Biak Kirim Produk Tuna ke Singapura, Menjadi Hub Ekspor untuk Perikanan di Papua

Minggu, 29 Agustus 2021 : 09.17

Biak -  Kabupaten Biak Numfo yang telah menjadi hub ekspor untuk produk perikanan dari wilayah Papua melakukan ekspor perdana produk perikanan ke Singapura.

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Artati Widiarti menyebut kegiatan ini merupakan langkah nyata bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) turut mengawal perekonomian Indonesia Timur, khususnya Papua.

Biak dapat menjadi hub ekspor untuk produk perikanan dari wilayah Papua, seperti Nabire, Jayapura, Serui, dan Bintuni, yang berada pada Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 717.

"WPPNRI 717 memiliki komoditas perikanan bernilai ekonomis tinggi seperti tuna, tongkol, cakalang, kerapu, lobster dan kepiting," kata Artati secara daring pada acara Ekspor Perdana Produk Perikanan dari Kabupaten Biak Numfor, Sabtu (28/8/2021). 

Produk ekspor antara lain tuna loin (150 kg), kepiting (350 kg) dan lobster (30 kg) yang dikirim ke Singapura melalui jalur udara. 

Artati mengungkapkan, ekspor ini menjadi langkah awal yang baik bagi Kabupaten Biak Numfor untuk apat memasarkan produknya ke luar negeri. 

"Tentunya langkah selanjutnya adalah meningkatkan jumlah ekspor dan memperluas pasar," sambungnya.

Ekspor selanjutnya direncanakan pada September 2021 dapat direalisasikan. Terlebih ada peningkatan yang sangat siginifikan, baik dari sisi volume dan nilai ekspor, yakni produk tuna whole frozen sebanyak 25 ton dengan tujuan Singapura melalui jalur laut. 

Sehingga rangkaian ekspor perdana produk perikanan yang dilakukan secara bertahap di bulan Agustus-September 2021 akan mencapai 28 ton.

Peran serta nelayan lokal untuk berpartisipasi dalam pemenuhan kebutuhan ekspor dibutuhkan. Diharapkan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan Swasta dalam pembinaan kepada nelayan untuk menghasilkan produk kualitas ekspor," terangnya.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan mengapresiasi keberhasilan Kabupaten Biak Numfor dalam menjawab tantangan ekspor perdana produk perikanan. 

“Saya memahami untuk menggerakkan ekspor komoditas perikanan, tentu bukan lah suatu pekerjaan yang mudah karena diperlukan kesiapan baik teknis dan regulasi, apalagi tugas inisiasi ekspor dari Biak dan Tual diinisiasi pada bulan Maret 2021 dan terealisasinya sekarang ini (Sabtu, 28/8/2021),” kata Luhut secara daring.

Ekspor perdana komoditas perikanan dari Biak Numfor membuktikan semua masalah akan terselesaikan dengan komitmen besar untuk maju serta bekerja sama untuk mencapai tujuan serta mimpi yaitu mewujudkan negara Indonesia yang tangguh.

Bupati Biak Numfor, Herry Ario Naap menyampaikan pengelolaan sumber daya ekonomi merupakan keniscayaan untuk mendorong pertumbuhan dan kesejahteraan sektor perikanan. 

“Dan sektor perikanan merupakan unggulan dan andalan Kabupaten Biak Numfor dan wilayah teluk Cenderawasih/Saireri,” tandasnya..

“Launching ekspor perdana ini menandai bahwa Pemerintah Kabupaten Biak Numfor untuk jangka panjang akan terus melakukan ekspor hasil laut, khususnya yang memiliki nilai ekspor tinggi seperti ikan tuna, kepiting dan lobster.

Direktur Usaha dan Investasi, Catur Sarwanto yang hadir di Biak menjelaskan bahwa ekspor hari ini tak lepas juga dari peran aktif KKP, khususnya Ditjen PDSPKP yang bertanggung jawab di kawasan Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Biak melakukan sejumlah pengembangan seperti membangun Integrated Cold Storage (ICS).

Kemudian, Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), 100 unit kapal 3 GT lengkap dengan alat tangkap, penyediaan sarana rantai dingin untuk nelayan berupa sarana cool box dan chest freezer. 

"Kita bersyukur, seluruh sarana dan prasarana telah dimanfaatkan dengan baik hingga hasilnya terlihat seperti yang kita lepas hari ini (ekspor)," jelas Catur. 

Ditjen PDSPKP KKP melakukan pengembangan sumber daya manusia melalui edukasi seperti pelatihan dan bimbingan teknis kepada masyarakat perikanan berupa peningkatan kapasitas kelembagaan dari sebelumnya bersifat soliter, kemudian berkelompok dan saat ini telah bergabung dalam lembaga koperasi perikanan.

Untuk meningkatkan kemampuan usahanya, sejumlah nelayan telah difasilitasi akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang digunakan nelayan untuk pembelian kapal dan modal kerja melaut. (rhm)


Bagikan Artikel

Rekomendasi