Peranan Perempuan dalam Perjuangan Rakyat Bali

Rabu, 30 Juni 2021 : 16.22
Sarasehan Peran Perempuan dalam Perjuangan Rakyat Bali/ist

Denpasar - Sarasehan peran perempuan dalam perjuangan rakyat Bali digelar di UPTD Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Denpasar, Rabu (30/6/2021).

Acara ini serangkaian dengan ulang tahun Museum Perjuangan Rakyat Bali ke-18 tahun. Pada acara kali ini diisi narasumber Luh Riniti Rahayu dan I Gusti Ngurah Seramasara.

Ngurah Seramasara mengatakan, terdapat beberapa perempuan yang berperan di balik perjuangan Bali, salah satunya Jero Jempiring,keterlibatan beliau tidak hanya terlibat fisik namun memberikan inspirasi dan kekuatan melawan belanda.

“Perempuan itu memiliki kemampuan Keksipokogis dalam memberikan kekuatan  kepada suami. Keterlibatan jero jempiring memberikan kekuatan simbolik. Perlu dikaji lebih lanjut oleh psikologis,” ujar Seramasara.

Juga, ada Dewa Agung Istri Kanya sering disebut wanita besi,karena tidak pernah mau menyerah dalam melawan tentara Belanda apapun yang terjadi Belanda harus pergi dari Bali.

Dewa Agung memimpin perlawanan rakyat Klungkung menentang invasi Belanda di Desa Kusamba, Bersama Mangkubumi Dewa Agung Ketut Agung, Dewa Agung.

Istri Kanya mengarsiteki penyerangan balasan terhadap Belanda di Kusanegara yang berujung pada gugurnya pimpinan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal A.V. Michiels.

Menurut Luh Riniti Rahayu ada 3 peran perjuangan ini peran perempuan yang pertama model melawan penjajah Ini sebelum masa kemerdekaan.yang tercatat pada sejarah.

Model kedua perempuan dalam pendidikan adalah seperti memajukan pendidikan seperti kartini yang berjuang dengan penanya.

Sedangkan di Bali dari Tahun 1936 sudah ada untuk memajukan anak-anak dan kaum perempuan, mereka mengumpulkan dana untuk membiayakan sekolah dan melawan tradisi yang tidak adil.

Perempuan Bali dulu tidak di sekolah. Anak perempuan setelah nikah anak perempuan tinggal di suaminya. Perempuan menjadi tidak pelajar dan seperti dalam tempurung.

Model ketiga organisasi dan politik dikatakan masih jauh dari apa yang kita harapkan.namun politik di Indonesia sudah ada politikus perempuan,presiden perempuan dan pemimpin daerah perempuan. (lif)

Bagikan Artikel

Rekomendasi