KKP Jadikan Kabupaten Lebak Sentra Produksi Ikan Patin

Minggu, 22 Agustus 2021 : 09.32

Ikan patin merupakan salah satu komoditas ikan air tawar unggulan dan sangat potensial untuk dikembangkan dan digenjot terus produktivitasnya/Dok. KKP.

Jakarta -  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menjadikan Kabupaten Lebak Provinsi Banten sebagai sentra produksi ikan patin

Program terobosan KKP salah satunya membangun kampung-kampung budidaya perikanan berbasis kearifan lokal .

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP, Tb Haeru Rahayu  menyebutakan Kabupaten Lebak, salah satu daerah yang dinilai potensial untuk pelaksanaan program tersebut, khususnya untuk kampung perikanan budidaya patin. 

"Untuk mendongkrak produktivitas itu dengan memanfaatkan daerah-daerah yang potensial untuk dijadikan sentra produksi ikan patin (melalui program kampung perikanan budidaya berbasis kearifan lokal), salah satunya Kabupaten Lebak,” ujar Tebe Rahayu dalam siaran resmi KKP, Sabtu (21/8/2021).

Dijelaskan Tebe -sapaan Tb Haeru-, Kabupaten Lebak cocok untuk pengembangan kampung-kampung budidaya lantaran area budidaya yang tersedia masih sangat luas. 

“Yang saya peroleh informasinya yakni sekitar 69,43 % dari luas wilayah,” ujar Tebe. 

Ikan patin merupakan salah satu komoditas ikan air tawar unggulan dan sangat potensial untuk dikembangkan dan digenjot terus produktivitasnya. 

Pada masa pandemi Covid-19, permintaan pasar terhadap ikan air tawar cukup tinggi, termasuk patin. Permintaan datang dari pasar domestik maupun untuk kebutuhan ekspor, khususnya ke wilayah Timur Tengah.

“Ini peluang yang sangat prospektif yang bisa kita terus garap. Makanya produksi harus kita tingkatkan terus untuk mendorong peningkatan ekspor hasil perikanan budidaya,” tambahnya.

Langkah strategis KKP dalam rangka menggenjot produktivitas dan nilai tambah ikan air tawar di Indonesia, salah satunya komoditas ikan patin ini. 

Sejak pengembangan sistem perbenihan yang fokus pada produksi varian komoditas unggul yang potensial dikembangkan dan menjamin sistem logistik benihnya secara efisien. 

Kemudian pengembangan sistem produksi yang fokus pada penciptaan efisiensi produksi, dan produktivitas budidaya. Upaya ini meliputi pengembangan inovasi teknologi yang aplikatif, efisien dan adaptif, pengembangan pakan mandiri yang efisien, dan penerapan sertifikasi cara budidaya ikan yang baik. 

Langkah lainnya berupa pengembangan sistem kesehatan ikan dan lingkungan yang fokus pada upaya pencegahan dan penanggulangan hama penyakit serta pengelolaan lingkungan. 

Selanjutnya, penguatan kapasitas SDM para pelaku dan kelembagaan di sentra-sentra produksi, serta mendorong pengembangan sistem bisnis terintegrasi (integrated aquaculture business) di sentra produksi untuk menjamin efisiensi dan market.

Peran Unit Pelaksana Teknis (UPT) KKP khususnya yang berada di bawah naungan Ditjen Perikanan Budidaya juga terus ditingkatkan. 

"UPT harus mampu menjadi salah satu tumpuan peningkatan produktivitas perikanan budidaya, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor kelautan dan perikanan, guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat," tandasnya. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi