Karya Lukisan Maestro Made Wianta Relevan di Segala Zaman

Senin, 21 Desember 2020 : 20.12
Untuk mengenang kembali karya Sang Maestro kelahiran Apuan, Baturiti, Tabanan itu, Komaneka Gallery Keramas, Gianyar memamerkan karya-karya terbaik sepanjang tahun 1978 hingga 2015/Kabarnusa.

Gianyar - Karya-karya lukisan Maestro seni rupa Bali almarhum I Made Wianta bukan hanya dikenal di Tanah Air namun hingga mancanegara dan tetap relevan di segala zaman.

Untuk mengenang kembali karya Sang Maestro kelahiran Apuan, Baturiti, Tabanan itu, Komaneka Gallery Keramas, Gianyar memamerkan karya-karya terbaik sepanjang tahun 1978 hingga 2015.

Dalam pameran di galeri yang berdiri di atas areal persawahan menghijau itu, dipamerkan 19 dari 43 buah lukisan sang maestro yang dikoleksi Komaneka Gallery.

Pameran yang dibuka untuk publik, hanya saja, jumlahnya terbatas. Hal itu semata untuk menjaga kesehatan saat pandemi Covid-19. "Pameran ini bertepatan ulang tahun ke-71 Pak Made, " kata Koman Wahyu Suteja, kurator sekaligus pemilik Komaneka Gallery, Minggu (20/12/2020).

Saat pembukaan pameran, tampak hadir Istri sang maestro, Intan Kirana Wianta, seniman dan kritikus seni, seperti Anak Agung Gde Rai pendiri Musuem Agung Rai (Arma Ubud), Pande Wayan Suteja Neka, Prof. I Made Bandem, Prof. I Wayan ‘Kun’Adnyana, Popo Danes hingga Jean Couteau.

Koman menuturkan, biasanya galeri miliknuya mengkurasi karya-karya para seniman muda pilihan kekinian yang karyanya relevan.

Koman Wahyu Suteja, kurator sekaligus pemilik Komaneka Gallery

"Namun bagi saya, karya-karya Pak Made (Wianta) memiliki posisi tawar berbeda yang hadir relevan di setiap zaman. Karya-karyanya membuat saya tak mampu menahan godaan untuk memasukkan ke galeri ini," tuturnya.

Dari 19 karya dipilih dalam pameran itu mewakili perjalanan proses kreatif Wianta. Beberapa lukisan menampilkan seri Periode Karangasem, sebagian menampilkan seri geometri atau kubistik, dan ada yang merupakan seri kaligrafi.

Diakuinya, pemilihan karya-karya terkait kecenderungan dirinya yang memang lekat dengan dunia arsitektur. Pemajangan karya-karya dalam pameran ini dilakukan di luar kebiasaan pameran pada umumnya.

Menyesuaikan dengan kondisi, misalnya seri geometri saya taruh di depan, sehingga sangat representatif untuk berfoto. Kami juga sajikan seri lukisan Periode Karangasem yang dilukis tahun 1978.

"Ini seri yang diakui oleh dunia, yang begitu khas sebagai simbolisme bernuansa Bali,” Koman menjelaskan.

Pendiri dan Pemilik Museum Neka, Pande Wayan Suteja Neka yang sangat mengenal proses kekaryaan Wianta berharap pameran itu dapat menjadi wahana pendidikan, inspirasi, informasi, dan pelestarian budaya terkait proses kreatif sang maestro.

Dalam pandangannya, Wianta merupakan satu dari dua perupa yang ia kenal begitu kreatif.

"Saya pribadi menilai ada dua seniman Bali yang mengembara di Jogja yang begitu kreatif. Dua seniman itu adalah Gunarsa dan Wianta. Spirit gerak mereka, yang kini tertinggal melalui karya-karyanya dapat kita gunakan sebagai sumber informasi, inspirasi, pendidikan, dan pelestarian budaya bagi generasi muda kita,” harap Neka.

Atas pameran yang digelar untuk mengenang sang suami, Istri sang maestro, Intan Kirana Wianta, terharu dan merasa terhormat karya-karya Wianta dipamerkan di Komaneka Gallery.

“Kalau bicara proses kekaryaannya, periode Karangasem memang merupakan yang dikenal sebagai simbolisme Bali yang begitu khas. Pada pemaran ini juga ada karya-karya seri arsitektur dan seri kaligrafi yang juga berkarakter,” ucap perempuan asal Yogyakarta ini.

karya-karya Made Wianta banyak mengisi galeri-galeri pameran dunia, serta dikoleksi oleh kolektor dunia.

Diketahui, karya-karya Made Wianta banyak mengisi galeri-galeri pameran internasional serta dikoleksi oleh kolektor dunia.

Semasa hidup Wianta merupakan pribadi yang terbuka kerap ceplas ceplos dan cukup dekat dengan kalangan wartawan. Wianta berpulang pada 13 November 2020 pada usia 70 tahun.

Istri sang maestro, Intan Kirana Wianta, membeberkan rencana yang akan dilakukan pihaknya mengabadikan karya-karya Wianta. Menurutnta, keberadaan ruang guna mengapresiasi karya sang maestro sangat diperlukan, utamanya terkait informasi dan edukasi proses kreatif.

Hanya saja, untuk membangun museum disadarinya bukanlah perkara yang mudah. Perlu dilakukan perhitungan yang matang untuk menjaga koleksi yang ada di museum tersebut.

“Beliau semasa hidup ingin sekali membuat museum digital, mungkin inilah yang nanti akan kami tempuh untuk bisa mengabadikan karya-karya beliau,” imbuhnya. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi