Produksi Ternak Babi Anjlok Picu Peningkatan Harga Komoditas Hortikultura

Selasa, 02 Februari 2021 : 09.48
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho/dok.kabarnusa

Denpasar - Turunnya produksi atau ternak hewan babi turut memicu naiknya harga komoditas hortikultura di Provinsi Bali.

Bank Indonesia mencatat pada bulan Januari 2021 Provinsi Bali kembali mencatat inflasi sebesar 0,79% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional sebesar 0,26% (mtm).

Berdasarkan perhitungan data BPS, inflasi terjadi di kedua kota perhitungan, yaitu kota Denpasar sebesar 0,77% (mtm) dan kota Singaraja (0,94%, mtm).

Meskipun secara bulanan inflasi Bali lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional, namun secara tahunan, inflasi Bali pada bulan Januari tercatat 1,02% (yoy) lebih rendah dibanding inflasi tahunan sebesar 1,55%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan, peningkatkan inflasi di bulan Januari terjadi terjadi karena adanya peningkatan harga pada kelompok volatile food dan administered prices.

Hal ini tercermin dari meningkatnya harga bahan makanan seperti cabai rawit dan daging ayam ras, serta harga yang diatur pemerintah seperti tarif angkutan udara serta rokok kretek filter.

"Meskipun demikian tekanan harga lebih mendalam tertahan dengan melandainya core inflation," ungkap Trisno dalam keterangan tertulisnya, Selasa (2/2/2021).

Pada kelompok volatile food mengalami kenaikan harga sebesar 3,82% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatkan harga terlihat untuk komoditas cabai rawit, mangga, daging ayam ras, daging babi, dan tempe.

Trisno menambahkan, peningkatan harga komoditas hortikultura disebabkan oleh masih terbatasnya pasokan di awal tahun pasca libur Nataru.

"Selanjutnya, peningkatan harga daging babi juga masih disebabkan oleh turunnya jumlah ternak babi secara signifikan, diakibatkan oleh virus yang menyerang pada tahun 2020," tuturnya m

Kelompok barang administered price mencatat peningkatan harga sebesar 0,50% (mtm).

Peningkatan tekanan harga pada kelompok ini disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara, meskipun lebih rendah dibandingkan dengan peningkatan harga di Desember 2020.

Kelompok barang core inflation mencatat tekanan harga yang melandai, yaitu sebesar 0,17%. Menurunnya tekanan inflasi ini terjadi terutama pada harga tiket bioskop, sandal kulit pria, dan shampoo.

Penurunan harga tiket bioskop sejalan dengan kembali dibukanya bioskop pasca penutupan di tahun 2020. Selanjutnya harga shampoo dan sandal kulit pria menurun sejalan dengan penurunan pembelian oleh masyarakat.

TPID Kabupaten/Kota dan Provinsi terus berupaya untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat, di antaranya memastikan distribusi yang terjaga antar wilayah dan antar pulau.

Selain itu, TPID juga akan melakukan gerakan Lumbung Pangan untuk memastikan distribusi kepada seluruh lapisan masyarakat di Bali dan mendorong digitalisasi pada UMKM pertanian.

Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada Februari 2021 akan tetap terkendali. Meskipun demikian, curah hujan yang masih tinggi berpotensi untuk mengganggu musim tanam di triwulan I 2020.

Menghadapi potensi tantangan itu, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota perlu melakukan kerja sama antar daerah (terutama dengan daerah penghasil cabai rawit), mengoptimalkan pemanfaatan mesin CAS, dan menghimbau agar petani tetap menanam sesuai dengan siklusnya agar pasokan tetap mencukupi.

Bank Indonesia terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam pemasaran produk-produk pertanian (e-commerce) dan dalam produksi (digital farming). (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi