Percontohan Klaster Tambak Udang Berkelanjutan di Cianjur Sukses Panen Senilai Rp2 Miliar

Senin, 19 April 2021 : 15.40
Keberadaan percontohan klaster tambak udang berkelanjutan yang merupakan hasil kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Perum Perhutani sebagai pemilik lahan di Cidaun, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat mendulang banyak apresiasi/Dok.KKP.

Jakarta - Percontohan klaster tambak udang di Kabupaten Cianjur Jawa Barat dengan luas sekitar 4 hektare terdiri dari 15 kolam produksi dengan masa pemeliharaan 110 hari berhasil panen perdana udang vaname sebanyak kurang lebih 30 ton.

"Nilanya kurang lebih Rp2 miliar,” papar Ahmad Hidayat selaku wakil ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dalam keterangannya, Senin (19/4/2021).

Keberadaan percontohan klaster tambak udang berkelanjutan yang merupakan hasil kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Perum Perhutani sebagai pemilik lahan di Cidaun, Kabupaten Cianjur, Provinsi Jawa Barat mendulang banyak apresiasi.

Bahkan, percontohan tambak udang berkelanjutan tersebut berhasil menggerakkan ekonomi setempat.

“Alhamdulillah awalnya kami minim sekali terkait informasi teknologi budidaya tambak udang berkelanjutan, dengan pengawalan teknologi dari Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, kami bisa berhasil melakukan panen udang vaname sesuai dengan target yang diinginkan," lanjutnya.

Hasil panennya memuaskan bisa mencapai target, apalagi ini menjadi sumber pendapatan kami di LMDH, apalagi situasinya masih pandemi seperti sekarang ini.

Ahmad dalam keterangannya mengatakan bahwa hasil panen dari budidaya tambak udang sangat menambah pendapatan anggota kelompok hingga tiga kali lipat.

Uang hasil penjualannya selain dibagikan untuk anggota LMDH, digunakan juga sebagai modal selanjutnya untuk membeli seperti benih, pakan dan sarana produksi lainnya.

“Kami semua tidak menyangka dengan awalnya kami sebagai petani yang tidak memiliki ilmu untuk budidaya tambak udang, Alhamdulillah dengan semangat kerja teman-teman dari BLUPPB Karawang meskipun kondisi musim hujan tetap memberikan pendampingan hingga hasil panen kami bisa mencapai target,” papar Ahmad.

Hasil panen yang diperoleh diakuinya menjadi pendorong semangat untuk meningkatkan produktivitas tambak ke depannya. "Yang pasti kami akan menekuni ini, karena sudah terbukti hasilnya," ungkapnya.

Keberadaan tambak bukan hanya membawa berkah bagi LMDH saja melainkan juga masyarakat sekitar yang membantu operasional tambak. "Jadi memang berkahnya bukan hanya untuk kami, tapi juga warga sekitar bisa bekerja di sini," tutupnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto saat mengunjungi tambak udang berkelanjutan di Cidaun beberapa waktu lalu mengatakan sangat apresiasi dengan hasil panen yang diperoleh bisa sesuai dengan target yang diinginkan yakni bisa mencapai sekitar 30 ton serta panen totalnya bisa berhasil mencapai sekitar size 45 selama masa pemeliharaan 110 hari dengan padat tebar sebanyak 100 ekor per m2.

“Saya berharap LMDH di Cidaun ini nantinya bisa berhasil secara mandiri dan berkelanjutan dalam budidaya tambak udang serta dapat meluas ke LMDH lainnya yang berada di Kabupaten Cianjur ini. Selain itu untuk merebut pasar ekspor yakni produktivitas terjamin dan daya saing produk yang tinggi. Oleh karenanya, saya juga menghimbau untuk selalu konsisten menerapkan kaidah kaidah Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB),” jelas Slamet.

Potensi dimiliki Kabupaten Cianjur sendiri luar biasa dan berpeluang menjadi daerah penghasil udang vaname. Hal ini didukung ketersediaan lahan dan juga kondisi alam yang cocok untuk aktivitas budidaya tambak udang.

Informasi yang diperoleh dari Pemerintah Daerah Cianjur menyebut potensi lahan yang tersedia untuk budidaya tambak sekitar 110 hektare.

Lahan Perhutani ini sangat luas dan selama ini belum produktif, dengan melibatkan dan memberdayakan masyarakat lokal seperti masyarakat LMDH dengan pengawalan teknologi untuk dioptimalkan pengembangan usaha budidaya tambak udang berkelanjutan dan ramah lingkungan serta dalam rangka pencapaian target peningkatan nilai ekspor udang nasional sebesar 250% hingga tahun 2024.

"Hal tersebut sesuai dengan arahan Presiden, bagaimana masyarakat desa hutan diberikan akses ekonomi pada usaha usaha produktif," imbuh Slamet. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi