Konsumen Diharapkan Bijak Sikapi Fluktuasi Harga Minyak Mentah Dunia

Senin, 24 Mei 2021 : 12.07
Tambang minyak.sebagai ilustrasi/Shutterstock

Jakarta - Masyarakat atau konsumen diharapkan bisa bertindak secara arif dan bijkasana dalam menyikai harga minyak mentah dunia terus berfluktuasi sejak bulan Januari Tahun 2020. Pada hari Jum'at, 21 Mei 2021 harga anjlok lebih dari 2% pada akhir perdagangan Kamis (Jumat pagi WIB).

Gejolak naik turun harga itu kali ketiga secara berturut-turut yang berpotensi merugikan produsen minyak, baik hulu dan hilir industri Bahan Bakar Minyak (BBM) ini.

Anjloknya harga minyak yang berturut-turut ini telah mengundang tanggapan (respon) para diplomat negara penghasil minyak mentah dengan menyatakan akan membuat kesepakatan untuk mencabut sanksi USA terhadap Iran, yang dapat meningkatkan pasokan minyak mentah.

Berdasarkan data harga minyak mentah yang dipublikasi, harga berjangka Brent untuk pengiriman Juli mengalami penurunan US$1,55 atau 2,3%, atau tetap pada angka US$65,11 per barrel.

Sedangkan, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2021 mengalami penurunan sejumlah US$1,31 atau 2,1% lebih rendah, menjadi US$62,05 per barel.

Ekonom Konstitusi Defiyan Cori mengungkapkan, telah lebih dari 2 (dua) tahun harga BBM Pertamina tidak mengalami kenaikan secara signifikan.

Ditambah adanya penugasan (PSO) dari Pemerintah melalui Perpres 121 Tahun 2014 yang diperbaharui melalui Perpres No. 43 Tahun 2018 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Harga Jual Eceran Bahan Bakar Minyak dengan tetap memproduksi harga BBM khusus dan tertentu telah memberatkan posisi keuangan BUMN Pertamina dan Keuangan Negara melalui APBN.

"Sebagian besar produsen atau perusahaan minyak dunia telah melakukan penyesuaian atas harga BBM retail yang dijual kepada konsumen untuk mensiasati fluktuasi harga minyak mentah dimaksud, dan oleh karena itu menjadi masuk akal (reasonable) Pertamina sebagai BUMN strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak melakukan langkah yang serupa," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Senin (24/5/2021).

Mengacu pada kedua alasan diatas, seluruh konsumen BBM dari sabang sampai merauke di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, agar memahami dan mengambil sikap arif dan bijaksana apabila terjadi penyesuaian harga BBM sebagai akibat fluktuasi harga minyak mentah dunia tersebut.

Namun demikian, sebelum penetapan kebijakan penyesuaian harga BBM bersubsidi dan non subsidi dilakukan, maka Pemerintah melalui Menteri ESDM perlu mengkaji ulang Keputusan Menteri Nomor :62.K/12/MEM/2020 tentang Formula Harga Dasar Dalam Perhitungan Harga Jual Eceran Jenis Bahan Bakar Minyak Umum Dan Minyak Solar Yang Disalurkan Melalui Stasiun Bahan Bakar Umum Dan/Atau Stasiun Bahan Bakar Nelayan.

"Khususnya terkait alasan penentuan harga berdasar formula MOPS (Mean Oil Platt Singapore) yaitu, harga rerata transaksi bulanan minyak di pasar Singapura beserta konstanta yang selalu berubah-ubah," urainya.

Termasuk alasan kewajiban BUMN Pertamina melaporkan setiap kenaikan atau penurunan harga BBM kepada Menteri ESDM, sementara formulasi harga BBM tidak disusun oleh BUMN Pertamina.

"Kemudian, meminta Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk lebih pro aktif dan mengambil inisiatif bersama Kementerian Keuangan dalam menghadapi situasi ini dan menindaklanjuti kebijakan energi alternatif secara konsisten," tandasnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi