Bukukan Laba Rp15,3 Triliun Pengorbanan Karyawan Pertamina Patut Diapresiasi

Kamis, 24 Juni 2021 : 09.19
Ilustrasi/Dok. Pertamina

Jakarta - Kinerja Holding Minyak Bumi dan Gas (Migas) PT. Pertamina (Persero) yang membukukan keuntungan (laba) bersih tahunan (Tahun Anggaran 2020) mencapai Rp15,3 Triliun di tengah korporasi Migas besar dunia yang mengalami kerugian patut diapresiasi terlebih para karyawan yang telah berkurban untuk meningkatkan kinerja BUMN tersebut.

Berdasarkan keterangan resmi (release) yang disampaikan PT Pertamina (Persero) pada Hari Senin, 14 Juni 2021, BUMN Holding Migas ini mencatatkan laba bersih konsolidasian (audited) sebesar US$1,05 Miliar atau sekitar Rp15,3 Triliun (kurs US$1 =Rp14.572) selama Tahun 2020.

Ekonom Konstitusi Defiyan Cori melihat, laba tersebut sebenarnya mengalami penurunan drastis sebesar 60,05 persen dibandingkan capaian sejumlah Rp35,8 Triliun pada 2019.

Meski demikian, capaian tersebut masih lebih baik di tengah pandemi Covid-19 yang berdampak kepada fluktuasinya (naik-turun) harga minyak mentah dunia dan dibandingkan dengan capaian perusahaan minyak dunia lainnya.

Sebagai contoh, misalnya laba bersih perusahaan minyak raksasa Arab, Saudi Aramco anjlok 44,4 persen menjadi hanya US$49 Miliar pada 2020 dibanding capaian Tahun 2019 dengan alasan akibat pandemi Covid-19.

Presiden dan CEO Saudi Aramco Amin Nasser melalui CNN.com menyampaikan, bahwa pandemi covid-19 telah membuat permintaan minyak merosot tajam. Pada saat yang bersamaan, Arab Saudi justru meningkatkan produksi sebagai bagian dari "perang harga" melawan produsen minyak Rusia.

Contoh lain, yaitu Exxon Mobile, perusahaan migas Amerika Serikat ini mengalami kerugian mencapai lebih dari US$22,4 Miliar pada Tahun 2020 atau setara Rp326,4 Triliun lebih.

Padahal, Tahun 2019, perusahaan ini masih mampu membukukan laba bersih sejumlah US$14,34 Miliar atau sekitar Rp200,9 Triliun, atau menurun sebesar lebih dari 400 persen lebih.

Defiyan melanjutkan dengan pertanyaan, bagaimana Pertamina bisa memperoleh laba bersih yang cukup signifikan itu? Mungkin logika akuntansi sederhana diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada publik mengenai laporan keuangan BUMN Pertamina yang telah diaudit tersebut.

Logika Akuntansi Sederhana

Ditengah kondisi perekonomian dunia yang disebut oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sedang terkena triple shock dan dialami oleh berbagai perusahaan, capaian kinerja positif Pertamina patut menjadi perhatian publik.

Justru pada masa  pandemi Covid-19 Pertamina menunjukkan kinerja yang berbeda dengan perusahaan migas dunia hebat lainnya.

Seperti dijelaskan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, kemampuan bertahan dan berkinerja baik dengan melakukan efisiensi 30% pada biaya operasional dan 25% atas anggaran belanja modal.

Walaupun demikian, Pertamina juga pernah mencapai produktifitas yang kurang baik, yaitu mengalami kerugian pada Semester I/2020 sejumlah $US 700 Juta atau sekitar Rp11 Triliun.

Terhadap capaian ini, Pertamin saat itu menepis keraguan publik terhadap kemampuan memperoleh laba bersih tahunan sampai akhir Tahun 2020 dengan menanggapinya melalui rasa optimis akan mampu menghasilkan laba bersih sejumlah $US800 Juta atau sekitar Rp 11,28 Triliun (kurs US$1=Rp 14.100) dan EBITDA sejumlah $US7 Miliar.

Dengan posisi kinerja keuangan seperti itu, 3 (tiga) lembaga pemeringkat internasional yaitu Moody's, S&P, dan Fitch kembali menetapkan Pertamina pada tingkatan investment grade masing-masing baa2, BBB, dan BBB.

Hal ini menunjukkan, bahwa tingkat kepercayaan investor tetap tinggi dan mengindikasikan tingkat ketangguhan (resilience) yang cukup baik dalam mengatasi dampak pandemi covid 19 pada Tahun 2020.

Ditengah kondisi bencana (force majeur) yang mendera bangsa Indonesia dan berbagai perusahaan migas dan non migas dunia merugi atau berkinerja negatif, bahkan sampai melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pada karyawannya, Pertamina justru memberikan kontribusi atau setoran pada Kas Negara dalam bentuk pajak, dividen, dan PNBP sampai dengan bulan Oktober 2020 sejumlah Rp104 Triliun.

Apa yang menyebabkan BUMN Pertamina masih membukukan laba tahunan meski terjadi penurunan sebesar 60%?.

Secara umum, kalau menggunakan model akuntansi dagang sederhana misalnya, kalau penjualan pada periode sebelumnya Rp 54.000 dan beban/biaya yang dikeluarkan hanya Rp46.000, maka terdapat selisih atau laba kotor sejumlah Rp8.000 lalu dikurangi lagi dengan jumlah beban/biaya administrasi dan umum akan diperoleh laba bersih.

Apa saja pos-pos beban/biaya dagang serta administrasi dan umum akan sangat dipengaruhi oleh jenis dan karakter masing-masing usaha/bisnis dalam suatu industri.

Demikian pula halnya dengan BUMN Pertamina, apa yang membuat perusahaan yang sahamnya masih 100 persen milik negara ini berkinerja positif? Kalau dari laporan keuangan konsolidasi yang telah dipublikasikan, maka diperoleh kinerja penjualan/pendapatan Pertamina Tahun 2020 sejumlah Rp604,3 Triliun.

Kemudian, lanjut Defiyan, dibandingkan penjualan/pendapatan pada Tahun 2019 yang sejumlah Rp 794,5 Triliun (US$1 = Rp14.500), terdapat penurunan sejumlah Rp190,2 Triliun atau sebesar 23,9 persen.

Sementara itu, beban/biaya penjualan yang mempengaruhi besar dan kecil laba kotor perusahaan pada Tahun 2020 dikeluarkan sejumlah Rp502,98 Triliun.

Sedangkan sejumlah Rp676,2 Triliun telah dikeluarkan pada Tahun 2019 atau lebih besar dibandingkan dengan jumlah beban/biaya Tahun 2020. Berarti, terdapat penurunan beban/biaya dengan selisihnya sejumlah Rp173,22 Triliun atau sebesar 25,6 persen.

Laba kotor diperoleh perusahaan masing-masing, yaitu pada Tahun 2020 Rp101,32 Triliun dan Tahun 2019 sejumlah Rp118,3 Triliun, berkurang sejumlah Rp16,98 Triliun atau sebesar 14,35 persen.

Lalu, bagaimana halnya dengan laba bersih yang dihasilkan sejumlah Rp15,3 Triliun oleh BUMN Pertamina, pos-pos beban/biaya apa saja yang berkontribusi?

Dengan penjualan/pendapatan yang menurun dari Tahun 2019 ke 2020 sebesar 23,9 persen itu, maka tingkat efisiensi yang dihasilkan oleh jajaran SDM Pertamina itu sebesar 25,6 persen atau lebih tinggi dari penurunan penjualan/pendapatan dengan selisih 1,7 persen.

"Artinya, tingkat efisiensi yang lebih tinggi memungkinkan perusahaan mencapai efektifitas kinerja dalam menghasilkan laba kotor dibandingkan apabila tidak melakukan kebijakan tersebut," ungkapnya.

Begitu juga halnya dengan laba bersih yang diperoleh sejumlah Rp15,3 Triliun pada Tahun 2020, lebih rendah dibandingkan yang diperoleh Tahun 2019 sejumlah Rp35,8 Triliun atau menurun sejumlah Rp20,5 Triliun atau sebesar 57,2 persen (hampir 60%).

Lanjut Defiyan, jumlah pendapatan laba sebelum beban bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) yang sejumlah Rp86,02 T pada Tahun 2020 lebih tinggi dibanding Tahun 2019 yang sejumlah Rp82,5 Triliun atau sebesar 4,27 persen.

"Apresiasi patut diberikan kepada para karyawan PT. Pertamina yang telah berkorban demi kinerja positif perusahaan negara ini melalui pengurangan pos gaji, upah dan tunjangan lainnya," imbuhnya.

Defiyan mengungkapkan, mengacu pada pos pengeluaran gaji, upah dan tunjangan karyawan ini, maka memang beban/biayanya turun dari sejumlah US$361.026.000 atau setara Rp5,26 Triliun pada Tahun 2019 menjadi US$281.819.000 sekira Rp4,1 Triliun pada Tahun 2020 atau turun sejumlah US$79.207.000, setara Rp1,15 Triliun atau sebesar 28 persen.

"Dengan kas secara umum yang pada Tahun buku 2020 dimiliki oleh BUMN Pertamina sejumlah Rp144,8 Triliun sesuai yang tercantum dalam laporan keuangan konsolidasi, berapakah pengorbanan jajaran Direksi dan Komisaris Pertamina atas capaian laba tersebut?," tanya Defiyan mengakhiri. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi