Pasokan Oksigen Minim di Rumah Sakit Perbatasan Kalimantan Utara

Minggu, 08 Agustus 2021 : 07.30
Aktivitas pengisian tabung oksigen di daerah Juata Laut, Tarakan, Kalimantan Utara/Dok. KSP.

Tarakan-  RS Bhayangkara Tarakan dan sejumlah rumah sakit lainnya di Kalimantan Utara harus antre di pabrik pengisian oksigen terbesar di Tarakan ini untuk mendapatkan pasokan oksigen bagi pasien. 

PT Tarakan Estetika Plaza di Juata Laut mampu memproduksi 250-300 tabung berkapasitas enam meter kubik.  

"Hasilnya dibagi ke sejumlah rumah sakit yang ada di kota Tarakan dan sekitarnya. “Mesin kami tak pernah tidur,” ujar pemilik pabrik Yulius Kwan saat menerima tim Kantor Staf Presiden (KSP)," Jumat 6 Agustus 2021.

Di Tarakan hanya ada satu pabrik yang berukuran agak besar di Juata Laut. 

"Itupun belum mencukupi kebutuhan kami,” ujar dr. Franky Sientoro Sp.A, Plt Dirut RSUD Tarakan.

Karena kebutuhan yang tinggi, PT Tarakan Estetika kemudian mengubah peruntukan suplai oksigennya ke medis. Sebelum pandemi, kebutuhan oksigen mayoritas untuk konsumsi industri dan perikanan tambak. 

“Kami mengapresiasi perusahaan yang mau menyesuaikan orientasi bisnisnya untuk kemanusiaan. Karena memang kebutuhan oksigen di Tarakan dan Nunukan melonjak karena penularan cepat varian delta ini,” ujar Agung Rulianto, Tenaga Ahli Utama KSP.

Selain RSUD Tarakan, rumah sakit yang turut antre oksigen di pabrik itu ialah: RSU Kota Tarakan, RS Pertamedika, RS Bhayangkara dan RS Angkatan Laut. Bahkan RSUD Nunukan di seberang pulau pun turut mengambil nomor antrean. 

Meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di Kota Tarakan membuat Dokter Franky dan para Nakes kewalahan. Maklum saja, RSUD Tarakan jadi rumah sakit rujukan di Provinsi Kalimantan Utara. 

Sejak varian Delta mulai menyerang pada tengah Juni tahun ini, kebutuhan oksigen di rumah sakitnya bisa mencapai 300 tabung. 

Hitungan angka riil Franky, sehari kebutuhan oksigen bisa mencapai lebih dari 700 tabung besar atau 6m3. 

“Jadi yang dari Juata tidak mencukupi. Kami dapat bantuan juga dari Pupuk Kaltim,” ujar Franky yang juga Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Provinsi Kaltara ini.

Kekurangan pasokan oksigen membuat Dokter Franky dan Dokter Dulman bersiasat. Franky menyebut, dia membuat skala prioritas untuk pasien yang kena Covid-19. 

Keterbatasan pasokan oksigen juga membuat Franky mengambil keputusan untuk merawat pasien Covid-19 dengan skala sedang, berat hingga kritis saja. 

“Mereka yang dengan gejala ringan biar isoman di rumah saja,” imbuhnya.

Selain itu, Dokter Dulman dan Dokter Franky menyarankan agar warga di perbatasan tetap patuh pada protokol kesehatan. Selain itu kunci lepas dari pandemi adalah vaksinasi. Hingga pekan ini, vaksinasi di Kota Tarakan baru mencapai sekitar 16 persen penduduk. 

Sedangkan yang masuk daftar tunggu penerima vaksin mencapai 14 ribu orang. 

Upaya mengatasi keterbatasan oksigen dan vaksin terus diupayakan oleh pemerintah. Termasuk mencari sumber-sumber lain yang bisa menyediakan pasokan oksigen seperti yang dilakukan BUMN PT Pupuk Kaltim. 

“Temuan ini sangat penting bagi kami. KSP memahami situasi yang dihadapi di sini dan kami mendukung upaya penguatan penanganan Covid-19 di perbatasan,” ujar Tenaga Ahli Utama KSP, Agung Rulianto. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi