Ungkap Kesedihan, Moeldoko: Wimar Witoelar Tokoh Reformis Meninggal Menjelang Hari Reformasi

Rabu, 19 Mei 2021 : 12.16
Wimar Witoelar/Dok.Wikipedia

Jakarta -Berpulangnya Wimar Witoelar meninggalkan duka cita mendalam apalagi tokoh reformis itu meninggal dunia menjelang Hari Reformasi 21 Mei.

Kepala Staf Kepresidenan Jend TNI (Purn) Dr. Moeldoko salah satunya yang menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Wimar Witoelar, Mantan Juru Bicara Pesiden ke-4, Abdurrahman Wahid, Rabu (19/5/2021).

Bangsa Indonesia kehilangan Wimar yang selama ini dikenal sebagai tokoh reformasi Indonesia, jurnalis, sekaligus kolumnis yang bernas, karena keberaniannya memberikan kritik pada era pemerintahan Orde Baru.

“Pak Wimar selalu memberi lontaran-lontaran jenaka namun kritis pada setiap program televisi yang dipandunya,” kata Moeldoko dalam rilisnya. Kelantangannya membuat Wimar masuk dalam jajaran aktivis yang terpandang dan disegani sejak era itu hingga sekarang.

"Atas nama pribadi dan keluarga besar KSP, kami menyampaikan duka yg mendalam atas berpulangnya Mantan Juru bicara Pesiden ke-4 Gus Dur Wimar Witoelar karena sakit. Hari ini beliau meninggal, hampir bersamaan dengan peringatan Hari Reformasi, 21 Mei.

Insyaallah beliau mendapat anugerah husnul khotimah, diampuni segala salah dan khilafnya, dilipatgandakan pahala amal dan ibadahnya, serta mendapat tempat mulia di sisi Allah SWT," ucap Kepala Staf Kepresidenan.

Wimar Witoelar adalah mitra strategis KSP, selain penguasaan isu-isu substantif yang sering kami bahas bersama, beliau piawai dan selalu mengingatkan bahwa penguasaan komunikasi media salah satu yang utama.

"KSP merasa kehilangan seorang sahabat yang luar biasa," ucap Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani. Dia menyatakan bangsa Indonesia telah kehilangan Wimar yang selama ini dikenal sebagai sosok pemikir dan pengayom.

"Bapak Wimar Witoelar yang kami kenal adalah seorang sahabat yang selalu punya ide-ide genuine tentang Indonesia yang di glorifikasi melalui media komunikasi yang bernas. Melalui tangan dinginnya Perspektif baru identik dengan namanya sekaligus pemikiran-pemikirannya.

"Pak Wimar mengajarkan kepada kita bagaimana menyintai Indonesia dengan kritis. Selamat jalan Pak Wimar....,” kata Jaleswari. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi