Wamenkumham Prof Eddy Berikan Klarifikasi Pernyataannya soal Penyidik KPK

Sabtu, 08 Mei 2021 : 14.43
Wakil Menteri Hukum dan HAM (Wamenkumham) Edward Omar Sharif Hiariej atau yang akrab disapa Eddy Hiariej/Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden

Jakarta - Berita dan beredarnya video rekaman yang menyebut perilaku tidak etis dari para penyidik KPK mendapat klarifikasi Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Edward Omar Sharif Hiariej atau dikenal Eddy Hiariej.

Video diposting pengguna twitter @_AnakKolong, menyebutkan, bahwa penyidik KPK kerap mengintimidasi para hakim agar mereka memutuskan perkara sesuai keinginan penyidik.

Menurut Eddy, rekaman tersebut adalah rekaman lama saat acara bedah buku di kampus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang lama.

Baca Juga

Kepala ORI Bali: Saya Malu Kalau Ada Bupati Diperiksa KPK

“Video yang beredar adalah video lama, dalam acara bedah buku di kampus UII lama, sekitar 22 Januari 2019,” papar Guru Besar Hukum UGM dalam keterangan tertulis diterima wartawan, Sabtu (8/5/21).

Pihaknya menyayangankan, media yang memberitakan isi rekaman tersebut karena hanya mensumberkan diri sepenuhnya pada isi rekaman dan informasi media sosial tanpa klarifikasi atau cek ricek kepadanya.

Dalam pandnagan Eddy, pemberitaan itu sangat tidak etis. Berita yang dimuat diambil sepenuhnya dari video dan informasi media sosial tanpa klarifikasi kepada dirinya.

Disebutkan, pada sekitar Agustus-September 2019, menurut Eddy, video ini juga sempat viral menjelang revisi UU KPK. Kini, dikala KPK sedang mendapat sorotan, video tersebut kembali viral dan beritanya dinaikkan oleh media online.

Atas beredarnya video dan berita itu, Eddy menyatakan, tampaknya ada yang mau mencoba framing video lama yang dikaitkan dengan situasi terkini untuk memperkeruh suasana.

Karenanya, dia meminta agar pers dalam setiap pemberitaan lebih berhati-hati dan mengedepankan integritas, bukan semata mengejar kecepatan dan jumlah pembaca dengan cara menyajikan berita kontroversial tanpa upaya both cover side.

“Harap Pers dalam menerbitkan berita lebih beretika dan bermartabat dan tidak mencari keuntungan semata dengan menghalalkan segala cara termasuk memperkeruh suasana di tengah perhatian kita bersama untuk menanggulangi Pandemi Covid 19”, tutupnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi