Ratusan Pekerja Migran Ingin Pulang Kampung Tertahan di Nunukan

Jumat, 06 Agustus 2021 : 06.34
Pekerja migran tertahan  di Nunukan Kalimantan Utara karena belum menjalani vaksinasi untuk perjalanan pulang kampung/Dok. KSP

Nunukan- Ratusan pekerja migran didominasi dari Nusa Tenggara Timur yang ingin pulang kampung usai dari bekerja di luar negeri tertahan di Nunukan Kalimantan Utara.

Satu diantaranya Maria Magdalena yang menginap sementara di komplek rumah susun Nunukan, Kalimantan Utara. 

Tim Kantor Staf Presiden (KSP) yang mendampingi perlindungan pekerja migran, Kamis (5/8) mendapat cerita jika Maria sudah sebulan berada di Nunukan, Kalimantan Utara. 

Selama sepuluh tahun dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Serawak, Malaysia. 

“Saya mau pulang,” kata Maria, sambil menyebut Adonara, Nusa Tenggara Timur sebagai rumahnya sebagaimana dalam siaran pers KSP. 

Sesampai di Nunukan, agen perjalanan yang sudah menerima pembayaran 2.000 ringgit (sekitar Rp 7 juta) dari Maria, angkat tangan. 

“Saya sudah bayar ongkos tiket untuk barang dan anak saya juga,” ucap Maria. 

Persoannya, sebulan terakhir ini, saat PPKM diberakukan, setiap perjalanan jarak jauh harus dilengkapi sertifikat vaksin. 

Sang agen tak sanggup memenuhi syarat itu. Mereka langsung ‘melemparkan’ Maria dan anaknya ke kantor Unit Pelaksana Teknis Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UPT BP2MI) di Nunukan. 

Maria dan Kristabelle tidak sendiri. Mereka hanya dua dari 204 pekerja migran asal Nusa Tenggara Timur yang Senin (3/8) lalu tiba-tiba muncul di kantor BP2MI Nunukan. 

“Mereka ini bukan kami tangkap, tapi menyerahkan diri ke kantor saya,” kata Hotma Victor Sihombing, Kepala UPT BP2MI Nunukan. 

Kata dia, agen perjalanan yang sudah menerima pembayaran langsung melepas tanggungjawab. 

Victor berkoordinasi dengan sejumlah instansi di Nunukan. Mereka harus segera ditolong. 

Dari kantor BP2MI, mereka diangkut ke penampungan sementara rumah susun di wilayah Nunukan Selatan. 

“Siapa yang akan mengurus mereka, ngasih makan, dan tempat tinggal sementara?” kata Victor pada KSP. 

Masalahnya kepulangan 204 pekerja migran Indonesia ini tanpa rencana, apalagi pemberitahuan. 

“Mereka datang secara ilegal lewat jalur-jalur tikus,” kata Victor. Beruntung dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersedia menanggung kebutuhan makan mereka. 

Pihaknya masih harus mengupayakan para pekerja migran untuk segera mendapat vaksin. Problemnya  vaksin masih cukup langka di Nunukan. Dari 180 ribu penduduk Nunukan, baru sekitar sepuluh persen yang menerima vaksin pertama. 

Banyak pekerja migran tidak segera mendapat jatah vaksin, mereka akan terjebak di Nunukan lebih lama lagi. 

Pihaknya sudah mengupayakan agar daerah tujuan para pengungsi itu bisa menerima mereka hanya dengan hasil test PCR. 

“Daerah tujuan masih belum mau (menerima). Tapi kita terus berupaya sambil mengupayakan vaksin buat mereka,” kata Victor. 

Mereka kemudian pekerja migran mendapatkan layanan test PCR. 

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Nunukan, Abdul Munir, menuturkann para pekerja migran akan menjalani dua kali test PCR untuk memastikan mereka tidak terpapar Covid-19. 

Hingga siang tadi, diketahui ada 6 pekerja migran yang positif. “Kami sudah pisahkan dan isolasi mereka,” kata Munir. 

Saat test PCR dilakukan, mereka mendapat kabar kedatangan 25 ribu dosis vaksin untuk Kabupaten Nunukan. 

“Semoga para pekerja migran ini bisa mendapat jatah. Supaya mereka bisa segera pulang ke rumah,” Victor menambahkan. (rhm).



Bagikan Artikel

Rekomendasi