KKP Fasilitasi Pelaku Usaha Budidaya Cacing Sutra Sistem Apartemen

Minggu, 11 April 2021 : 21.37
Sistem apartemen merupakan desain wadah budidaya cacing sutra yang tersusun secara vertikal dan menggunakan aliran air dengan sistem resirkulasi/ Dok, KKP

Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), memfasilitasi pelaku usaha budidaya cacing sutra sistem apartemen.

Sektor budidaya perikanan merupakan salah satu sektor unggulan yang dapat dioptimalkan dalam meningkatkan produksi perikanan nasional sekaligus pendapatan pelaku usaha perikanan.

Namun demikian, budidaya perikanan masih menghadapi permasalahan harga pakan yang terus meningkat.

Kepala BRSDM Sjarief Widjaja menyebutkan, tingginya harga pakan ini disebabkan sebagian besar bahan baku pakan sangat bergantung pada bahan impor dari berbagai negara.

Kebutuhan akan pakan alami juga sangat tinggi pada kegiatan budidaya ikan. Untuk itu perlu adanya siasat penggunaan pakan alami yang dapat dibudidayakan serta diproduksi secara massal dan mandiri oleh para pembudidaya ikan.

"Cacing sutra atau cacing rambut (Tubifex sp.) merupakan pakan hidup bagi ikan yang berpotensi besar untuk mendukung kebutuhkan pakan alami pada budidaya ikan," tutur Sjarief.

Disebut demikian karena memiliki tubuh lunak dan lembut seperti sutra atau rambut. Cacing ini memiliki ukuran panjang 1-2 cm dengan warna kemerah-merahan dan hidup berkoloni.

Selama ini cacing sutra diperoleh secara alami di saluran irigasi/persawahan warga sehingga ketersediaan tidak stabil bahkan kurang, terlebih di musim hujan. Keterbatasan itu, lanjut Sjarief bisa dipecahkan dengan budidaya cacing sutra.

Dengan adanya adopsi dan percontohan untuk penyuluhan dapat mendukung penyediaan pakan alami di sentra-sentra perbenihan sehingga mengurangi ketergantungan terhadap cacing sutra alam dan mendukung perkembangan industri dalam rangka meningkatkan produksi perikanan budidaya.

Sistem apartemen merupakan desain wadah budidaya cacing sutra yang tersusun secara vertikal dan menggunakan aliran air dengan sistem resirkulasi.

Keuntungan budidaya sistem apartemen antara lain, efisiensi lahan; mengurangi penetrasi cahaya matahari secara langsung; lebih terkontrol; dan tidak tergantung musim.

“Usaha budidaya cukup banyak. Kalau hanya bergantung pada pakan pabrikan akan membutuhkan biaya yang cukup tinggi, sehingga tingkat keuntungan masyarakat semakin menipis.

Jika para pelaku utama mampu membudidayakan cacing sutra tentu dapat meningkatkan penghasilan. Dengan model apartemen ini, budidaya cacing sutra tidak butuh lahan luas, bisa dibuat secara bertingkat dan sederhana.

"Dengan metode ini, Anda akan memiliki peluang untuk menjadi pengusaha baru di bidang cacing sutra,” ujar Kepala BRSDM Sjarief Widjaja dalam siaran pers Minggu (11/4/2021).

Pengenalan teknologi baru ini tak lepas dari peran serta penyuluh perikanan yang berhadapan langsung dengan masyarakat di lapangan.

Penerapan teknologi di lapangan tentunya memerlukan tahapan-tahapan pengaplikasian, terutama karena beberapa teknologi bersifat spesifik sehingga butuh formula yang tepat untuk diterapkan di berbagai lokasi.

Penyuluh diuji, baik secara teknis maupun manajerial untuk dapat memberikan pendampingan tentang teknologi yang tepat dengan hasil yang efektif bagi masyarakat.

Kepala Pusat Pelatihan dan Penyuluhan Kelautan dan Perikanan (Puslatluh KP) Lilly Aprilya Pregiwati berharap agar transfer teknologi yang disampaikan dari para penyuluh kepada pelaku usaha di lapangan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan kesejahteraannya.

Ia meminta penyuluh untuk penerapan teknologi dalam bentuk tulisan yang dapat digunakan oleh masyarakat sebagai pedoman.

“Para penyuluh harus selalu berpikir kritis dan berinovasi untuk menemukan teknologi yang tepat guna untuk menyelesaikan persoalan pelaku usaha atau pelaku utama di lapangan,” harap Lilly. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi