Seiring Kebijakan Tatanan Era Kehidupan Baru, Perekonomian Bali Membaik

Jumat, 20 November 2020 : 00.00
Temu Responden 2020 “What’s Next on Bali Business After Covid-19" di Nusa Dua/ist

Denpasar - Perekonomian Bali pada triwulan III 2020 membaik secara qtq seiring dengan implementasi kebijakan“Tatanan Era Kehidupan Baru”.

Hal itu mulai menunjukan bangkitnya perekonomian, ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi Bali pada triwulan III 2020 sebesar 1,66% (qtq) dari triwulan II 2020.

“Perbaikan ini seiring dengan meningkatnya mobilitas memasuki Era Tatanan Kehidupan Baru. Meski demikian, secara tahunan pertumbuhan ekonomi Bali belum dapat kembali ke level 2019, sehingga masih mengalami kontraksi sebesar -12,28% (yoy),“ ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, dalam acara "Temu Responden 2020 What’s Next on Bali Business After Covid-19" di Nusa Dua, Kamis (19/11/2020).

Dijelaskam, pulihnya pertumbuhan ekonomi Bali secara triwulanan didorong meningkatnya kinerja konsumsi dan investasi.

Perbaikan dari sisi sektoral, terutama didorong adanya pembukaan pariwisata domestik, peningkatan panen padi sektor pertanian dan berlanjutnya proyek swasta dan Pemerintah yang sempat terhenti di triwulan II 2020.

Kinerja ekspor barang pada triwulan III 2020 juga menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan triwulan II – 2020 meski masih lebih rendah dari kondisi tahun 2019.

Komoditas ikan dan udang menjadi penopang ekspor Bali di tahun 2020. Sedangkan kinerja ekspor pakaian jadi dan perabotan masih tertahan.

Namun demikian, kinerja ekspor Jasa di tahun 2019 memiliki pangsa 90% terhadap kinerja ekspor luar negeri Bali masih belum menunjukkan perbaikan sejalan dengan masih ditutupnya border (Penerbangan Internasional) akibatnya jumlah kunjungan wisman di Bali mendekati 0.

Sementara itu, kinerja pariwisata domestik mulai menunjukkan perbaikan terlihat dari mulai meningkatnya jumlah kedatangan domestik. Trisno menyebutkan, beberapa waktu kedepan,pariwisata diperkirakan masih akan didominasi wisatawan domestic.

Hal ini didukung adanya penelitian tingginya potensi bisa dihasilkan melalui pariwisata domestic. UNWTO menyatakan hal serupa pendapatan lebih tinggi dari pariwisata internasional.

OECD malah lebih optimis pendapatan pariwsata domestic mencapai 75% dari total belanja pariwisata. Begitu juga dengan European Union menyatakan total pengeluaran pariwisata domestic dapat 1,8 kali lebih besar dari pariwisata internasional.

"Oleh sebab itu, beberapa negara menerapkan kebijakan dalam mendorong pariwisata domestic,“ papar Trisno.

Perkembangan mobilitas masyarakat di Bali juga mulai menunjukkan angin segar dengan diterapkannya Tatanan Kehidupan Baru sejak Juni 2020. Namun demikian, mobilitas tersebut masih belum pulih ke level normalnya dan sedikit lebih rendah dari kondisi Indonesia.

Mobilitas masyarakat ke beberapa area seperti untuk residential, area kerja dan transit masih terbatas namun saat ini terjadi peningkatan mobilitas menuju area taman/park.(rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi