Selamatkan Perekonomian Bali, Wagub Cok Ace Siapkan Kebijakan Berbasis Risiko

Jumat, 27 Agustus 2021 : 08.42

 

Wagub Cok Ace menyampaikan rawaran itu saat berbicara pada webinar yang mengangkat tema ‘Nafas Panjang Pengusaha Bali Hadapi Pandemi’, Kamis (26/8/2021)/Dok. Humas Pemprov Bali.

Denpasar - Untuk menyelamatkan perekonomian Bali yang terpuruk hingga titik nadir akibat berlarut-larutnya pandemi Covid-19 Wakil Gubernur Bali Prof. Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menawarkan penerapan kebijakan berbasis risiko

Wagub Cok Ace menyampaikan rawaran itu saat berbicara pada webinar yang mengangkat tema ‘Nafas Panjang Pengusaha Bali Hadapi Pandemi’, Kamis (26/8/2021).

Webinar berlangsung pola hybrid, offline dan online melalui aplikasi zoom meeting. Wagub Cok Ace dan pembicara dari Bali hadir secara offline di Kantor BPR Lestari, Jalan By Pass Ngurah Rai, Denpasar.

Guru Besar ISI Denpasar ini menawarkan penerapan kebijakan berbasis risiko yakni kebijakan dikeluarkan melalui kajian risiko kesehatan dan ekonomi tiap sektor.

Dia mencontohkan, bidang pendidikan, kalau murid di sekolahkan risiko kesehatannya tinggi, sedangkan dengan pola sekolah daring, dampak ekonominya kecil.

"Jadi kesimpulannya belajar dari rumah. Sebaliknya, tempat usaha seperti restoran, kalau tutup dampak ekonominya sangat besar karena banyak yang kehilangan pekerjaan," tuturnya.

Pilihannya dibuka dengan pengaturan jumlah pengunjung dan penerapan prokes yang ketat. Pola itu merupakan upaya menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kesehatan.

Pada bagian lain, Cok Ace mengharapkan pemerintah pusat memberi kepastian tentang pembukaan Bali.

“Kami sudah mengusulkan beberapa alternatif untuk pembukaan border internasional seperti travel bubble dan essential travel. Mohon usulan itu dipertimbangkan,” ujarnya 

Bicara tentang situasi yang dihadapi pengusaha Bali yang sebagian besar bergerak di sektor pariwisata, Wagub Cok Ace menyampaikan bahwa saat ini mereka rata-rata sudah babak belur.

Beberapa kali, imbuh Cok Ace, para pengusaha pariwisata salah stragegi karena mendapat angin segar tentang rencana pembukaan pariwisata.

Pertama di bulan Juli 2019, Bali mulai dibuka untuk wisatawan domestik. Untuk menyambut itu, pengusaha mulai berbenah, bahkan ada yang sampai meminjam uang.

Saat itu pariwisata mulai menggeliat sehingga pengusaha makin bergairah menyambut kedatangan wisatawan yang diprediksi ramai di bulan Desember. Bahkan, mereka kembali menambah pinjaman untuk membenahi tempat yang mereka kelola.

Lalu yang terjadi kemudian, ada kebijakan pengetatan pintu masuk di akhir tahun dengan pemberlakuan syarat Swab PCR,” urainya.

Selanjutnya, vaksinasi yang gencar dilaksanakan di Pulau Dewata kembali membangkitkan harapan para pengusaha. Namun harapan itu kembali terhempas karena dinamika Covid-19 yang tak bisa diprediksi hingga pemerintah kembali menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Ia memahami, dinamika Covid-19 dan perekonomian adalah dua hal yang saling berkaitan. “Keduanya saling berkolerasi, ketika ekonomi dibuka, kasus Covid-19 cenderung naik.

Sebaliknya, ketika Covid-19 bisa dikendalikan melalui kebijakan pembatasan aktivitas, ekonomi nyungsep. Hukum sebab akibatnya seperti itu, tak bisa putus satu sama lain,” ujarnya. Wagub Cok Ace menambahkan, jika dianalisa lebih jauh, keterpurukan ekonomi juga bisa berdampak pada meningkatnya jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

“Ketika masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, otomatis imun mereka akan turun karena kurangnya asupan gizi. Faktor ini tak bisa diabaikan karena sangat berkaitan,” imbuhnya.

Menjawab harapan pelaku usaha di Bali, Menparekraf Sandiaga Uno menyampaikan bahwa pemerintah menaruh perhatian serius terhadap upaya pemulihan ekonomi Bali.

Pemerintah sempat melaksanakan pra kondisi untuk pembukaan Bali dengan menggenjot program vaksinasi dan menetapkan tiga zona hijau yaitu Sanur,Ubud dan Nusa Dua.

Namun dinamika, pandemi Covid-19 memaksa pemerintah menerapkan kebijakan untuk mengerem laju penyebaran penyakit ini. Ia memastikan, pemerintah terus memikirkan upaya pemulihan Bali.

“Terlebih tahun depan Bali akan menjadi tuan rumah pertemuan G20. Kita berharap dua bulan sebelum itu kita bisa melakukan kick off pembukaan pariwisata Bali,” tandasnya. (rhm)

 

 

 

Bagikan Artikel

Rekomendasi