Pendakwah Maruli: Toleransi Tidak Boleh Masuk dalam Ranah Akidah

Jumat, 25 Desember 2020 : 10.48
Kajian Online digelar Majelis Daerah KAHMI Buleleng bertajuk; Islam Rahmatan Lil Alamin Anti Kekerasan/ist

Denpasar - Agama mengajarkan umatnya untuk membangun toleransi dengan antarumat beragama lainnya namun ditegaskan bahwa toleransi tidak boleh masuk dalam ranah akidah.

Dai kondang nasional, Ustadz Maruli Ashari Hasibuan, SH, MH. menyampaikan itu saat menjadi narasumber dalam Kajian Online digelar Majelis Daerah KAHMI Buleleng bertajuk; Islam Rahmatan Lil Alamin Anti Kekerasan, Kamis (24/12/2020).

Dialog digelar dilatarbelakangi warna kebangsaan Indonesia di era reformasi semakin sensitif. Banyak kekerasan verbal maupun fisik terjadi atas nama agama. Terlebih setelah era digitalisasi saat ini.

Ujaran kebencian dan paham radikalisme berseliweran di dunia maya. Negara rupanya tak cukup untuk meredam itu tanpa kehadiran tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ustadz Maruli juga memaparkan, konteks rahmatan lil alamin di era sekarang adalah menerima pluralisme, menerima segala perbedaan yang telah diturunkan oleh Allah.

“Makna Islam Rahmatan Lil Alamin itu tasamuh, jadi kita tidak boleh melakukan praktik pemaksaan keberagaman,” tandas Maruli dalam Kajian Online yang dimoderatori Sabaruddin Indra Wijaya, itu.

Kemudian lanjutnya, Islam dalam ranah sosial dan politik mengedapankan dialog.

“Allah SWT berfirman, musyawirhum fil amri artinya bermusyawarah lah kamu dengan baik pemerintah. Jadi kalau kita sudah dialog, tentu sudah menjadi standar untuk keluar dari persoalan,” tukasnya, meyakinkan.

Selaku pendakwah Maruli juga membaca bahwa dalam konteks kekinian umat acap dibentur-benturkan.

“Bagi kita di Islam tidak ada kekerasan, 25 nabi yang diutus oleh Allah hingga Nabi Muhammad SAW tidak ada yang melakukan pendekatan kekerasan. Kata Allah kalau kami berbuat keras mereka akan lari dari rahmat Allah,” paparnya, lugas.

Pandai-pandai kita memakai diksi kafir. Kalau dialog dengan non muslim kita jangan memakai kata kafir. Tidak ada satupun ajaran islam yang mengajarkan kekerasan.

Menjawab pertanyaan audiens dalam sesi dialog soal batasan toleransi, Maruli menegaskan toleransi tidak boleh masuk dalam ranah akidah.

“Kalau mau bermuamalah (menjalin hubungan) dengan Hindu dan pemeluk agama lainnya ssilahkan. Nabi dulu 15 tahun bermuamalah dengan saudara yang belum muslim, semasa menjadi Nabi bersahabat dengan Raja Majuzi,” tandasnya pula.

Intinya kata dia, dalam toleransi yang harus dicari persamaan, jangan cari perbedaan.

“Saudara-saudara di Bali kalau cari perbedaan tentu banyak, apa persamaan Islam dan Hindu?. Dalam Islam tidak boleh mencuri, dalam Hindu juga tidak boleh mencuri dan sebagainya terkait kebaikan,” tukas ustadz asal Pekanbaru, ini.

Menjawab pertanyaa lain terkait paham radikal yang mudah meng-kafir-kan menurutnya tidak boleh secara sederhana dilontarkan dan disematkan pada seseorang.

“Kafir itu mengeluarkan orang dari akidah. Ada sekelompok, misalnya HTI kemudian memberlakukan status kafirisasi, sebenarnya dalam Islam telah nyata-nyata kafir itu apabila tidak mengakui Allah SWT. Jangan karena beda mazhab muncul takfiri lalu mengafirkan saudaranya sendiri,” demikian Maruli. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi