Terkontraksi Minus 9,85 Persen, Ekonomi Bali Triwulan Pertama Sedikit Membaik

Kamis, 24 Juni 2021 : 08.28
High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar di Denpasar, Rabu 23 Juni 2021/Dok.BI Bali.

Denpasar - Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I 2021 terkontraksi -9,85% (yoy), meski sedikit membaik dibanding triwulan IV 2020 yang tercatat -12,21% (yoy).

Ekonom Ahli Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, S. Donny H. Heatubun memaparkan pertama kondisi perekonomian nasional, Bali dan kota Denpasar.

Kemudian perkembangan inflasi serta (3) perkembangan harga pangan strategis dan neraca pangan serta beberapa rekomendasi bagi upaya pengendalian inflasi kota Denpasar.

"Pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan I 2021 terkontraksi -9,85% (yoy), meski sedikit membaik dibanding triwulan IV 2020 yang tercatat -12,21% (yoy)," ungkap Donny dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Denpasar di Denpasar, Rabu 23 Juni 2021.

Berdasarkan data BPS, kinerja ekonomi Denpasar di tahun 2020 tercatat kontraksi sebesar -9,42% (yoy), mengalami perlambatan dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun sebelumnya yang sebesar 5,82% (yoy).

Donny melanjutkan, lapangan usaha utama perekonomian Denpasar yaitu pada sektor Akmamin (21,30%), Jasa Pendidikan (12,74%) dan Konstruksi (11,10%).

Denpasar merupakan kota dengan jumlah usaha mikro, kecil, menengah dan besar tertinggi secara total di Provinsi Bali (97.526 usaha dari total 482.484 usaha di Bali). Kata Donny, Denpasar memiliki potensi dalam pengembangan industri kreatif di kota Denpasar.

Didukung dengan Gedung Dharma Negara Alaya, merupakan ruang kreativitas yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dalam berkreasi sehingga ke depannya gedung ini diharapkan menjadi pusat kajian dan pengembangan ekonomi kreatif dan kesenian di kota Denpasar.

Tentunya, potensi industri kreatif ini diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi kota Denpasar ke depannya. Dari sisi perkembangan harga, Provinsi Bali mengalami deflasi -0,58% (mtm) pada Mei 2021.

Deflasi terjadi pada kota IHK yaitu kota Denpasar sebesar -0,59% (mtm) dan Singaraja sebesar -0,50%. Komoditas utama penyumbang deflasi antara lain canang sari, cabai rawit dan cabai merah.

Meski demikian, harga emas perhiasan, tongkol diawetkan dan minyak goreng mengalami kenaikan. Penurunan harga merupakan dampak normalisasi pasca HBKN di bulan April 2021 di antaranya Galungan dan Kuningan.

Bank Indonesia merekomendasikan sejumlah kebijakan untuk pengendalian inflasi serta pemulihan ekonomi Denpasar ke depan yaitu: akselerasi pembangunan di sektor hilir dan industri kreatif.

"Kemudian pemanfaatan pekarangan rumah penduduk untuk penanaman komoditas hortikultura," sambungnya.

Tak kalah pentingnya mendorong kerja sama antar daerah dan mendorong pembentukan BUMD pangan. BI juga merekomendasikan untuk pemanfaatan aplikasi SiGapura untuk mendukung informasi simetris bagi konsumen dan edukasi belanja bijak.

Rapat dipimpin langsung Wakil Walikota Denpasar, I Kadek Agus Arya Wibawa, juga dihadiri oleh Eman Sulaeman, Kepala BPS Kota Denpasar serta diikuti oleh seluruh anggota TPID Kota Denpasar.

Wakil Walikota Denpasar Arya Wibawa menyebut pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama satu setengah tahun telah berdampak pada perekonomian Bali dan kota Denpasar.

Terdapat tiga hal yang menjadi penekanan dalam upaya pengendalian inflasi di kota Denpasar yaitu (1) Menjaga rantai pasokan barang dan jasa. "Kedua, perlunya menjaga daya beli masyarakat," kata Arya Wibawa.

Ketiga Menjaga keseimbangan supply dan demand terutama pada komoditas pangan yang mengalami kenaikan di tengah penurunan daya beli masyarakat.

Pihaknya mengapresiasi Bank Indonesia dalam melakukan pendampingan terhadap pelaksanaan pengendalian inflasi di daerah dan harapannya sinergi daerah dengan stakeholder dapat terjaga. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi