Gubernur Bali: Indonesia Negara Maritim Sudah Sepatutnya Tidak Impor Garam

Senin, 28 Juni 2021 : 13.38
Gubernur Wayan Koster saat membuka Rakernas Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) ke-1 Tahun 2021 sekaligus dirangkaikan dengan HUT ke-60 di Kuta, Badung/Dok.Humas Pemprov Bali

Badung - Gubernur Bali I Wayan Koster mengatakan sebagai negara maritim Indonesia sudah sepatutnya tidak perlu impor garam untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Gubernur Koster menyampaikan itu saat membuka Rakernas Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) ke-1 Tahun 2021 sekaligus dirangkaikan dengan HUT ke-60 di Kuta, Badung, Sabtu 26 Juni 2021.

Lebih lanjut Koster menyatakan saat ini masih ada kebijakan yang berpihak dengan impor. Hal ini kemudian membuat produk-produk lokal Kita tertekan. Sebagai negara agraris, kata Koster sudah sepatutnya tidak impor beras. Akan tetapi impor berasnya terus. Impor bawang putih juga terus.

"Kita sebagai negara kelautan, negara maritim, sudah sepatutnya tidak impor garam. Namun garamnya juga impor," Koster menegaskan. Bagaimana ini? Kebalik-balik kita? Udah ngak benar caranya begini, kata mantan Anggota DPR-RI 3 Periode dari Fraksi PDI Perjuangan ini.

Atas kondisi itu, Gubernur Koster mengingatkan seluruh GPEI yang ada di Bali, bahwa Pulau Dewata ini punya garam terkenal di Kusamba, Klungkung, di Amed, Karangasem, di Tejakula, Buleleng, hingga di Jembrana. Jadi sangat luar biasa.

"Tapi garam di Bali yang begitu bagus kualitasnya, garam kita sebenarnya disenangi di luar negeri, gara-gara garam beryodium menjadikan garam Bali ngak bisa dijual di Pasar Tradisional, karena ada aturannya," jelas Koster.

Ditambahkan jika mau berpihak pada Indonesia yang kaya raya terhadap pertanian dan kelautannya, maka Kita harus berubah secara politik. Sebagai solusinya di dalam memberikan perlindungan dan keberpihakan terhadap produk lokal Bali.

Dia telah mencatat ekonomi Bali mengalami ketimpangan yang sangat tajam, yakni 52 persen lebih ekonominya bersumber dari pariwisata. Sedangkan pertanian dan kelautannya hanya sekitar 22 persen.

Jadi ketika sumber yang besar ini terganggu, maka ekonomi Bali langsung mengalami kontraksi. Merujuk atas masalah inilah, di masa pandemi akan dijadikan momentum untuk menyeimbangkan struktur perekonomian Bali, antara pariwisata, pertanian, kelautan dan industri.

Gubernur alumnus ITB ini menceritakan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional juga telah mengikuti rencana penyeimbangan struktur perekonomian Bali, antara pariwisata, pertanian, kelautan dan industri.

“Sehingga sekarang Bapennas bersama Tim dari Bali sedang merancang transformasi ekonominya, kata Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini. Bali di sektor pertanian dan kelautan yang sangat kuat tradisinya dan potensinya.

Ternyata selama ini tidak pernah diberikan kebijakan yang tepat. Industrinya yang selama ini berkembang secara alamiah, juga tidak melalui desain arah kebijakan yang terencana, terintegrasi, terpadu satu sama lain.

"Untuk itu, sekarang Saya akan susun agar menjadi sumber atau produk ekspor, dan tahun 2022 bersiap on atau aktif," sambungnya. Mengingat keberpihakan untuk mendukung ekspor dan ekosistemnya selama ini tidak ada.

Pihaknya salut sudah ada yang jalan secara alamiah ekspornya. Namun sekali lagi, sudah semestinya ekspor produk di Bali ini harus by desain, dipimpin oleh Pemerintah, dan bekerjasama dengan semua stakeholder.

Gubernur Koster menyatakan di Bali saat ini telah ada Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

"Saya minta Bulog kalau membeli beras cadangan, gunakanlah beras lokal, jangan beli beras dari luar hingga impor," katanya. Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno memberikan dukungan kepada Bali untuk melirik pasar ekspor.

Ia mengharapkan bahwa di dalam menjalankan ekspor, harus selalu bekerjasama dengan Kementrian Luar Negeri, Kedutaan Besar di seluruh dunia untuk memasarkan barang-barang yang akan di ekspor, dan hal ini sudah dilakukan oleh GPEI. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi