Penumpang Bus Berjejal, Prokes Covid-19 Diabaikan

Senin, 23 November 2020 : 21.31
Meskipun para penumpang sudah memakai masker, namun tidak adanya himbauan tempat duduk untuk jaga jarak di dalam bis ekonomi ini membuat isi bis dalam keadaan penuh sesak oleh penumpang/Agus Nugroho Purwanto.

Magelang - Pemandangan yang sudah sering terjadi dalam suasana bus antar kota, yaitu berjubel dan penuh sesak. Namun untuk saat ini, di tengah pandemi virus corona, sudah seharusnya semua saling menjaga kesehatan dengan menerapkan protokol kesehatan untuk memutus rantai penyebaran covid 19.

Seperti terjadi Senin (23/11/2020), pemantauan di dalam bus antar kota dari Semarang menuju kota Magelang, kondisi tempat duduk tidak diatur dengan protokol kesehatan. Penumpang penuh sesak tanpa adanya jaga jarak, sehingga satu penumpang dengan penumpang lain sempat bersenggolan. 

Meskipun para penumpang sudah memakai masker, namun tidak adanya himbauan tempat duduk untuk jaga jarak di dalam bis ekonomi ini membuat isi bis dalam keadaan penuh sesak oleh penumpang.

Kondisi seperti ini, tentu perlu pengawasan pemerintah dan organda setempat dalam mengatur protokol kesehatan yang wajib ditaati oleh seluruh pemilih usaha angkutan umum beserta para kru perusahaan otobus.

Mestinya, sebagai penumpang wajib untuk menyadari bahwa tidak perlu dipaksakan naik apabila keadaan bis sudah penuh sesak oleh penumpang lain. Topan, seorang penumpang dari Semarang saat berangkat hanya ber isi 6 orang dari total saat sekitar 36 tempat duduk.

Namun, setelah melewati Banyumanik terjadi peningkatan jumlah penumpang dan bertambah terus pada saat bus sampai terminal Ambarawa menjadi penuh dan penumpang sampai berdiri ditengah koridor bus. 

"Di dalam bus seharusnya terdapat pengaturan jumlah tempat duduk dan pembahasan jumlah penumpang sehingga tidak sampai berjubel penuh sesak di dalam bus," ucapnya. 

Setelah dilakukan konfirmasi ke sopir bus, Ahmad Said, seorang sopir bus PO. Mustika, keadaan penuh sesak seperti ini tidak terjadi setiap saat atau setiap hari hanya pada jam tertentu.

Diakuinya, pada hari tertentu, misalnya terjadi di jam pulang kerja pabrik dan biasa terjadi di hari libur panjang. 

Memang sopir tidak bisa mengingat kan akan jumlah kapasitas isi penumpang, karena ditengah pandemi ini semua merasa bingung dengan menurunnya pendapatan dan sepinya penumpang, sehingga pada moment tertentu, sopir merasa mendapat keuntungan dengan adanya lonjakan penumpang ini.

Karenanya, menjadi dilema buat dan dapat dijadikan pembelajaran, untuk mentaati Prokes covid-19, perlu ketegasan dari stakeholder dari direktorat lalulintas, organda, pemilik usaha angkutan umum dan pengguna jasa angkutan umum.

Wabah virus corona tidak akan segera hilang jika masing masing dari individu merasa tidak peduli, perlu adanya ketegasan dan kedisiplinan sehingga tatanan baru hidup berdampingan dan mengurangi penyebaran virus ini dapat tercapai dengan memutus rantai penyebaran tanpa mengesampingkan 3M, mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak. 

Diharapkan, semua mendapatkan keselamatan dan selalu dijaga kesehatan dengan dimulai dari diri sendiri untuk menerapkannya. Melindungi diri termasuk sudah melindungi orang lain apabila semua dapat menerapkan protokol kesehatan ini dengan disiplin. (anp)

Bagikan Artikel

Rekomendasi