Sandiaga Uno Rangkul BTB Hadirkan Destinasi Wisata Berkualitas dan Berkelanjutan

Minggu, 13 Juni 2021 : 00.00
Menparekraf Sandiaga Uno usai berdiskusi dengan BTB di kantor BTB, Jalan Raya Puputan Nomor 41 Renon Denpasar, Bali pada Sabtu (12/6/2021)/Dok. BTB

Denpasar - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Republik Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno berkolaborasi dengan menggandeng Bali Tourism Board (BTB) sebagai penggerak penciptaan pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan.

Pembukaan pariwisata Bali ditargetkan pada Juni-Juli 2021 dan dalam kaitan itu, Sandiaga Uno usai berdiskusi dengan BTB di kantor BTB, Jalan Raya Puputan Nomor 41 Renon Denpasar, Bali pada Sabtu (12/6/2021).

BTB sebagai organisasi yang merupakan gabungan dari sembilan asosiasi di Bali itu dimintanya untuk berperan serta dalam merealisasikan sejumlah pra kondisi pembukaan pariwisata Bali.

Antara lain penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin hingga perluasan testing terhadap wisatawan yang berlibur di Bali. Peran serta dukungan dari BTB katanya sangat penting, mengingat kebijakan yang dihadirkan oleh pemerintah nantinya secara langsung dijalankan oleh seluruh anggota BTB.

Pihaknya baru saja melakukan diskusi dan ini penyiapan konkret dari finalisasi persiapan pembukaan Bali.

"Tentunya kita butuh dukungan industri, karena akhirnya nanti yang akan mengeksekusi adalah temen-temen yang ada di garda terdepan, yaitu yang bergerak di industri pariwisata dan ekonomi kreatif," ungkap Sandiaga Uno.

Banyak masukan yang kami terima, tapi kami ingin meyakinkan bahwa proses penyiapan ini akhirnya bisa difinalkan jika kita mendapat dukungan dari semua pihak, terutama dari industri.

"Karena langkah-langkah kerja yang ingin kita pertahankan ini semuanya ada di industri," jelasnya. Pembukaan pariwisata Bali diharapkannya dapat memulihkan perekonomian, terutama sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.

Sebab, merujuk laporan keuangan pada akhir kuartal kedua yang berakhir pada Juni 2021, dijelaskannya perekonomian Bali kembali terkontraksi. Bahkan, keuangan sejumlah hotel di Bali dilaporkan telah berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat ini.

"Dua minggu lagi kuartal kedua berakhir, nah data yang saya dapat bahwa kontraksi di Bali berlanjut dan angkanya ini tidak terlalu jauh dibandingkan dengan kuartal pertama, malah terkontraksi cukup dalam," paparnya.

Kata dia, semua harus bergerak cepat dan kita harus menghadirkan kebijakan yang tepat sasaran, tepat manfaat dan tepat waktu bagi siapa saja yang betul-betul membutuhkan. Kalau tidak akan terjadi permanent damage atau kerusakan yang total dan fatal.

Peran lebih lanjut dipaparkannya, peran serta seluruh pihak dibutuhkan dalam melengkapi pra kondisi pertama yakni, pengendalian covid-19 serta sejumlah pra kondisi lainnya.

Seperti pra kondisi kedua, yakni kondisi covid-19 secara global. Pra kondisi ketiga yang berkaitan dengan Travel Corridor Arrangement yang meliputi persyaratan bagi wisatawan, seperti sudah tervaksin dan melalui beberapa tahapan seperti testing sebelum keberangkatan.

"Dan penanganan end to end CHSE (Cleanliness, Health, Safety, Environment Sustainability) ini juga menjadi pertimbangan utama," ungkap Sandiaga Uno.

"Nah tentunya kesiapan ini yang sekarang kita prioritaskan, mudah-mudahan, Insya Allah kita semangat supaya temen-temen di sini juga memiliki secercah harapan agar pariwisata dan ekonomi kreatif serta ekonomi kita semua, lapangan kerja bisa terselamatkan," tutupnya.

IB Partha Adnyana Ketua GIPI Bali dalam diskusi tersebut juga menyampaikan bahwa Bali Membutuhkan Kebijakan Spasial (khusus) Bagi Akselerasi Pemulihan Ekonomi Bali, untuk menghindari kerusakan yang permanent bagi Bali.

“Kebijakan spasial di bidang fiskal keuangan dan kebijakan spasial dibidang pembukaan bagi PPLN (Pelaku Perjalanan Luar Negeri) karena saat ini kondisi Bali sangat siap untuk menerima untuk karantina seperti halnya Jakarta, Surabaya, Medan dan Menado”, tutur pria yang akrab dipanggil Gus Agung.

Pada diskusi yang bergulir yang dihadiri 10 stakeholder dari GIPI Bali, Bali MICE Forum, Dinas Pariwisata Bali tersebut sejumlah perwakilan asosiasi juga menyampaikan dukungannya terhadap Work From Bali dan berharap kegiatan ini bisa membantu kondisi Bali saat ini yang sangat parah dialami para pelaku industri pariwisata dan UMKM.

Ketua Bali MICE Forum Putu Gede Wiwin Gunawasika, menegaskan BMF berharap kegiatan audiensi beberapa waktu lalu bisa dibantu difasilitasi juga oleh Kemenparekraf untuk ke sejumlah instansi dan perusahaan swasta lainnya, serta menghimbau agar program dan kegiatan yang dilakukan di Bali bisa dikerjakan oleh PCO/EO dari Bali sehingga tidak hanya dikerjakan oleh PCO/EO dari Jakarta. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi