Nyoman Puspa Antarkan KUB SGBL Raih Berbagai Prestasi

Kamis, 19 Agustus 2021 : 07.07
I Nyoman Puspa (pegang mic) saat menyampaikan materi pada Pelatihan Penangkapan Ikan dengan Menggunakan Alat Tangkap Ramah Lingkungan

 DENPASAR  – Siang yang terik di Pulau Dewata, I Nyoman Puspa (58 tahun) mengusap keringat di dahinya. Tanpa sadar baju yang ia kenakan sudah dibasahi keringat. Kala itu ia tengah dikerubungi nelayan dengan beragam pertanyaan. Situasi seperti ini telah ia lalui selama 36 tahun, tak jarang ia mendapat panggilan dari nelayan yang tertimpa masalah. Dengan telaten, Nyoman membantu menyelesaikan berbagai hal, mulai dari urusan administrasi, kelembagaan, hingga akses pemasaran.

Di penghujung masa baktinya sebagai abdi negara, Nyoman sama sekali tidak menyurutkan semangatnya dalam melakukan pendampingan kepada masyarakat pesisir. “Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain" sebuah prinsip yang selalu ia pegang selama ini. Baginya, melihat tangkapan nelayan yang melimpah dan harga ikan yang tinggi merupakan kepuasan tersendiri.

Sejak diangkat menjadi Penyuluh Perikanan PNS pada tahun 1989, ia telah hidup bersama pelaku utama. Hari-harinya disibukkan di pesisir bersama kelompok. Sepanjang kiprahnya menjadi penyuluh perikanan, ia telah berhasil mendampingi puluhan kelompok usaha dan ratusan pelaku utama di Bali. Jatuh bangun, tentu tak pernah luput dari perjalanannya.

Salah satu kelompok yang telah berhasil ia bina yaitu Kelompok Usaha Bersama (KUB) Segara Guna Batu Lumbang (SGBL) yang berdiri sejak tahun 2005. Berawal dari 12 orang nelayan yang penuh keterbatasan, kini KUB yang berlokasi di Desa Pamogan, Denpasar Selatan ini telah memiliki 47 anggota nelayan, bahkan telah membentuk koperasi dan Kelompok Masyarakat Pengawas (POKMASWAS) Mina Werdhi Batu Lumbang. Berbagai prestasi pun dari tingkat daerah hingga nasional telah ditoreh kelompok.

Awal Mula KUB

Sore itu Nyoman tengah menyandarkan sepeda motornya di pinggir pantai, selepas seharian bekerja, ia berencana menghirup udara segar sembari melihat hijaunya hamparan mangrove. Pandangannya tetiba tertuju kepada sekelompok nelayan yang selesai melaut dengan tangan kosong. Tanpa berpikir panjang, ia bergegas menghampiri nelayan untuk sekadar menyapa. “Akhir-akhir ini hasil tangkapan kosong, tak tahu kapan ikan akan banyak lagi,” keluh I Wayan Kona Antara, salah satu nelayan tersebut.

Dengan ramah, Nyoman memberikan saran kepada nelayan tentang cara penangkapan ikan yang baik dan mengajak mereka membentuk kelompok agar memiliki kelembagaan nelayan. “Kalau Bapak-bapak mau membentuk KUB, akan ada peluang untuk mendapat program pemerintah, kita juga bisa mulai menjalin kerja sama Corporate Social Responsibility (CSR) dengan perusahaan besar,” bujuk Nyoman. Tanpa pikir panjang, para nelayan menyetujui pembentukan KUB.

Setelah terbentuk KUB, Nyoman semakin getol melakukan penyuluhan, dimulai dari administrasi kelompok, pengenalan alat tangkap yang ramah lingkungan, sosialisasi akses permodalan, hingga membantu akses pemasaran.

Namun masalah baru muncul, penebangan mangrove dan penembakan burung secara liar semakin marak terjadi. Hal ini berdampak pada berkurangnya tangkapan ikan, kepiting, dan udang karena mangrove dikenal sebagai tempat asuhan (nursery ground) berbagai jenis hewan akuatik. Sebetulnya hal ini sudah terjadi sejak tahun 2003 di Denpasar Selatan. “Untuk menuntaskan masalah ini, diperlukan usaha bersama antara pemerintah, aparat, dan masyarakat,” pikir Nyoman. Untuk itu, ia berinisiatif membentuk POKMASWAS yang digawangi anggota KUB dan masyarakat pesisir lainnya. Hingga akhirnya pada tahun 2006 berdiri POKMASWAS Mina Werdhi Batu Lumbang.

Gebrakan Konservasi Mangrove

POKMASWAS Mina Werdhi Batu Lumbang telah memperoleh izin Pemerintah Kota Denpasar untuk menempati kawasan mangrove sebagai balai nelayan dengan kewajiban menjaga, mengawasi, serta melakukan upaya konservasi kawasan mangrove sepanjang 1 km keliling. Berkat kerja sama antara POKMASWAS, Polair, dan TNI, kasus penebangan mangrove dan perburuan burung secara liar pun semakin berkurang.

Di sisi lain, berbagai gebrakan mulai dilakukan. Seluruh anggota POKMASWAS secara terjadwal melakukan kegiatan susur mangrove, penanaman mangrove, dan bersih pantai (coastal cleanup). POKMASWAS yang diketuai oleh Made Wijaya ini juga menggencarkan pembinaan masyarakat, bahkan dimulai dari anak-anak TK dan Sekolah Dasar. Setiap tahunnya bersama Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar, digelar kegiatan Kids Education. Kegiatan yang telah dimulai sejak tahun 2015 ini, berfokus pada pengenalan mengrove dan edukasi upaya pelestarian alam.

Tak hanya mangrove, POKMASWAS ini juga berkomitmen untuk melindungi biota laut yang terancam punah. Terbukti pada April 2020 lalu, kelompok bersama Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BSPL) Denpasar melakukan upaya penyelamatan penyu sisik yang terdampar di bawah tol Bali Mandara, Denpasar. Penyu termasuk dalam daftar merah (red list)  International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan kategori Critically Endangered serta menjadi target pelaksanaan kegiatan konservasi jenis ikan KKP pada 2020 - 2024.

Jalinan kerja sama dengan stakeholder lainnya pun terbangun. Bersama Universitas Udayana dan Universitas Dhyana Pura (Undhira) Bali, anggota kelompok dengan civitas akademika menyelenggarakan kegiatan coastal cleanup di sekitar hutan mangrove dengan melibatkan masyarakat. Selain itu, setiap tahunnya dilaksanakan kegiatan susur mangrove dalam memperingati HUT Kota Denpasar.

Teranyar, kelompok berhasil mendapat CSR Indonesian Power pada tahun 2020 berupa pembangunan toilet umum, pos pantau di tengah laut, 400 bibit mangrove, serta pelatihan pengolahan sirup mangrove dan buah mangrove untuk para istri nelayan.

Adanya pandemi Covid-19, tak menyurutkan semangat Nyoman dalam melakukan pendampingan kelompok. Dengan penuh antusias, ia membimbing kelompok membuat proposal dan menjadi jembatan antara kelompok dengan stakeholder.

Pada Oktober 2020 lalu, ia berhasil melibatkan POKMASWAS Mina Werdhi Batu Lumbang dalam kegiatan penanaman 28.000 bibit mangrove di Taman Hutan Raya Bali. Kegiatan ini diharapkan mampu menstimulasi daya beli dan perekonomian masyarakat menghadapi situasi pandemi Covid 19, sekaligus membangun ekosistem mangrove yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Sederet Prestasi

Pada tahun 2009, KUB Segara Guna berhasil menyabet Penghargaan Gubernur Bali sebagai Juara 1 dalam lomba KUB Perikanan Tangkap Teladan. Selang setahun kemudian, KUB yang diketuai oleh Wayan Kona ini, kembali menerima penghargaan Adibakti Mina Bahari sebagai KUB Perikanan Tangkap Teladan II Tingkat Nasional dari Menteri Kelautan dan Perikanan.

Di sisi lain, POKMASWAS Mina Werdhi Batu Lumbang memperoleh penghargaan Adibakti Mina Bahari sebagai Juara II Kategori POKMASWAS Bidang Pelestarian Sumber Daya Perairan Tingkat Nasional. Kemudian pada tahun 2016, POKMASWAS yang menjadi Duta Provinsi Bali ini, berhasil menyabet Juara I Lomba POKMASWAS Tingkat Nasional oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Tak pernah ada yang menyangka sebelumnya, kedua kelompok ini akan menjadi besar dan memperoleh sederet penghargaan. Wayan Kona masih mengingat betul pesan yang selalu ditanamkan oleh Nyoman Puspa untuk selalu menggunakan alat tangkap ramah lingkungan dan menghentikan penebangan mangrove. “Dengan terjaganya ekosistem mangrove, hasil tangkapan ikan kembali melimpah, bahkan kami bisa menikmati kepiting bakau dan udang,” tambah Wayan.

Di sisi lain, Made Wijaya selaku Ketua POKMASWAS juga merasa bersyukur atas penyuluhan yang diberikan sehingga Segara Guna Batu Lumbang dikenal menjadi destinasi wisata edukasi mangrove. “Kami bersyukur saat ini bisa memperoleh pemasukan ekonomi tambahan dari wisata edukasi. Jumlah kano kami, bermula hanya 10 buah, itu pun bantuan dari KKP, kini kami punya 75 kano berkat bantuan dari banyak pihak. Tentunya ini tidak lepas dari pendampingan yang diberikan Penyuluh Perikanan,” ujar Made.

Raut kesedihan tak terelakkan dari raut wajah seluruh anggota nelayan karena menyadari masa pengabdian Nyoman sebagai penyuluh perikanan tersisa empat bulan lagi. Tepat Desember 2021 nanti, Nyoman akan memasuki masa purna tugas. “Kami mohon kepada Pak Nyoman, tetap bersama kami walaupun sudah pensiun nanti. Tentu 16 tahun bukan waktu yang sebentar. Sudah banyak cerita suka duka kami,” ujar Wayan selaku Ketua KUB.

Senada dengan para nelayan, Kepala Dinas Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Denpasar A. A. G. Bayu Brahmasta, turut mengapresiasi kinerja penyuluh perikanan, khususnya I Nyoman Puspa selaku penyuluh perikanan senior yang getol mendampingi pelaku utama perikanan dari awal terbentuk hingga mampu bertahan dan berkembang sampai saat ini. “Kolaborasi antara Pemkot dan penyuluh perikanan terbukti berhasil memajukan sektor perikanan di Kota Denpasar,” tutup Bayu.

I Nyoman Puspa merupakan salah satu dari 4.421 Penyuluh Perikanan PNS dan Penyuluh Perikanan Bantu (PPB) di seluruh Indonesia yang mendedikasikan dirinya untuk pelaku utama kelautan dan perikanan. Baginya seluruh pengorbanan yang diberikan menjadi bukti bahwa pemerintah selalu hadir di tengah masyarakat. (Rls)

Bagikan Artikel

Rekomendasi