Dekranasda Dorong Pelaku UMKM Hasilkan Produk Angkat Branding Bali

Senin, 23 November 2020 : 21.38
Menggandeng PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali dan Balimall, Dekranasda Bali memberi kesempatan UMKM binaannya untuk mengikuti pameran di penghujung tahun 2020/ist.

Denpasar - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Bali Putri Suastini Koster mendorong para pelaku UMKM agar mampu mengasilkan produk yang dapat menangkat branding Bali.

Putri terus melakukan upaya untuk membangkitkan kembali sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang terpuruk di masa pandemi Covid-19.

Menggandeng PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali dan Balimall, Dekranasda Bali memberi kesempatan UMKM binaannya untuk mengikuti pameran di penghujung tahun 2020.

Pameran dijadwalkan berlangsung selama sebulan penuh mulai tanggal 4 hingga 31 Desember 2020 di Areal Taman Budaya Provinsi Bali, Jalan Nusa Indah Denpasar.

Guna mematangkan rencana tersebut, Ny. Putri Koster didampingi Kadis Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Wayan Jarta mengumpulkan peserta pameran di Gedung Kertha Sabha, Denpasar, Senin (23/11/2020).

Putri menyampaikan, kegiatan digelar untuk mengisi momentum akhir tahun juga memperkenalkan produk unggulan yang dihasilkan pelaku UMKM yang sekian lama harus berdiam diri di rumah.

Terkait kegiatan pameran, ia menekankan sejumlah hal yang mesti diindahkan oleh para peserta pameran. Menurutnya, pameran dapat dijadikan sebagai ajang berproses bagi pelaku UMKM.

“Berpamaren itu, orientasi kita bukan semata barang yang dipajang harus terjual. Yang lebih penting dari itu, melalui kegiatan ini pelaku UMKM dapat memamerkan produk mereka kepada pengunjung sehingga makin dikenal luas,” jelasnya.

Pihaknya mendorong pelaku UMKM untuk menghasilkan produk yang mengangkat branding Bali. Dengan kata lain, setiap pelaku usaha diminta berlomba-lomba memberi sentuhan khas pada produk mereka agar mudah dikenal oleh masyarakat.

Saat berpameran, pelaku UMKM diingatkan agar menawarkan harga yang sama untuk sebuah produk yang dipajang, tanpa melihat-lihat siapa pembelinya.

“Memberi harga jangan lihat penampilan orang, baru tahu kalau yang datang istri pejabat, langsung harga dinaikkan berlipat-lipat,” ujarnya sembari berpesan agar peserta pameran mencari untung dalam batas kewajaran.

Jangan sampai, muncul anggapan masyarakat kalau pameran identik dengan harga jual produk yang lebih mahal. Sebaliknya, ujar Putri Koster, para peserta bisa memberi harga promo saat pameran.

“Jangan ada persaingan yang tak sehat selama pameran berlangsung, harus guyub. Jangan pula terlalu agresif kepada pengunjung, nanti malah membuat mereka enggan mendekati stand,” pesannya.

Pada bagian lain, ibu dua putri ini juga mendorong UMKM Bali agar lebih mandiri, cerdas, kreatif, inovatif dan tak mudah mengeluh.

Masih dalam arahannya, perempuan yang piawai membaca puisi ini kembali mengingatkan tanggung jawab pelestarian produk kerajinan lokal seperti tenun. Ia pun mengutarakan kegalauan atas maraknya produksi kain bordir yang meniru motif songket.

Jika pelaku UMKM tenun ikut terbawa arus dan lebih dominan memasarkan kain jenis ini, menurutnya itu sama saja bunuh diri.

Ia menggugah rasa tanggung jawab seluruh komponen dalam upaya pelestarian kain songket yang dibuat secara tradisional dengan alat cagcag. Sebab jika sampai punah, menurutnya akan sangat sulit dan butuh waktu panjang untuk mengembalikannya.

Dia mencontohkan keberadaan tenun rangrang khas Nusa Panida yang kini merana. Ibarat sosok seorang gadis, rangrang pernah begitu menggoda hingga dibawa ke kota untuk dipoles.

"Motif rangrang diproduksi secara besar-besaran hingga pada titik tertentu pasar jenuh dan tak ada lagi yang berminat. “Kini, rangrang ibarat gadis yang terluka,” ujarnya puitis.

Belajar dari kasus kain rangrang, Putri Koster tak ingin hal serupa terjadi pada songket.

Berangkat dari kegelisahannya itu, Putri Koster yang saat ini juga menjabat sebagai Manggala Utama Paiketan Krama Istri (PAKIS) Bali menyampaikan kemungkinan penggunaan tenun khas masing-masing daerah diatur dalam pararem desa adat.

Ia bukan bermaksud membatasi kreativitas bordir, namun akan lebih baik jika penggunaannya diatur. “Kain bordir motif songket bisa untuk baju, kalau untuk kamen tetap harus yang hasil tenun,” pintanya.

Kadisperindag Bali Wayan Jarta menyampaikan bahwa pemeran di penghujung tahun ini akan digelar dengan pola hybrid, perpaduan offline dan online.

Pameran sebulan penuh itu akan dilaksanakan dengan dua shift masing-masing dua minggu. Pameran diikuti oleh 83 peserta yang terdiri dari pelaku UMKM produk sandang seperti tenun, fashion dan kuliner.

Jarta menambahkan, syarat utama pameran ini adalah produk yang dipamerkan adalah produk lokal Bali.

Pihak panitia hanya menyiapkan tempat, penataan ruang display diserahkan sepenuhnya pada para peserta. Pameran kali ini akan menerapkan protokol kesehatan yang sangat ketat karena digelar di tengah pandemi Covid-19.(rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi