Pangdam Udayana: Kasih Rp150 Miliar, Kami Bikin 1.000 Titik Pompa Air di NTT

Rabu, 03 Maret 2021 : 23.00
Pangdam Udayana bertemu perwakilan awak media yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT, Selasa sore/ist

Denpasar - Masalah kekurangan air di Nusa Tenggara Timur menjadi keprihatinan tersendiri bagi Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Maruli Simanjuntak. Dia bahkan berujar jika diberi dana Rp150 miliar akan bisa membangun 1.000 titik pompa air di NTT.

Hal itu disampaikan saat bertemu perwakilan awak media yang tergabung dalam Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT, Selasa sore (2/3/2021).

"Saya bersama seluruh anggota di wilayah Kodam IX Udayana, bersama dengan semua Babinsa yang ada di seluruh desa di NTT, NTB, melihat yang paling dibutuhkan masyarakat. Dan ternyata air minum," ucapnya.

Jika dilihat sumbernya ada. Airnya ada. Tetapi kenapa rakyat kekurangan air. Maka itulah yang TNI kerjakan selama ini. Pihaknya ingin agar rakyat menikmati air bersih. Di NTT, air itu kebutuhan. Dan ini belum menjadi perhatian serius semua stakeholder.

"Jangan sampai ini terjadi. Bicara keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kenapa masyarakat di desa di NTT, air minum saja susah?" Maruli dengan nada tanya.

Dengan keyakinan yang dipegang teguh agar rakyat menikmati air bersih, Mayjend Maruli mengerahkan seluruh sumber daya yang ada.

Dengan keterbatasan dana dan peralatan, akan fokus membangun air bersih untuk NTT dan sebagian kecil NTB.

"Saya kerahkan Babinsa. Saya kerahkan anggota di Koramil, di Kodim. Saya minta berbuatlah sesuatu untuk masyarakat. Mereka kerja keras. Bahkan mereka bekerja dengan lapar karena tidak makan, ini fakta," tandasnya

Maruli memperintahkan harus jadi. Sementara pemerintah setempat belum maksimal, belum fokus. Bagaimana mungkin rakyatnya terus mengalami kekurangan air bersih.

"Dan ini bertahun-tahun terjadi," katanya menegaskan.

Saat ini, program unggulan di NTT adalah air bersih. Logikanya adalah bahwa kalau ada penduduk, kalau ada pemukiman Maladi wilayah itu pasti ada sumber air.

Namun sumber air itu bisa dekat bisa jauh. Kalau air jauh dia bisa kurang sehat, kurang minum air, apalagi mau membangun pertanian.

Tugas TNI adalah mendekatkan air tersebut. Program di Kodam IX Udayana adalah mendekatkan air untuk rakyat NTT. Diyakinkan anggota bahwa air harus merata di NTT, dimana pun.

Saat ini sudah ada pemetaan titik air atau sumber air yang belum digarap dengan baik sementara warga sekitarnya kekurangan air. Hasil pemetaan itu ada 94 titik di NTT. Ini baru data sementara.

Pemetaan terus dilakukan. Mungkin akan terus bertambah. Dari 94 titik tersebut, yang sudah dipasang pompa sebanyak sebanyak 19 titik.

"Saat ini sudah menghasilkan 2 juta liter air perhari dari total pompa hidram yang sudah diaktifkan dan sudah ada belasan ribu warga yang sudah menikmati air bersih," urainya.

Sementara pompa hidram yang masih dalam proses pengerjaan sebanyak 10 pompa yang terdiri dari 8 titik di NTT dan 2 titik di NTB.

Seluruh pompa hidram dikerjakan sendiri oleh anggota dari Kodim di masing-masing wilayah. Pipa, besi rangka, bak primer, bak sekunder dibeli secara swadaya. Pengerjaan oleh anggota TNI.

Saat ini di masing-masing Kodim di NTT sudah merekrut tenaga untuk dilatih mengerjakan pompa hidram, memasang dan merawat.

Rata-rata perpompa menghabiskan sekitar Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. Selama ini banyak bantuan dari teman-teman, orang kaya, publik figure.

"Kami sedikit merendah, minta bantuan, kalau ada yang bisa beli tas seharga 50 juta, kita bilang, tasnya jangan dibeli dulu, kasih uang ke kami bangun air di NTT. Ternyata bisa juga," ujarnya.

Maruli meminta kepada para Dandim, Danrem, Danramil agar lebih giat lagi, mampu mempresentasikan proyek besar ini kepada jaringan, CSR, BUMN, BUMD, swasta dan seterusnya.

"Idenya sebenarnya bahwa kondisi ini ada di seluruh Indonesia. Selama ini banyak Kodim, Danramil kurang presentasi, kurang promosi. Banyak dana CSR yang tidak efektif. Kasih kami Rp 150 miliar saja, kami bisa bikin 1000 titik pompa air di NTT," tukasnya.(rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi