Beroperasinya Mall di Bali Bergantung Indikator Pendukung Penurunan PPKM dari Level 4

Sabtu, 04 September 2021 : 18.38

Wagub Cok Ace di sela peninjauan kesiapan mall sebelum kembali di buka, di Beachwalk-Kuta, Badung, Sabtu (4/9/2021)/Dok.Humas Pemprov Bali

Badung- Pembukaan mal-mal besar di Bali sangat tergantung indikator dari kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang diharapkan bisa turun dari level 4.

Wakil Gubernur Bali Tjok. Oka Artha Ardhana Sukawati mengatakan bahwa pemerintah Provinsi Bali terus berupaya agar penularan Covid-19 ditengah pandemi segara dapat dihentikan. 

Untuk itu, pihaknya belum berani berjanji secara langsung terkait kapan akan di bukanya kembali empat belas (14) mall besar di Bali ini.

"Kami terus berupaya agar indikator pendukung menurunnya level 4 di Bali dapat tercapai," tegas Cok Ace di sela peninjauan kesiapan mall sebelum kembali di buka, di Beachwalk-Kuta, Badung, Sabtu (4/9/2021).

Oleh sebab itu pihaknya meminta agar semua pihak turut mendukung untuk selalu menerapkan protokol kesehatan secara disiplin kapanpun dan dimanapun berada. 

"Bagi kita semua tentu sudah lelah dengan kondisi seperti saat ini. Ruang gerak yang terbatas menyebabkan roda perekonomian ikut terkena dampak," ucap Wagub Cok Ace.

Wagub melanjutkan, apabila  memaksakan diri untuk berbaur tanpa menerapkan protokol kesehatan, maka diri sendirilah dan keluarga terdekat yang akan merasakan dampak dari virus tersebut. 

"Oleh sebab itu mari bersama kita jaga dan lindungi diri dari paparan Covid-19, agar semua aktivitas seperti sedia kala dapat dilaksanakan," ungkapnya.

Dari pengamatannya saat peninjauan kesiapan mall, Wagub Cok Ace mengatakan khusus untuk Beachwalk Mall sudah terlihat jelas penyediaan protokol kesehatan sebelum masuk mall, yakni mulai dari pengecekan suhu tubuh, wastafel untuk mencuci tangan.

Kemudian, barcode peduli lindungi sebagai alat validasi pengunjung sudah melakukan vaksinasi yang merupakan salah satu syarat diperbolehkannya masuk ke mall.

Secara nasional untuk melindungi pengunjung dan juga penyedia layanan dari penularan Covid-19, wajib diberlakukan transaksi pembayaran menggunakan non-tunai atau QRIS.

Aplikasi pembayaran QRIS ini sudah di dukung oleh perbankan yang ada di Bali, yakni melalui M-Banking yang bisa di download di telepon seluler, tersedia juga pada pembayaran di aplikasi Gopay, OVO dan DANA.

"Aplikasi nirsentuh (QRIS) ini bisa digunakan untuk mengurangi penularan Covid-19, ke depan kita hanya akan fokus menggunakan handphone pribadi yang ada di genggaman tangan kita saja. 

Sehingga sentuhan dengan orang lain dan barang dapat dihindari seoptimal mungkin," imbuh Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bali Trisno Nugroho yang juga hadir mendampingi Wakil Gubernur Cok Ace.

Dari target 360 ribu, khusus untuk wilayah Bali terdaftar sebanyak 280 ribu merchandise yang menggunakan QRIS, sehingga Bali menduduki posisi ke tujuh (7) dari 34 Provinsi se-Indonesia pengguna QRIS, dalam upaya mewujudkan transaksi nirsentuh.

Selain menghindari Penularan Covid-19 melalui sentuhan, penggunaan QRIS juga dimaksudkan untuk menghindari kembalian rupiah yang diganti dengan permen dan juga menghindari beredarnya uang palsu ditengah masyarakat.

Selain mall besar QRIS juga dapat disiapkan oleh pedagang yang ada di pasar tradisional.

Penerapan aplikasi "Peduli Lindungi" sebagai syarat masuk mall untuk memastikan pengunjung tersebut sudah melakukan vaksinasi, selain untuk mempercepat pengecekan, aplikasi ini juga menunjukkan data yang valid, disamping adanya kejadian pemalsuan surat PCR.

 Apabila semua sudah ada di genggaman kita, maka semua akan lebih mudah, lebih cepat dan lebih terjamin.

"Sedangkan apabila ada hal yang kurang tentu kita semua stakeholder terkait akan segera melakukan pembenahan agar perputaran ekonomi bagi masyarakat Bali dapat kembali pulih dan normal," imbuhnya. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi