AJI: Banyak Kasus Kekerasan Terhadap Jurnalis Tak Diusut Aparat

Jumat, 02 April 2021 : 07.10
perwakilan AJI dan LBH Pers bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sekaligus Ketua Komisi Kepolisian Nasional Mahfud MD, Kamis 1 April/dok.AJI

Jakarta - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menyampaikan catatan penting sepanjang tahun 2020 banyak kasus kekerasan terhadap jurnalis tidak diusut tuntas oleh aparat.

Berkaitan itu. perwakilan AJI dan LBH Pers bertemu Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan sekaligus Ketua Komisi Kepolisian Nasional Mahfud MD, Kamis 1 April 2021.

Sekretaris Jenderal AJI, Ika Ningtyas meminta pemerintah serius menyelesaikan kasus-kasus kekerasan pada jurnalis, termasuk mengusut semua pelaku kekerasan terhadap jurnalis Tempo, Nurhadi.

"Pembiaran pada kasus kekerasan yang menimpa jurnalis menjadi ancaman serius bagi kebebasan pers dan demokrasi," Ika menegaskan dalam rilis.

Disebutkan, kKekerasan menimpa Nurhadi bukan kali pertama terjadi. Sepanjang 2020, AJI mencatat terjadi 84 kasus kekerasan menimpa jurnalis di berbagai daerah. Sebagian besar kasus tersebut tidak pernah diusut oleh aparat.

Pemerintah harus menunjukkan komitmen melindungi kebebasan pers dengan tidak membiarkan adanya impunitas terhadap para pelaku kekerasan pada jurnalis yang telah merusak demokrasi kita,” sambung Ika.

Direktur LBH Pers Ade Wahyudin juga menyampaikan, kekerasan yang menimpa Nurhadi merupakan pelanggaran Undang-Undang Pers, karena selain pengiayaan, ada juga penghalang-halangan aktivitas jurnalistik ketika para pelaku mematahkan simcard dan mereset telepon seluler Nurhadi.

Pihaknya mendorong penegak hukum untuk mengusut kasus ini dan mencari pelakunya siapa. "Hingga sekarang sudah dihadirkan dua terduga pelaku, tapi harapannya tidak berhenti di situ karena yang melakukan kekerasan banyak,” ungkapnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi