KKP Rancang Rencana Zonasi di Selat Bengkalis Selamatkan Populasi Ikan Terubuk

Selasa, 20 Juli 2021 : 22.25
Ikan Terubuk atau Tenualosa macrura merupakan ikan primadona dan kebanggaan masyarakat Riau yang tergolong ikan yang terancam punah dan statusnya dilindungi secara terbatas/Dok. KKP

Jakarta - Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Pengembangan Konsep Penataan Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) dalam rangka Pengelolaan Ikan Terubuk yang populasinya ditemui di Selat Bengkalis, Riau.

Plt. Dirjen Pengelolaan Ruang Laut Hendra Yusran Siry menjelaskan upaya melestarikan Ikan Terubuk tidak cukup hanya dengan menetapkan status perlindungannya, namun perlu mengintegrasikan dengan peraturan pemanfaatan ruang untuk perlindungan habitat dan wilayah sekitarnya.

"Selat Bengkalis merupakan jalur pelayaran yang sibuk, kebijakan penataan ruangnya perlu dikemas dalam bentuk Rencana Zonasi KSNT Selat Bengkalis,” jelas Hendra dalam siaran pers, Selasa (20/7/2021).

Ikan Terubuk atau Tenualosa macrura merupakan ikan primadona dan kebanggaan masyarakat Riau yang saat ini tergolong ikan yang terancam punah dan statusnya dilindungi secara terbatas sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 59 Tahun 2011 tentang Penetapan Status Perlindungan Terbatas Jenis Ikan Terubuk.

Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) merupakan kawasan yang terkait dengan kedaulatan negara, pengendalian lingkungan hidup dan/atau situs warisan dunia, yang pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional.

KSNT yang terkait dengan kepentingan situs warisan dunia dapat berupa cagar budaya nasional yang diusulkan sebagai warisan dunia atau warisan dunia yang alami.

Direktur Perencanaan Ruang Laut, Suharyanto menerangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2019 tentang Rencana Tata Ruang Laut, terdapat daftar lokasi yang perlu ditetapkan rencana tata ruang lautnya.

Selat Bengkalis salah satunya yang merupakan lokasi perlindungan biota langka Ikan Terubuk atau Tenualosa macrura.

“Ancaman kepunahan yang terjadi pada Ikan Terubuk di antaranya adalah tingginya aktivitas penangkapan yang berlebihan. Bukan hanya penangkapan Ikan Terubuk nya, tetapi juga masifnya pemanfaatan telur Ikan Terubuk,” terang Suharyanto.

Suharyanto mengungkapkan selain penangkapan yang berlebih, tingginya degradasi lingkungan yang terjadi pada habitat Ikan Terubuk juga menjadi ancaman lainnya bagi keberlanjutan biota tersebut.

Pakar perikanan Universitas Riau, Deni Efizon dalam diskusi menguraikan dari lima spesies Ikan Terubuk yang ada di dunia, tiga di antaranya ada di Indonesia.

Ketiganya Tenualosa macrura di perairan Bengkalis, Riau, Tenualosa ilisha di perairan Sungai Barumun, Sumatera Utara, dan Tenualosa toli di perairan Pemangkat, Kalimantan Barat.

Hal tersebut sudah sepatutnya membuat keberadaan Ikan Terubuk menjadi warisan dunia alami yang harus dilindungi dari ancaman kepunahan.

Perkembangan populasi Ikan Terubuk yang mengalami penurunan luar biasa pada tahun 2012 yang mengakibatkan nelayan semakin sulit mendapatkannya sebagai hasil tangkapan.

Baru pada tahun 2020 terjadi peningkatan jumlah meskipun belum maksimal.

“Harus ada komitmen bersama dari seluruh pemangku kepentingan baik pemerintah, nelayan, masyarakat serta pihak lain yang terkait untuk serius dan mendukung penyelamatan Ikan Terubuk,” tutupnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi