KMHDI: RUU Larangan Mikol Berpotensi Rugikan Petani dan Pedagang Arak Bali

Jumat, 20 November 2020 : 00.00

Menyambut niat baik pemerintah dalam pembahasan RUU Tentang Larangan Minuman Beralkohol yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kepala publik, PD KMHDI Bali menyelenggarakan Focus Group Discussion ( FGD ) terbatas/ist.

Denpasar-  PD KMHDI Bali berharap agar seluruh masyarakat peka serta bersama-sama menanggapi RUU Larangan Minuman Beralkohol yang berpotensi merugikan petani dan pedagang minuman beralkohol tradisional seperti arak Bali.

Menyambut niat baik pemerintah dalam pembahasan RUU Tentang Larangan Minuman Beralkohol yang belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kepala publik, PD Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia (KMHDI) Bali menyelenggarakan Focus Group Discussion ( FGD ) terbatas.

FGD mengangkat tema : Nasib Petani Fermentasi Arak, Mau dibawa Kemana?, bertempat di Pasraman Satyam Eva Jayate Jln Trengguli Penatih, Kamis 19 November 2020.

FGD diselenggarakan PD KMHDI Bali dihadiri 10 orang peserta yang berasal dari Pengurus PD KMHDI Bali, Perwakilan LMND Bali, PC KMHDI Bangli, dan Perwakilan dari PC KMHDI Badung

Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan Arya Gangga berharap, kegiatan ini dapat menjadi awalan bersama dalam mengadvokasi hak-hak dari petani maupun pedagang minuman beralkohol tradisional (arak Bali) yang dalam hal ini pada RUU Tentang Larangan Minuman Beralkohol dirasa akan merugikan petani maupun pedagang minuman beralkohol tradisional (arak Bali).

Sekretaris PD KMHDI Bali Buma Dyatmika berpendapat, kedepannya agar pembahasan ini dapat dilakukan lebih serius dan lebih konkrit dalam agenda menanggapi RUU Larangan Minuman Beralkohol

Sementara, Ketua PD KMHDI Bali, Diyana Putra mengatakan bahwa sebagai generasi muda dan juga sebagai organisatoris memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi para petani dan pedagang minuman beralkohol tradisional.

"Karena itu merupakan salah satu budaya turun temurun (local genius) yang diturunkan oleh pendahulu-pendahulu masyarakat Bali," tuturnya,

Jika RUU ini disahkan, akan sangat berdampak pada perekenomian hingga sistem sosial masyarakat Bali.

Pihaknya berharap, seluruh masyarakat peka serta bersama-sama menanggapi RUU yang berpotensi merugikan petani dan pedagang minuman beralkohol tradisional seperti arak Bali. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi