Belajar dari Laku Hidup Masyarakat Adat Demi Kelestarian Bumi

Sabtu, 21 November 2020 : 22.38
Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari Gelar Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari di Gianyar Bali/ist

Gianyar - Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari mengajak semua pihak agar berkaca dari laku hidup masyarakat adat dan melihat ke depan demi mengubah laku hidup bersama-sama, demi melestarikan dan menjaga serta memuliakan peradaban Indonesia.

Hal itu terungkap saat digelarnya“Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari”, sebuah event kolaborasi Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari secara resmi digelar di venue Yayasan Bali Purnati, Gianyar, Bali, Sabtu (21/11/2020).

Kegiatan didukung Kementerian Pendidikan dan KebudayaanRepublik Indonesia melalui program Fasilitasi Bidang Kebudayaan 2020 ini mengusung tema “Berakar Pada Tradisi dan Budaya, Belajar DariMasyarakat Adat” untuk menerapkan Laku Hidup Lestari yang lebih dikenaldengan istilah Sustainable Lifestyle.

Event yang berlangsung selama dua hari mulai 21-22 November 2020 ini dipantik oleh kepedulian terhadap bumi sebagai rumah kita semua yang terustergerus akibat berbagai aktivitas manusia.

Tak hanya meninggalkan jejak karbon yang besar, gaya hidup yang tidak sustainable juga mengakibatkanpeningkatan suhu bumi, hilangnya hutan, mengakibatkan kelangkaan air bersih, kepunahan spesies hewan, ikan dan biota laut.

Padahal, semua itu adalah sumber daya alam yang ketersediaannya semakin terbatas.

Merdi Sihombing selaku Founder Yayasan Merdi Sihombing menyatakan, kegiatan ini bertujuan untuk memberikan referensi bagi masyarakat umum agar dapat hidup lebih baikdengan alam, tanpa merusak alam sekitar.

"Padahal, kerusakan bumi sebagian besar berasal dari aktivitas manusia karena bergantinya gayahidup dari ‘needs’ menjadi ‘wants’,” kata Merdi Sihombing yang juga pegiat sustainable fashion pada pembukaan “Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari”.

Kegiatan ini, bertujuan untuk memberikan referensi bagi masyarakat umum agar dapat hidup lebih baikdengan alam, tanpa merusak alam sekitar kita.

Kerusakan bumi masih menjadi topik pembicaraan di kalangan tertentu saja. Belum banyak yang sadar dan menyepakati sebuah tindakan dan cara hidup yang berkelanjutan agar bumi lestari.

Sejatinya, manusia sebagai penghuni bumi dapat melakukan berbagai langkah kecil dalam gaya hidup sehari-hari untuk tetap menjaga kelestarian Bumi.

Mulai hidup dengan sadar, kurangi konsumsi yangberlebihan, dan aktivitas yang meninggalkan jejak karbon, serta perbanyaksebuah tindakan memberi kepada alam.

Hidup dengan prinsip“sustainable” membuat keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan alam beserta isinya. Apa yang diperbuat sekarang akan berdampak pada hari esok.

Perubahan ini dilakukan demi menyelamatkan bumi untuk kehidupan generasi selanjutnya.

Senada dengan Merdi, Ketua Yayasan Losari, Restu Imansari Kusumaningrum berharap acara “Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari” dapat menjadi medium bagi masyarakat luas untuk belajar tentang lakuhidup lestari dari kearifan lokal dan budaya.

"Dalam keadaan sulit sekarang ini, semua harus berani mengatakan dari mana asal-usul kita dan tetap mengakar pada kebudayaan kita sendiri," ucapnya.

Acara ini didasari kesadaran Yayasan Merdi Sihombing dan Yayasan Losari, untuk berkaca dari laku hidup masyarakat adat dan melihat ke depan demi mengubah laku hidup kita bersama-sama, demi melestarikan dan menjaga, serta memuliakan peradaban Indonesia.

"Harapan kami lewat acara ini, setidaknya kita peduli dan mau belajar dari kearifan dan laku hidup yang diamalkan masyarakat adat sejak zaman dahulu," tuturnya.

Semoga audiens yang hadir adalah orang-orang yang sudi mendengarkan dengan rendah hati bahwa kehidupan itu harus diubah dan harus cepatmengambil tindakan.”

“Forum Bincang dan Laku Hidup Lestari” yang diadakan selama dua hari ini akan menampilkan berbagai aktivitas seperti diskusi, lokakarya dan pameran, serta pemutaran film dokumenter.

Para pegiat Laku Hidup Lestari seperti Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Suzy Hutomo (Founder Sustainable Suzy, Climate Reality Leader)dan Komang Sri Mahayuni (IDEP Foundation) akan tampil dalam forum diskusi di hari pertama.

Kegiatan tanggal 21 November 2020 juga akandiramaikan dengan pemutaran film dokumenter dari AMAN, film “Tabob” karya Brian Rayanki, dan film “Sacred and Secret” karya Basil Gelpke yang terinspirasi buku berjudul sama karya Gill Marais.

Saat hari kedua, diisi diskusi menghadirkan pembicara Andar Manik dan Yoyo Yogasmana (Kasepuhan Ciptagelar), I Wayan Sudarsana (Masyarakat Adat Bali Aga), dan Putu Ardana (Tokoh Adat, Pemilik Don Biyu dan Blue Tamblingan Coffee).

Selain itu, ada lokakarya pembuatan sabun organik oleh Sito Kosmetik, Pencelupan Warna Merah dengan pewarna alam oleh Agus Haerudin dari Balai Besar Kerajinan dan Batik. Pameran wastra nusantara menggelar karya dari Yayasan Merdi Sihombing, Yayasan Losari, Dekranasda

Kabupaten Dairi, Kelompok Tentun Tanekavate, Alor, NTT (CSR Pegadaian), Tenun Gringsing dari Masyarakat Adat Bali Aga dan anyaman purun yangdidukung Badan Restorasi Gambut, Tetes ASA, serta Tenun Gringsing dari Masyarakat Adat Bali Aga. (rhm)

Bagikan Artikel

Rekomendasi