Kampung Lele Mutiara

Kamis, 19 Agustus 2021 : 01.12

Lele Mutiara / Dok. Humas BRSDM
Jakarta - Meningkatkan produksi perikanan budidaya dan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, air payau dan air laut berbasis kearifan lokal pada sejumlah daerah di Indonesia,  merupakan  program terobosan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Tahun 2021-2024, yang digagas Menteri KKP, Wahyu Sakti Trenggono. 

Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM KP) selaku Unit Eselon I KKP, berperan merealisasikan kampung perikanan budidaya, salah satunya Kampung Lele di Desa Sumurgede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat sejak Juni 2021. 

Karawang merupakan daerah potensial pengembangan budidaya perikanan. Tahun 2018 tercatat memiliki 18.275,00 hektare tambak, 1.088,80 hektare kolam air tenang, serta 148 unit kolam jaring apung. 

Hal ini menunjukkan Karawang memiliki potensi perikanan budidaya dengan penghasilan yang cukup besar, dengan keuntungan berkisar Rp5-13 juta dalam berbudidaya lele. 

Kampung Lele di Desa Sumurgede membudidayakan lele Mutiara (Bermutu Tiada Tara) yang merupakan strain unggulan dari hasil penelitian Balai Riset Pemuliaan Ikan (BRPI).

Proses pemuliaan lele Mutiara ini dilakukan sejak tahun 2015 melalui serangkaian uji coba. Hasil dari seleksi persilangan empat strain lele Afrika yang ada di Indonesia yakni, lele Mesir, lele Phyton, lele Sangkuriang, dan lele Dumbo. 

Lele Mutiara ini dilepaskan ke masyarakat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No.77/KEPMEN-KP/2015.

Keunggulan lele Mutiara ini adalah laju pertumbuhannya tinggi, berkisar 10-40 persen lebih tinggi dibanding jenis lain. Lama pemeliharaan singkat, pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari. 

Keseragaman ukuran relatif tinggi, tahap produksi benih diperoleh 80-90 persen benih siap jual dan pemanenan pertama pada tahap pembesaran tanpa sortir diperoleh ikan lele ukuran konsumsi sebanyak 70-80 persen. Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah, antara 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran. 

Lele Mutiara juga memiliki daya tahan yang tinggi terhadap penyakit  dengan sintasan (SR = Survival Rate) pendederan benih berkisar 60-70 persen pada infeksi bakteri Aeromonas hydrophila (tanpa antibiotik)

Benih lele Mutiara memiliki performa pertumbuhan dan produktivitas yg lebih unggul serta keuntungan usaha 2-9 kali lipat dibandingkan benih-benih pembandingnya, sehingga sesuai untuk digunakan dalam usaha pembesaran di berbagai lokasi dan sistem pembesaran. (pyd)




Bagikan Artikel

Rekomendasi