Gubernur Koster Ingin Pasar Banyuasri Bisa Menjadi Destinasi Pariwisata

Rabu, 31 Maret 2021 : 07.28
Gubernur Bali, Wayan Koster bersama Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana meresmikan Pasar Banyuasri berkonsep Tradisional dan Modern yang ditandai dengan penandatanganan prasasti pada, Selasa 30 Maret 2021/ist.

Buleleng - Pasar Banyuasri di Kabupaten Buleleng Bali diharapkan dikelola dengan baik dan bersih, sehingga bisa juga dijadikan destinasi pariwisata.

Gubernur Bali, Wayan Koster bersama Bupati Buleleng, Putu Agus Suradnyana meresmikan Pasar Banyuasri berkonsep tradisional dan modern ditandai dengan penandatanganan prasasti pada, Selasa 30 Maret 2021.

Acara dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho, Wakil Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, Ketua DPRD Buleleng, Gede Supriatna, Kepala Kejaksaan Negeri Buleleng, I Putu Gede Astawa, Direktur Utama Bank BPD Bali, I Nyoman Sudharma dan Rektor Undiksha, Prof I Nyoman Jampel.

Peresmian Pasar Banyuasri yang dilakukan Gubernur Bali dan Bupati Buleleng merupakan hadiah untuk Kota Singaraja yang sedang merayakan HUT ke-417, sekaligus menjadi momentum untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan di Kabupaten Buleleng.

Koster menuturkan, sejak kecil, pasar ini sudah ada di Buleleng, namun kondisinya tidak teratur. Dia bersyukur baru sekarang saya bisa melihat pasar ini berdiri megah dengan konsep desain arsitektur Bali yang bagus.

Putra asal Desa Sembiran, Buleleng ini seraya megatakan Pasar Banyuasri adalah kebanggaan masyarakat Buleleng dan Bali.

Karenanya, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini meminta kepada Pemerintah Kabupaten Buleleng agar menjadikan Pasar Banyuasri sebagai lokomotif ekonomi masyarakat dari hulu sampai hilir dengan menerapkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

Dia meminta setiap produk lokal yang dijual kepada konsumen harus memiliki kualitas dengan tampilan kemasan yang modern, ditata dengan baik, dan memiliki standar harga tetap. Sehingga tidak ada lagi cara tawar menawar.

Ini merupakan solusi untuk menertibkan harga di pasaran dengan catatan tetap menguntungkan para pedagang lokal.

Apalagi, Buleleng merupakan sentra pertanian terbesar di Bali, banyak produk lokal khas Buleleng ada di sini. Mulai dari anggur, kopi, mangga, manggis, rambutan, hingga durian.

Tidak hanya pertanian, namun potensi kelautannya juga melimpah dan perlu dikembangkan. Anggur di Gerokgak itu harus dikelola dengan menciptakan industri olahan, supaya nilai ekonomi masyarakat lokal Buleleng terus berkelanjutan.

Usai Pandemi Covid-19 berakhir, ia akan mewujudkan sistem perekonomian Bali yang kuat di masa depan dengan menyeimbangkan struktur perekonomian Bali antara pertanian, kelautan, industri kerajinan rakyat yang berbasis kearifan lokal dengan pariwisata.

Hal ini dilakukannya untuk mewujudkan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru sesuai dengan prinsip Trisakti Bung Karno yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Sebagai penutup, mantan Anggota DPR-RI 3 Periode ini menegaskan agar Pasar Banyuasri dikelola dengan baik dan bersih, sehingga bisa juga dijadikan destinasi pariwisata.

“Saya minta kepada Bupati Buleleng, khususnya pengelola pasar agar menjadikan pasar ini sebagai pasar yang bersih, rapi, tertib dan disiplin dengan membatasi penggunaan plastik sekali pakai sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai dan sesuai Peraturan Gubernur Bali Nomor 47 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber,” tegasnya.

Bupati Buleleng Putu Agus Suradnyana mengatakan Pasar Banyuasri dibangun dengan konsep gotong royong dengan dana Rp 175 milyar bersumber dari APBD Pemkab Buleleng Rp 100 milyar, APBD Provinsi Bali sebanyak Rp 50 milyar, dan Pemerintah Kabupaten Badung Rp 25 milyar.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho dalam sambutannya menyampaikan Pasar Banyuasri merupakan pasar paling megah dan The Biggest Market in Bali.

“Pasar yang bernuansa tradisional modern ini juga telah menerapkan digitalisasi pembayaran berbasis Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Sehingga di masa pandemi, digitalisasi pembayaran berbasis QRIS menjadi hal penting yang harus dilakukan sebagai salah satu upaya menerapkan protokol kesehatan,” tutupnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi