksanakan antara BNPB, BNPP, BMKG dan Baguna. 

Bentuk sinergi yang diimplementasikan melalui kegiatan pelatihan itu bahkan sudah lama dinanti saat Megawati menjabat sebagai Wakil Presiden RI.

Megawati mengaku belum ada gerakan penanggulangan bencana yang memadai. 

Padahal menurut dia, bencana sifatnya sangat dekat dengan masyarakat. Oleh sebab itu, Megawati berharap agar penanggulangan bencana kemudian menjadi budaya yang melekat di kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pelatihan BNPB, BNPP dan Baguna ini telah lama saya nanti-natikan. Waktu saya menjadi Wapres, penangganan bencana sangat  kurang memadai. 

Hingga saat ini, pananganan bencana masih banyak yang bersifat reatif dan kurang persiapan. 

"Penanggulangan bencana harus bisa menjadikan budaya bangsa untuk menyiapkan tanggap darurat, reaksi cepat dan tepat sararan”, ucapnya.

Selain penanggulangan bencana, Megawati juga menyampaikan bahwa peralatan peringatan dini atau 'early warning system' harus bisa memberikan informasi yang akurat ke masyarakat.

Di sisi lain, 'local system' dengan memperhatikan budaya setempat harus menjadi perhatian serius semua pihak. Dalam hal ini, masyarakat harus mendengar apa yang disampaikan oleh pemerintah, sehingga pelatihan masyarakat menjadi penting.

"Kepala BNPB dan BNPP harus meningkatkan pelatihan dan memperbaharui system yang ada saat ini. Kata kuncinya adalah “terkoordinir”’, lanjutnya.

Dengan mengikuti pelatihan penanggulangan bencana bersama BNPB dan BNPP, Megawati juga meminta agar relawan Baguna lebih siap untuk ditugaskan dalam kondisi kritis. 

Relawan Baguna harus mampu mencari solusi dari segala hal tantangan dan rintangan dalam penanggulangan bencana.

“Baguna harus siap ditugaskan pada kondisi yang tidak memungkinkan. Waktu bencana Palu, saya perintahkan Baguna untuk memasuki wilayah Palu dengan mengikuti jalan-jalan tikus karena tidak bisa diakses dari udara, laut dan darat”, kata Megawati.

Dalam rangka menunjang percepatan penanggulangan bencana, Megawati menekankan agar BNPB membuat pengadaan peralatan dan bantuan yang berkualitas. 

Megawati menitipkan pesan agar gelaran pelatihan penanggulangan bencana juga berpihak kepada masyarakat dan membudayakan penanganan bencana mulai dari tanggap darurat, reaksi cepat dan tepat sasaran. 

“Mari tingkat masyarakat yang berbudaya pada penanganan bencana  tanggap darurat, reaksi cepat dan tepat sasaran agar masyarakat ikut eager dalam penanggulangan bencana” tandas Megawati.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) memberikan pelatihan Dasar Manajemen Bencana dan Pengendalian Operasi Pencarian dan Pertolongan bagi para relawan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) tingkat provinsi, kabupaten/kota di seluruh Indonesia melalui metode hybrid learning.

Penyelenggaraan pelatihan dasar manajemen bencana itu juga melibatkan peran serta dan sinergi antara BNPB dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP) dan Badan Penanggulangan Bencana PDIP (Baguna).

Kepala BNPB Ganip Warsito menyatakan, selain dapat memupuk persatuan dan kesatuan, pelatihan dasar manajemen bencana tersebut juga sangat penting karena memiliki tujuan untuk meningkatkan kompetensi pengetahuan dan keterampilan dalam penanggulangan bencana.

“Pelatihan ini sangat penting, karena bertujuan untuk meningkatkan kompetensi, baik dalam bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap Baguna dalam penanggulangan bencana pada masa pandemi COVID-19,” kata Ganip. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi