BI: Perubahan Perilaku dengan Memanfaatkan Transformasi Digital Kunci Percepatan Pemulihan Ekonomi

Rabu, 28 April 2021 : 00.00
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho/Dok.BI Bali

Denpasar - Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho menyatakan perubahan perilaku dalam bertransaksi dengan memanfaatkan transformasi digital menjadi kunci utama dalam percepatan pemulihan ekonomi.

Trisno menyampaikan itu saat Festival Ekonomi Keuangan Daerah (FEKDI) 2021 Wilayah Bali, mengambil tema “Gaya Hidup Digital Menuju Bali Bangkit” berlangsung 27-29 April 2021.

Covid-19 telah menyebabkan perekonomian Bali terkontraksi sangat dalam dan menjadi provinsi yang paling terdampak dengan angka pertumbuhan ekonomi tahun 2020 sebesar -9,31% (yoy).

Salah satu upaya pemulihan ekonomi Bali yang dapat dilakukan adalah melalui penyelenggaraan acara rangkaian FEKDI 2021.

Rangkaian FEKDI ini bertujuan menginspirasi dan memotivasi perubahan pola pikir, sikap dan perilaku masyarakat terhadap digitalisasi, meningkatkan awareness terhadap Cinta Bangga dan Paham Rupiah di era digital.

"Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat mengenai cara bertransaksi digital yang aman," tuturnya.

Pembatasan mobilitas manusia di tengah pandemi Covid-19 telah mendorong pergeseran perilaku menjadi serba digital, dengan peralihan kegiatan yang dulunya mayoritas offline menjadi online.

Pada saat ini seluruh generasi terutama generasi milenial telah menjadi semakin akrab dengan digitalisasi.

Sebut saja berbagai e-commerce lokal hingga mancanegara, aplikasi sosial media, aplikasi jasa pembayaran, aplikasi ticketing, aplikasi hiburan, aplikasi logistik, investasi, hingga aplikasi virtual meeting seperti webinar yang sedang kita lakukan sudah sangat melekat di kehidupan sehari-hari kita semua.

Salah satu kebijakan Bank Indonesia yang mendukung akselerasi sistem pembayaran nontunai berbasis digital adalah QRIS yaitu sebuah kebijakan standarisasi QR Code Pembayaran sehingga satu QR dapat dibaca oleh semua aplikasi pembayaran.

"Di wilayah Bali, QRIS yang CeMuMuAH (Cepat, Mudah, Murah, Aman dan Handal), sangat cepat progresnya dan masuk kedalam peringkat 7 besar Nasional.

"Per 16 April 2021, 206.811 merchant di Bali telah merasakan manfaat menggunakan QRIS, dan dalam 2 (dua) bulan, Januari – Februari 2021, tercatat total transaksinya sebanyak 353 Ribu transaksi dengan nominal mencapai Rp 35,51 Miliar.

Tingginya pemanfaatan teknologi terutama dalam bidang sistem pembayaran turut membawa risiko yang beragam dan kompleks.

Terdapat fenomena berbagai kasus kejahatan siber yang menimpa industry keuangan di tanah air dengan modus operandi yang semakin beragam antara lain kasus skimming, email phising, Man in the Middle Attack dan SIM Card swap.

Dalam merespon hal tersebut dan sebagai salah satu upaya memperkuat perlindungan konsumen sistem pembayaran, maka Bank Indonesia melalui penyelenggaraan web seminar ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat Bali mengenai cara bertransaksi keuangan yang aman.

Di era digitalisasi yang bergerak sangat cepat dan dengan keberagaman instrumen pembayaran digital, satu hal yang perlu kita pahami bersama bahwa Rupiah tetap merupakan satu-satunya alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Pemahaman ini merupakan bentuk kebanggaan kita terhadap Rupiah selain sebagai alat pembayaran yang sah, juga sebagai simbol kedaulatan NKRI dan alat pemersatu bangsa.

Dengan melihat posisi penting Rupiah dalam kehidupan bernegara di Indonesia di segala bidang, maka Bank Indonesia menghimbau dan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk Cinta, Bangga dan Paham Rupiah.

Bentuk Cinta Rupiah diwujudkan dalam kemampuan masyarakat untuk mengenal karakteristik dan desain Rupiah, memperlakukan Rupiah secara tepat, dan menjaga dirinya dari kejahatan uang palsu.

Kebanggaan akan Rupiah ditunjukkan dengan menjaga kedaulatan Rupiah sebagai symbol negara, berdaulat, menggunakan dalam setiap transaksi, dan memaknai sebagai alat pemersatu Bangsa.

Dan yang terakhir adalah Paham Rupiah, dimana masyarakat diharapkan paham berperilaku sesuai dengan fungsi Rupiah dalam rangka melakukan transaksi pembayaran, membelanjakan Rupiah dan mengoptimalkan nilai Rupiah.

"Optimisme harus tetap dijaga dan momentum dimanfaatkan. Perubahan perilaku dalam bertransaksi dengan memanfaatkan transformasi digital menjadi kunci utama dalam percepatan pemulihan ekonomi," katanya mengingatkan.

Pemahaman yang memadai dalam bertransaksi untuk menghindarkan diri dari potensi risiko yang mungkin timbul dari pemanfaatan teknologi, juga penting ditekankan.

Sejumlah tokoh menjadi narasumber yakni Gubernur Bali Wayan Koster, I Gusti Agung Rai Wirajaya, Anggota Komisi XI DPR RI Filianingsih Hendarta, Asisten Gubernur – Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Marlison Hakim, Direktur Eksekutif – Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Kombes Pol Yuliar Kus Nugroho, Direktur Reskrimsus Polda Bali. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi