Warga Jemput Paksa Jenasah Covid-19 di Probolinggo

Sabtu, 06 Maret 2021 : 10.12
Puluhan warga Desa Lemahkembar Kecamatan Sumberasih,menerobos masuk RSU Wonolangan di Desa Gedung Dalem Kecamatan Dringu/Kabarnusa

Probolinggo - Aksi jemput paksa jenazah pasien Covid19 kembali terjadi di Kabupaten Probolinggo Jawa Timur.

Puluhan warga Desa Lemahkembar Kecamatan Sumberasih,menerobos masuk RSU Wonolangan di Desa Gedung Dalem Kecamatan Dringu, Jumat (5/3/2021).

Mereka merebut paksa jenazah perempuan berinisial L warga Desa setempat. Dari penanganan pihak rumah sakit dan warga tak terima karena jenazah L di nyatakan positif.

Massa tidak bisa menerima lantaran jenasah yang dinyatakan meninggal akibat covid19 L harus di makamkan sesuai protokol kesehatan.

Pihak keluarga tak terima selanjutnya keluarga beserta puluhan warga Desa Lemahkembar langsung maksa masuk ke Rumah Sakit Wonolangan.

Mereka menggunakan satu unit truk, masuk kamar mayat di rumah sakit Wonolangan.

Awalnya mereka sempat dihadang petugas keamanan dan tenaga kesehatan rumah sakit. Lantaran, kalah jumlah akhirnya warga pun berhasil membawa jenazah L untuk diangkut ke atas truk sebelum dibawa pergi.

Saat aksi berlangsung sempat terjadi insiden pengeroyokan dan pemukulan kepada salah satu petugas PHL SIM Satlantas Polres Probolinggo bernama Nanda yang kebetulan tengah ada di lokasi.

Akibat pengeroyokan tersebut Nanda mengalami luka robek pada tangan bagian kanan hingga berdarah dan harus diperban.

Kapolres Probolinggo AKBP Ferdy Irawan mengatakan pihaknya tidak akan membiarkan aksi penjemputan paksa yang terkait tindakan anarkis.

Terlebih aksi tersebut disertai dengan intimidasi penganiayaan hingga perusakan fasilitas Rumah Sakit.

Direktur RSU wonolangan Mariani Indari mengatakan pasien L pertama kali dirawat di RSU Wonolangan pada Kamis petang sekitar pukul 6 ketika pertama kali datang langsung dirawat di ruang ICU untuk mendapatkan perawatan medis.

Terkait dengan aksi jemput paksa tersebut Mariani menerangkan jajarannya tidak mengalami sampai kekerasan fisik. "Namun banyak karyawan yg shok akibat aksi anarkis ini," ucap dia dalam keterangannya.

Sementara, Koordinator Penegakan Hukum Satgas covid19 Provinsi dan Kabupaten Probolinggo Ugas irwanto mengatakan sebenarnya aksi anarkis itu tidak perlu terjadi.

Pasalnya pihak keluarga bisa menerima keputusan terkait pemulasaraan jenazah yang disesuaikan protokol kesehatan. (ron)

Bagikan Artikel

Rekomendasi