Driver Gojek Bali Himbau Saling Jaga Atribut Cegah Penyalahgunaan

Kamis, 11 Februari 2021 : 21.48
ilustrasi

Denpasar - Para driver menghimbau agar mitra ojol lain untuk sangat menjaga atribut ojol yang mereka miliki saat ini mengingat tindak kriminal yang dilakukan oknum dengan atribut ojek online (ojol) cukup meresahkan para driver ojol di Bali.

Hal itu dikhawatirkan berdampak pada turunnya kepercayaan masyarakat.

Ketua Komunitas Gojek Bali Satu (GBS) Budi Arsono menceritakan beberapa waktu lalu terjadi kasus pembunuhan di kamar kos Jl. Tukad Batanghari, Bali. Dalam rekaman kamera pengintai (CCTV) terlihat pelaku menggunakan helm ojol.

"Pelaku bukan ojol, tapi pakai helm ojol yang lama. Ini teman-teman resah banget. Di situasi sekarang dimana orderan sepi, masyarakat jadi parno liat orang pakai atribut ojol," ujar Budi Banteng, sapaanya, Kamis (11/2/2021).

Peristiwa itu kata Budi, bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan profesi ojol. Sebab rasa aman dan kepercayaan yang selama ini telah dibangun harus rusak oleh oknum tidak bertanggungjawab.

Kondisi seperti itu, cukup meresahkan. Bisa berdampak pada orderan. Apalagi, bisnis Ojol ini hidup dari kepercayaan masyarakat. "Kalau masyarakat tidak percaya dan merasa takut, ya orderan bisa hilang," Budi mengingatkan.

Guna memastikan rasa aman bagi masyarakat, lanjut Budi, para driver diminta disiplin melapor dan menunjukkan aplikasi ojol ke petugas keamanan setempat jika ingin masuk ke wilayah tertentu.

Dia bersyukur, setiap masuk perumahan untuk minta izin, selalu ditunjukan aplikasi. Para pengemudi Ojol ini selalu dikasih jalan sama petugas keamanan di perumahan atau pacalang setempat.

Mitra driver ojol dan masyarakat juga diminta saling menjaga, jika mendapati orang yang mencurigakan menggunakan atribut ojol, jangan segan untuk memintanya menunjukkan aplikasi.

"Kalau ada yang mencurigakan minta dia tunjukkan aplikasinya atau di foto diam-diam motornya, lalu lapor ke Satgas Gojek/Grab biar ditindaklanjuti," katanya.

Tidak hanya itu, para driver ojol juga diminta untuk tidak menjual bebas atau memberikan atribut ojol ke sembarang orang. Sebab atribut ojol saat ini banyak dimanfaatkan oknum untuk mendapat akses bebas keluar masuk ke tempat-tempat tertentu.

"Saya lihat di medsos banyak yang memperjualbelikan atribut karena sudah putus mitra atau sudah punya kerjaan lain," katanya.

Pihaknya mengimbau para driver yang sudah berhenti dapat menjual atributnya ke driver yang masih aktif atau diberikan kepada ketua komunitas ojol.

Pada helm dan jaket Gojek yang baru terdapat barcode berisi identitas driver sehingga beresiko jika diserahkan ke orang yang tidak bertanggungjawab.

"Diberikan saja ke ketua atau ke driver yang bisa dipercaya. Kalau ada teman di komunitas yang berenti, saya minta (atributnya) saya beli dengan harga teman, lalu saya simpan untuk menghindari penyalahgunaan," papar Budi. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi