Begini Pengakuan Lengkap Pegawai KPI yang Alami Dugaan Perundungan dan Pelecehan

Kamis, 02 September 2021 : 14.46

Ilustrasi pelecehan/Istimewa
Jakarta -  Setelah sekian tahun memendam derita akibat perlakuan rekan kerja akhirnya MS seorang pegawai pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat membeberkan peristiwa dugaan pelecehan dan perundungan yang dialaminya.

Keputusan membeber peristiwa pahit itu setelah tidak kuat lagi menerima perundungan dan pelecehan yang terus menerus dilakukan teman-teman kerjanya sejak menjadi pegawai tahun 2011.

Kata MS, dirinya kerap diperbudak, penghinaan hingga mendapatkan kekerasan verbal dan non verbal oleh 7 teman-temannya yang sebagai besar ada pada satu divisi.

Setelah berkonsultasi dengan temannya yang berprofesi sebagai pengacara serta aktivis LSM, MS berkisah kejadian yang memunculkan trauma berkepanjangan itu.

Dalam kisahnya, MS menulis judul "Tolong Pak Jokowi, Saya Tak Kuat Dirundung dan Dilecehkan di KPI, Saya Trauma Buah Zakar Dicoret Spidol oleh Mereka".

"Iya benar tulisan saya, kak," kata MS melalui pesan singkat kepada Suara.com, Rabu (1/9/2021).

MS mengaku tidak tahu sudah berapa kali para pelaku melakukan pelecahan, pemukulan, makian hingga perundungan.

Sebagai pegawai baru, ia tidak bisa bertindak banyak terlebih MS hanya seorang diri yang harus melawan pelaku dengan jumlah banyak.

"Perendahan martabat saya dilakukan terus menerus dan berulang ulang sehingga saya tertekan dan hancur pelan pelan," ujarnya.

Selama 2 tahun, MS diperbudak oleh seorang pelaku berinisial RM yang bekerja di Divisi Humas bagian Protokol di KPI Pusat. MS diminta untuk membelikan makan oleh pelaku secara terus menerus.

Menurutnya kedudukan dengan pelaku itu setara dan MS bukan lah seorang office boy yang memiliki tugas untuk membelikan makan bagi pegawai.

"Tapi mereka secara bersama sama merendahkan dan menindas saya layaknya budak pesuruh," ucap MS seperti dikutip dari Suara.com Kamis (2/9/2021).

Selain itu, MS juga menerima tindakan tidak terpuji lainnya secara bergantian oleh pelaku seperti kepala, tangan, dan kaki MS dipegang oleh pelaku secara beramai-ramai. Pelaku bahkan menelanjangi dan mencorat-coret testikel MS dengan spidol.

Setelah itu, salah seorang pelaku CL memotret alat kelamin MS yang sudah dicorat-coret.

Pada tahun 2015, Perlakuan pelaku itu membuat MS sangat ketakutan terlebih kepada foto tersebut yang dikhawatirkan akan tersebar luas.

"Saya tidak tahu foto yang masuk kategori pornografi itu sekarang disimpan di mana, yang jelas saya sangat takut jika foto tersebut disebarkan ke publik karena akan menjatuhkan nama baik dan kehormatan saya sebagai manusia," ungkapnya.

Pada 2016, MS merasakan adanya perubahan pola mental. Ia merasa stres, hina, trauma berat namun di sisi lain ia juga tidak bisa mengundurkan diri dari pekerjaan karena masih harus mencari nafkah.

MS mengaku kerap kali berteriak-teriak pada tengah malam. Itu disebabkan dari pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pelaku terus menghantui MS.

Akibat stres MS menjadi sering jatuh sakit. Keluarganya pun kerap mendapatkan imbasnya ketika MS sering tiba-tiba menggebrak meja tanpa alasan dan berteriak tanpa alasan.

Kemudian, pada 8 Juli 2017, MS mendatangi Rumah Sakit Pelni untuk menjalani pemeriksaan kesehatan endoskopi. Dari hasilnya terlihat kalau MS mengalami hipersekresi cairan lambung akibat trauma dan stres.

11 Agustus, MS mengadukan pelecehan dan penindasan ke Komnas HAM melalui email. Komnas HAM pun membalas email MS pada 19 September 2017.

Komnas HAM menyimpulkan kalau apa yang dilakukan pelaku terhadap MS merupakan tindak pidana sehingga harus diteruskan ke pihak kepolisian.

Pada tahun yang sama, MS sempat mendatangi psikiater di Rumah Sakit Sumber Waras, Jakarta Barat. Dari situ ia diberikan obat penenang selama 1 pekan.

Selanjutnya, 2018 lantaran tidak kuat menahan perundungan dan makian, MS sering memilih untuk menyendiri di musala kantor usai tugasnya selesai hanya demi mengeluarkan air matanya.

"Mereka terus merundung dengan kata-kata kotor dan porno seolah saya bahan hiburan mereka," ucapnya.

Namun dikarenakan dimarahi oleh sang ibu, MS pun kembali ke kantor untuk ke kantor.

MS berangkat untuk mengadukan tindakan para pelaku ke Polsek Gambir, Jakarta Pusat tahun 2019.

Kala itu MS malah diminta petugasnya untuk mengadukan terlebih dahulu kepada atasan supaya permasalahannya diselesaikan secara internal

"Tapi petugas malah bilang, "Lebih baik adukan dulu saja ke atasan. Biarkan internal kantor yang menyelesaikan"," ucapnya.

Meski begitu, MS mengikuti saran dari petugas di Polsek Gambir untuk mengadukan apa yang dialaminya ke atasan. Sembari menangis, ia menceritakan semua perilaku tidak terpuji dilakukan oleh 7 teman-temannya.

Pengaduan itu membuahkan hasil di mana MS dipindahkan ke ruangan lain dengan alasan ruangan tersebut dianggap dihuni oleh pegawai yang lebih ramah.

MS tidak bisa menutupi kekecewaannya karena para pelaku ternyata tidak diberikan sanksi apapun. Secara tidak langsung, para pelaku masih bisa melakukan tindakan serupa terlebih mengetahui MS melakukan pengaduan kepada 'bos'nya.

Benar saja, usai melakukan pengaduan, para pelaku melanjutkan perundungannya kepada MS.

Akibat perundungan yang tak kunjung berhenti, MS mencoba untuk berkonsultasi ke psikolog di Puskesmas Taman Sari. Hasilnya ia divonis mengalami Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

2020

MS kembali mendatangi Polsek Gambir, Jakarta Pusat untuk yang kedua kalinya dengan harapan laporannya benar-benar diproses anggota kepolisian.

Apa yang diinginkan MS itu adalah proses hukum lantaran ada tindak pidana di dalam tindakan pelaku perundungan dan pelecehan.

Hingga MS akhirnya memberanikan diri mengungkap apa yang dialaminya sejak 2011 sebagai pegawai kontrak di KPI Pusat. Ia menuliskan semua ceritanya dan kemudian disebarluaskan menjadi pesan berantai pada pesan instan WhatsApp.

Dalam pesannya itu, MS bahkan meminta tolong kepada  Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Menko Polhukam Mahfud MD hingga Gubernur DKI Anies Baswedan.

"Dengan rilis pers ini, saya berharap Presiden Jokowi dan rakyat Indonesia mau membaca apa yang saya alami. Saya tidak kuat bekerja di KPI Pusat jika kondisinya begini. Saya berpikir untuk resign, tapi sekarang sedang pandemi Covid-19 di mana mencari uang adalah sesuatu yang sulit. (rhm)

Disclaimer: Artikel ini telah tayang sebelumnya di Suara.com berjudul: Cerita Lengkap Perundungan dan Pelecehan Pegawai KPI Pusat Dari Tahun ke Tahun

Bagikan Artikel

Rekomendasi