KKP Teliti Serangan Penyakit Ikan Nila Budidaya di Bantul

Jumat, 24 September 2021 : 10.35

Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM)meneliti penyakit yang menyerang ikan nila di bantul./Dok
HUMAS BKIPM

 Yogyakarta
-  Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Yogyakarta meneliti penyakit yang menyerang  ikan nila yang terjadi di pembudidaya Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Kemarin kita pantau di dua lokasi yaitu Pokdakan Mina Dompol Sejahtera  dan Balai Benih Udang Galah (BBUG) Samas," terang Kepala SKIPM Yogyakarta, Hafit Rahman dilansir dari siaran pers, Jumat (24/9/2021).

Hafit mengungkapkan, dalam kegiatan tersebut dilakukan pengambilan sampel, di Pokdakan Mina Dompol Sejahtera Tim memeriksa benih ikan lele dan dilakukan uji aeromonas salmonicida, yersinia ruckeri, edwardsiella ictaluri dan parasit.

Selain itu, benih ikan nila diuji aeromonas salmonicida,  edwardsiella ictaluri, streptococcus agalactiae, yersinia ruckeri,  virus tilapia lake virus, SVC, VNN dan parasit.

"Kemudian untuk ikan koi dilakukan uji aeromonas salmonicida, yersinia ruckeri, koi herpes virus, spring viraemia of carp (SVC))," sambungnya.

Sementara di BBUG Samas, Tim mengambil sampel induk udang galah dan dilakukan uji MrNV (Macrobrachium rosenbergii Noda Virus), White Spot Syndrome Virus (WSSV), IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). Perlakuan yang sama diterapkan untuk benur udang galah.

"Di lokasi kolam budidaya juga dilakukan uji kualitas air berupa pH dan suhu air kolam pemeliharaan," terang Hafit.

Tak hanya mengambil sampel, Tim SKIPM juga melakukan pemantauan serta pendataan terkait asal ikan, padat tebar, kapasitas produksi, hama dan wabah di lokasi sekitar.

"Semoga upaya ini bisa meminimalisir penyakit ikan dan berdampak pada hasil panen yang maksimal," tutupnya.

Sebelumnya, Menteri Trenggono menerbitkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17 Tahun 2021 tentang Penetapan Jenis Penyakit Ikan Karantina, Organisme Penyebab, Golongan, dan Media Pembawa.

Regulasi ini menjadi bagian dari pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit ikan karantina yang kian berkembang. Dalam regulasi ini, menyebut terdapat sejumlah virus, bakteri, parasit dan jamur yang dibagi dalam kelompok pisces, crustacea, mollusca, dan amphibia.

Selain itu, Menteri Trenggono juga telah mengingatkan jajarannya untuk memperhatikan faktor keberlanjutan sumber daya perikanan nasional.

Kebijakan ini sesuai dengan amanah pertemuan 14 Kepala Negara/Pemerintahan dalam forum High Level Panel on Sustainable Ocean Economy (HLPSOE) dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TBP) atau Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-14 (life below water).(Miftach Alifi)

Bagikan Artikel

Rekomendasi