Wagub Cok Ace Tegaskan Bali Kembangkan Pariwisata yang Berkelanjutan

Sabtu, 07 November 2020 : 09.59
Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace)/ist

Denpasar - Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menegaskan sesuai visi dan misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali maka pengembangan pariwisata Bali adalah pariwisata yang berkelanjutan.

Cok Ace memberikan apresiasi diselenggarakannya Seminar Kesenian Berbasis Kearifan Lokal Menuju Pemajuan Kebudayaan Bali di Era New Normal meski di tengah situasi pandemi.

Cok Ace menjadi keynote speaker sekaligus membuka acara Seminar Kesenian Berbasis Kearifan Lokal Menuju Pemajuan Kebudayaan Bali di Era New Normal yang diselenggarakan oleh Mejelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan (Listibya) Provinsi Bali, bertempat di Ball Room Four Star by Trans-Denpasar, Jumat (6/11/2020).

Dia melihat acara yang diselenggarakan di hotel tersebut telah menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan berharap ke depan acara-acara akan mulai digelar secara langsung tentunya dengan protokol yang ketat sehingga kembali mampu menggerakkan perekonomian hotel di Bali.

Tema yang diangkat, jauh sebelum Covid-19, harus disadari ada beberapa persoalan penting yang perlu diselesaikan yaitu terkait keseimbangan antar sektor, wilayah dan keseimbangan antara sekala dan niskala.

Untuk itu, Pemprov Bali masa kepemimpinan Gubernur Koster dan Wagub Cok Ace telah menerapkan visi dan misi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang mana Menjaga Kesucian dan Keharmonisan Alam Bali Beserta Isinya untuk mewujudkan kehidupan krama bali yang sejahtera dan bahagia sekala dan niskala.

"Maka dengan visi tersebut pengembangan pariwisata Bali adalah pariwisata yang berkelanjutan," tegasnya lagi.

Dikatakan ada dua hal penting dalam pariwisata berkelanjutan yaitu Pembangunan termasuk komponen pariwisatanya harus mempunya manfaat kesejahteraan bagi masyarakat Bali, tidak hanya dari perspektif penghasilan saja namun juga dari segi kesehatan, pendidikan dan happiness atau kebahagiaan.

Kedua, Pembangunan termasuk komponen pariwisata di dalamnya tidak boleh merusak apalagi mematikan sumber daya pulau Bali yaitu keyakinan dan kepercayaan masyarakat hindu Bali.

“Jangan sampai gara-gara pembangunan pariwisata dapat merusak sumber daya manusia dan sumber daya alam Bali,” pungkasnya.

Untuk itu ia berharap dengan seminar pemajuan kebudayaan Bali yang digelar oleh Listibya ini dapat memberikan saran dan masukan kepada pemerintah, langkah-langkah apalagi yang harus dilakukan pemerintah untuk memajukan kebudayaan Bali.

Terutama dalam menggerakan sektor pariwisata di tengah pandemi Covid-19 ini atau di tengah era new normal ini. Sehingga budaya Bali masih tetap bisa dilestarikan dengan apik.

Ketua Panitia Acara I Nyoman Astita menyampaikan seminar bertujuan menciptakan ruang dialog dalam perspektif kebudayaan secara holistik, cerdas dan konstruktif untuk mendiskusikan potensi kearifan lokal dalam sinergi UU Pemajuan Kebudayaan secara lintas bidang, lintas disiplin dan lintas budaya.

Membahas penguatan potensi modal budaya dan kesenian bagi pengembangan ekonomi kreatif. Mengindentifikask berbagai peluang pemberdayaan potensi seni budsya di era new normal dalam skala lokal, nasional dan internasional.

Seminar diharapkan menghasilkan rumusan yang komprehensif untuk mendukung perkembangan. Seni dan budaya Bali sesuai program pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Hadir pula, beberapa narasumber ahli bidangnya I Wayan Adnyana dengan materi “Pemajuan dan Penguatan Kebudayaan Abli dalam Dinamika Lokal, Nasional dan Global”.

Sugiartha membawakan materi “Desiminasi SKB Penguatan dan Perlindungan Tari Sakral Bali”. Terakhir Ngakan Ketut Acwin Dwijendra dengan matteri “Meningkatkan Peran Masyarakat dalam Pelestarian Warisan Budaya Bali”. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi