Stafsus Presiden Ari Dwipayana: Peradaban Bali Dibangun di Lembah Sungai

Jumat, 05 Februari 2021 : 08.50
webinar bertema Sri Kesari Warmadewa -Menjenguk Kembali Proses Pemberadaban Bali, diselenggarakan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana dan Paiketan Krama Bali/ist

Denpasar - Jejak sejarah panjang peradaban Bali sepanjang tukad Petanu-Pakerisan yang mewariskan banyak legacy yang patut menjadi bahan pembelajaran hari ini menunjukkan bahwa peradaban Bali dibangun di lembah sungai.

"Ini dibuktikan dengan banyaknya tempat pemujaan, pertapaan dan pusat pemerintahan di lokasi tersebut," ungkap Koordinator Staf Khusus Presiden, AGGN Ari Dwipayana menjadi pembicara kunci pada webinar bertema Sri Kesari Warmadewa -Menjenguk Kembali Proses Pemberadaban Bali, yang diselenggarakan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana bekerjasama dengan Paiketan Krama Bali (4/2/2021).

Webinar mengulas kilas balik proses pemberadaban Bali dari nol kilometer Prasasti Blanjong ini menampilkan pembicara Sugi Lanus, seorang pakar manuskrip Bali dan Jawa Kuno.

Mengawali acara, Ari menekankan pentingnya pemahaman sejarah sebagai cara untuk mengingat masa lalu, dalam konteks mencari obat atau tamba eling dari masa kini.

Dengan menempatkan sejarah peradaban sebagai obat atau tamba, sejarah akan menjadi instrumen yang mempersatukan sekaligus sebagai sarana untuk melakukan introspeksi (mulat sarira), untuk mewujudkan masa depan yang lebih baik.

Jejak sejarah panjang peradaban Bali sepanjang tukad Petanu-Pakerisan yang mewariskan banyak legacy yang patut menjadi bahan pembelajaran hari ini.

Diantaranya, realitas bahwa peradaban Bali dibangun di lembah sungai, yang dibuktikan dengan banyaknya tempat pemujaan, pertapaan dan pusat pemerintahan dilokasi tersebut.

Realitas itu seharusnya memberikan kesadaran pada kita untuk menjaga sumber-sumber mata air, aliran sungai sebagai sumber kehidupan.

Dikatakan, peradaban air ini juga memunculkan sistem religi yang memuliakan air (Gama Tirtha).

Dari sejarah kita juga mengetahui kemampuan nenek moyang kita dalam penguasaan teknologi pengolahan seperti pembuatan Nekara dan teknologi hidraulik, seperti empelan, uwungan dan sebagainya.

Kata dia, legacy penting ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai pariwisata Bali.

Jika kita mampu menjaga ekologi, sumber-sumber mata air, sungai dan danau yang ratusan tahun telah menjadi bagian penting dari peradaban Bali, melakukan konservasi peninggalan sejarah Bali Kuna.

Juga,mengangkat story dan values yang hidup didalamnya, maka pariwisata Bali akan memiliki jiwa (soul) yang sangat bernilai.

"Saatnya pariwisata juga diperkuat dari sisi edukasi sejarah dan konservasi, baik melalui perhormatan pada peninggalan peradaban masa lalu maupun penghargaan pada alam-lingkungan (ekologi)," demikian Ari yang alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi