Satgas Waspada Investasi Tutup 172 Pinjaman Online Ilegal

Rabu, 14 Juli 2021 : 16.45
Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing/Dok. Kabarnusa

Jakarta - Satgas Waspada Investasi atau SWI menutup 172 pinjaman online ilegal yang beredar secara digital melalui penawaran lewat SMS, aplikasi gawai hingga internet.

SWI yang beranggotakan 13 anggota Kementerian dan Lembaga sepakat meningkatkan upaya pemberantasan pinjaman online ilegal untuk melindungi masyarakat. Pihak kepolisian berjanji untuk mengungkap semua kasus pinjaman online atau pinjol ilegal.

Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam Lumban Tobing mengungkapkan, pada bulan Juli ini, sebanyak 172 pinjaman online ilegal yang beredar secara digital melalui penawaran lewat SMS, aplikasi gawai dan di internet yang berpotensi merugikan masyarakat ditutup.

"Praktek investasi pinjaman online ilegal itu karena bunga dan tenggat pinjaman yang tidak transparan, serta ancaman dan intimidasi dalam penagihan," ungkap Tongam dalam keterangan tertulis, Rabu (14/7/2021).

Masyarakat diminta berhat-hati dan waspada agar tidak tergiur dengan iming-iming pinjaman online agar tidak menanggung kerugian. Untuk itu, Tongam memberikan tips bagaimana mengenali atau ciri-ciri pinjol ilegal.

"Menawarkan pinjaman melalui saluran komunikasi pribadi, baik SMS ataupun pesan instan pribadi lainnya tanpa persetujuan konsumen," ungkap Tongam memberikan contoh. Selain itu, pinjol ilegal baisanya tidak memiliki izin resmi, tidak ada identitas dan alamat kantor yang jelas.

Kemudian, dalam memberikan pinjaman sangat mudah sedangkan informasi bunga dan denda juga tidak jelas. Bunga tidak terbatas, denda tidak terbatas hingga pnagihan tidak batas waktu.

Selanjutnya, nasabah harus mengenali biasanya pinjol ilegal ini, akses ke seluruh data yang ada di ponsel. Ancaman teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto/video pribadi.

Selain itu, kata Tongam, di pinjol biasanya tidak ada layanan pengaduan.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat agar sebelum melakukan pinjaman kepada fintech peer-to-peer lending. Dalam pinjam pada fintech peer-to-peer lending yang terdaftar di OJK. pinjam sesuai kebutuhan dan kemampuan dan pinjam untuk kepentingan yang produktif.

Pahami manfaat, biaya, bunga, jangka waktu, denda dan risikonya sebelum memutuskan untuk melakukan pinjaman kepada fintech peer-to-peer lending. "Apabila sudah terlanjur menjadi korban pinjaman online ilegal, segera lunasi," tandasnya.

Laporkan kepada Satgas Waspada Investasi dan Kepolisian jika memiliki keterbatasan kemampuan untuk membayar, ajukan restrukturisasi berupa pengurangan bunga, perpanjangan jangka waktu, penghapusan denda, dan lain-lain.

Apabila sudah jatuh tempo dan tidak mampu bayar, maka hentikan upaya mencari pinjaman baru untuk membayar utang lama. Apabila sudah mendapatkan penagihan tidak beretika (teror, intimidasi, pelecehan), maka blokir semua nomor kontak yang mengirim teror.

Beritahu kepada seluruh kontak di telepon genggam bahwa apabila mendapatkan pesan tentang pinjaman online ilegal agar diabaikan. "Segera lapor kepada polisi, lampirkan laporan polisi ke kontak penagih yang masih muncul," imbuhnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi