Mahasiswa UNY Rancang Pengembangan 'Sky Trem' sebagai Transportasi Umum Ramah Lingkungan

Rabu, 01 September 2021 : 15.28

Sky Trem adalah kereta gantung yang bertenaga listrik dan menerapkan Internet of Things (IoT)/Dok. Cecep.
Yogyakarta - Tim Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM-GFK) Universitas Negeri Yogyakarta menggagas rancangan pengembangan 'Sky Trem ' yang merupakan kereta gantung bertenaga listrik dan menerapkan Internet of Things (IoT).

Daerah Istimewa Yogyakarta, salah satu kota terpopuler di Indonesia ini memiliki berbagai julukan diantaranya disebut sebagai kota pelajar, kota budaya, dan kota pariwisata.

Kondisi itu mengakibatkan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipenuhi oleh pendatang baru dari segala penjuru, ada yang sekedar berwisata pun ada yang menetap beberapa waktu untuk menempuh pendidikan dan bekerja.

Masuknya pendatang baru ke DIY menyebabkan bertambahnya penduduk dan juga bertambahnya volume kendaraan pribadi di kota ini. Hal itu turut menimbulkan permasalahan transportasi berupa kemacetan dan terjadinya peningkatan jumlah emisi gas buang dari transportasi.

Untuk itu, diperlukan sebuah transportasi umum yang berkelanjutan di kota ini untuk menyelesaikan permasalahan transportasi tersebut. Sebenarnya, Pemerintah Daerah DIY telah menghadirkan Trans Jogja sebagai solusinya.

Hanya saja, Trans Jogja belum menjadi solusi yang tepat dan belum menjadi pilihan masyarakat.

Berangkat dari permasalahan tersebut, tim Program Kreativitas Mahasiswa Gagasan Futuristik Konstruktif (PKM-GFK) Universitas Negeri Yogyakarta yang terdiri dari Cecep Wahyu Cahyana (S1 Teknologi Informasi), Prawesti Eka Listyaningrum (S1 Akuntansi), dan Reyhan Aditya Adam (S1 Pendidikan Teknik Mekatronika) serta Nurkhamid, M.Kom., Ph.D. selaku dosen pembimbing mengembangkan gagasan di bidang transportasi umum yang ramah lingkungan dan anti kemacetan dalam bentuk tayangan audio visual atau video.

Judul yang diangkat adalah “Sky Trem: Pengembangan Transportasi Ramah Lingkungan guna Mengatasi Masalah Kemacetan dan Mendukung Terwujudnya Smart City di Wilayah Yogyakarta”.

Cecep selaku ketua tim mengungkapkan bahwa Sky Trem adalah kereta gantung yang bertenaga listrik dan menerapkan Internet of Things (IoT).

"Dalam pengembangan transportasi ini akan berbasis lokal genius yang mempertimbangkan nilai-nilai filosofis budaya yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta," sambungnya, Selasa 31 Agustus 2021.

Selain itu, Sky Trem akan terintegrasi dengan moda transportasi lain seperti Trans Jogja. Lalu, transportasi ini akan memanfaatkan ruas-ruas lahan kosong pinggir jalan dan trotoar sebagai jalur lintasannya.

“Saat kami melakukan Focus Group Disscussion (FGD) dengan Dinas Kebudayaan DIY dan Dinas Perhubungan Provinsi DIY, Ibu Dian Lakshmi Pratiwi selaku Kepala Balai Sumbu Filosofi Dinas Kebudayaan DIY memaparkan bahwa Pemerintah DIY berencana untuk mengembangkan objek yang ada di luar pusat kota," tuturnya dalam keterangan tertulis diterima Kabarnusa.com.

Sumariyoto selaku Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Provinsi DIY juga mengungkapkan, Sky Trem seharusnya selain berfokus untuk transportasi umum namun juga digunakan sebagai experience tourism.

Maka, Sky Trem ini selain menjadi transportasi umum untuk mobilitas masyarakat yang mendukung rencana pemerintah DIY tersebut, dirancang pula untuk mampu digunakan sebagai experience tourism”, ungkap Prawesti.

Reyhan selaku anggota dua, menerangkan, Sky Trem akan membawa motif batik kawung dan Tugu Jogja sebagai ornamen pada Sky Trem dan akan menerapkan warna hijau dan kuning yang merupakan warna khas dari Keraton Yogyakarta.

Sky Trem terdiri dari dua gerbong dengan laju kecepatan sebesar 30 km/jam dan menerapkan transportasi tanpa awak dengan ketepatan waktu hingga 99%.

Selain itu, Sky Trem akan menerapkan sensor yang membuat trem berhenti secara otomatis ketika sampai di stasiun dengan memberikan sinyal dari jarak 100 meter sebelum stasiun. Lalu, Sky Trem ini juga akan dilengkapi dengan aplikasi pendukung.

Hadirnya Sky Trem diharapkan mampu mengatasi masalah kemacetan dan polusi udara serta mendukung terwujudnya Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi smart city yang berbasis budaya.

Tentunya,  dengan memenuhi indikator smart transportation dan menjawab tujuan SDG's 2030 ke-11 tentang “Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan” poin 11.2 “ketersediaan sistem transportasi yang terjangkau, aman, mudah diakses, dan berkelanjutan untuk semua”. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi