Budidaya Lele di Gunungkidul Berkembang Pesat

Kamis, 19 Agustus 2021 : 20.14
Budidaya Lele / Dok. KKP 
Jakarta
– Budidaya lele di Desa Kalitekuk, Kapanewon (Kecamatan) Semin, Gunungkidul, Provinsi DIY berkembang pesat, dengan bantuan pinjaman modal dari Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LMPUKP). 

Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menginginkan kesuksesan budidaya perikanan ini muncul juga di daerah lain. 

“Jangan hanya di Semin, namun seluruh Indonesia harus ada. Minimal setiap kabupaten atau kota ada satu kampung budidaya perikanan. Ini bagus karena dengan adanya model seperti ini dapat menyejahterakan masyarakat,” papar Menteri Trenggono dalam keterangannya, Kamis (19/8/2021).

Kegiatan budidaya perikanan di Semin, menurutnya sejalan dengan program terobosan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) hingga 2024 nanti, yakni pembangunan kampung-kampung perikanan budidaya air tawar, air payau dan air laut berbasis kearifan lokal. 

Dukungan modal dari BLU LPMUKP KKP meningkatkan jumlah pelaku usaha menjadi ratusan kepala keluarga (KK) dari semula hanya 28 KK. Hasil produksi pun naik dari  0,7 ton per bulan menjadi 10 ton.

Pertumbuhan tersebut berimbas pada meningkatnya nilai aset hingga mencapai Rp 3 miliar dari semula hanya Rp 20 juta. Penghasilan pelaku usaha yang tadinya tidak menentu menjadi lebih pasti di angka Rp 3 juta sampai Rp 5 juta per bulan. Sedangkan penghasilan bersih koperasi naik tajam menjadi Rp 40 juta - Rp 50 juta per bulan dari yang awalnya hanya Rp 5 juta.

Trenggono mendorong budidaya lele di Kapanewon Semin ini tidak sebatas pada produksi saja, melainkan juga sampai pada kegiatan pengolahan. Untuk itu ia meminta jajarannya di Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) untuk mendukung kegiatan pasca produksi agar produk yang dihasilkan lebih bervariasi dan penyerapan tenaga kerja juga menjadi lebih banyak.

Direktur BLU LPMUKP KKP, Syarif Syahrial menjelaskan, bisnis model permodalan bagi kampung budidaya di mana pengajuan pinjaman oleh koperasi maupun perorangan harus melibatkan pendamping LPMUKP yang ada di setiap daerah. Pendampingan tak sebatas untuk pencairan maupun cicilan pinjaman, tapi juga manajemen usaha. Selain itu, ada juga peran penyuluh perikanan yang memberikan pendampingan teknis budidaya. 

Semula usaha lele di Semin itu dilakukan secara mandiri sebagai tambahan penghasilan. Namun melihat potensi yang semakin besar dibentuklah Koperasi Mina Mulya Maju Mandiri pada 20 Maret 2018 atas pendampingan dari LPMUKP. 

Dalam bentuk koperasi inilah, pinjaman modal Rp 1 miliar diberikan pada akhir Maret 2018. Hingga kini, budidaya lele di Desa Kalitekuk Semin masih terus berkembang. (pyd)

Bagikan Artikel

Rekomendasi