Sosok Umbu 'Guru Alam' Landu Paranggi di Mata Seniman Bali Putri Koster

Selasa, 13 April 2021 : 16.19
Seniman multilenta Ni Putu Putri Suastini Koster/Dok.Humas Pemprov Bali

Badung - Penyair budayawan Umbu Landu Paranggi meninggalkan banyak kesan bagi banyak orang terlebih sesama seniman seperti dirasakan seniman multilatenta Bali Ni Putu Putri Suastini Koster. Baginya, Umbu adalah Guru Alam yang lelaku hidupnya banyak hal yang perlu diteladani.

“Secara fisik kehilangan namun kami juga bersyukur bahwa Bapak Umbu kini telah pergi untuk meraih kebahagiaan,” ujar Putri saat prosesi penghormatan inkulturasi antara liturgi Kristiani dan ritual Kurukudu dalam tradisi Sumba kepada mendiang Umbu Landu Paranggi, yang dilaksanakan di Taman Makam Kristiani Mumbul, Jalan Bypass Ngurah Rai, Nusa Dua Badung, Senin 12 April 2021.

Di balik kepolosan dan konsistensi Umbu, di dunia sastra, penyair yang dijuluki Budayawan Emha Ainun Najib Presiden Maliobori itu, tidak hanya berlaku sebagai guru sastra tetapi ‘guru alam’ bagi semua.

Putri sangat mengagumi jasa-jasa sosok yang sering disebut mahaguru para penyair di Indonesia tersebut bagi perkembangan dunia sastra di Bali, meskipun Pulau Dewata bukan merupakan tanah kelahirannya.

Meski lahir dari darah biru, keluarga bangsawan di tanah Sumba, nyatanya berperan besar dalam tatanan tingkah laku hidup yang baik di Bali, Jawa, Sumatera dan lainnya.

"Itu yang membuat kita semakin bangga dengan beliau,” tukasnya. Dirinya juga mengibaratkan sang penyair seperti satu sayap yang mengepak menempuh jalan sunyi, sementara sayap lainnya dikepak sang istri, untuk menata kehidupan keluarga.

“Keduanya, sama-sama memberikan makna pada orang-orang di sekitarnya, beliau telah menorehkan banyak pelajaran hidup kepada para muridnya yang tersebar di seluruh Tanah Air. terus bergerak di ruang sunyi, tak kenal lelah,” katanya.

Berpulangnya Umbu Landu Paranggi, juga diharapkan Putri Koster seyogyanya jadi momentum untuk kembali mengasah batin dan lelaku lewat sastra dan kata-kata.

Bukan hanya mengagungkan diri sendiri, namun biar kita diagungkan orang lain. Bukankah sudah jalannya, ketika kita lahir, kita menangis namun orang lain berbahagia. Sedangkan saat kita meninggal kita berbahagia dan orang lain yang menangis.

"Yang terpenting doa kita bersama, bagi beliau yang sudah memberikan tuntunan terbaik bagi kita,” pesannya. Umbu meninggal dunia pada usia 77 tahun, Selasa (6/4/2021) dini hari di RS Bali Mandara, Denpasar, Bali setelah sebelumnya sempat dirawat selama 3 hari.

Dikenal sebagai merupakan penyair besar Indonesia yang juga sosok mahaguru para penyair yang lahir di Kananggar, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, 10 Agustus 1943.

Dari tangannya telah lahir banyak penyair maupun sastrawan besar, sebut saja Emha Ainun Nadjib, Korrie Layun Rampan, Linus Suryadi AG. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi